KITA ADA BUKAN UNTUK MENGHAKIMI, TETAPI MENGASIHI

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.

Suatu seorang raja dari sebuah negeri yang sangat makmur memerintahkan dua tim elitnya untuk mencari dua barang: yang paling berbahaya dan paling bermanfaat di dunia. Selang tiga tahun kemudian, dua tim tersebut kembali dan memberikan laporan.

(Baca juga: BERILAH RUANG KEPADA ORANG LAIN UNTUK BERUBAH DAN BERTUMBUH)

Tim pertama mengatakan, “Kami telah menemukan yang raja inginkan.” “Sebutkan apa barang yang paling berbahaya di dunia,” sahut sang raja. “Lidah, tuanku,” jawab kepala tim pertama sambil memperlihatkan lidah seseorang yang dipotongnya.

Kemudian, pasukan kedua bersiap memberikan laporannya, “Kami juga telah menemukan barang paling bermanfaat di dunia ini.” “Apa itu?” tanya sang raja. “Lidah, tuanku raja,” sahut kepala pasukan kedua sambil memperlihatkan lidah seseorang yang dipotongnya.

Lidah kita, atau dengan kata lain, apa yang diucapkan oleh lidah kita, yaitu perkataan kita, dapat menjadi hal yang paling menghancurkan di dunia ini, sekaligus dapat menjadi hal yang paling bermanfaat untuk membangun kehidupan di dunia ini. Yang saya maksud dengan kehidupan di dunia, bukan hanya kehidupan orang lain, tetapi juga kehidupan kita pribadi.

Kita adalah nahkodanya. Kita membuat keputusan setiap hari mau melakukan apa dengan lidah kita. Apakah kita gunakan untuk mengucapkan berkat, atau mengucapkan kutuk? Apakah kita gunakan untuk menghakimi, atau mengucapkan dukungan kepada seseorang?

(Baca juga: FIRMAN TUHAN MEMBERI KITA HIKMAT DAN MENUNTUN KITA)

Cara termudah menyatakan kasih adalah melalui perkataan kita, tidak melulu melalui pemberian. Perhatikan ucapan kita ketika menegur seseorang atau menasehati seseorang. Kita ada untuk mengasihi, bukan untuk menghakimi. (penulis:@mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

HARAPKAN YANG TERBAIK, UCAPKAN YANG TERBAIK

Bahan renungan:

Mazmur 71:5 Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.

Setiap orang pasti ingin yang terbaik terjadi di dalam hidupnya. Saya belum pernah bertemu dengan orang yang mengharapkan hal buruk terjadi pada dirinya. Namun, saya menemukan sebuah kejanggalan di mana banyak orang yang mengharapkan hal terbaik terjadi, tetapi tidak mau mengucapkan yang terbaik itu. Jika Anda mengharapkan yang terbaik, seharusnya Anda mengucapkan yang terbaik.

(Baca juga: TEMPAT TERAMAN DI DUNIA)

Saya percaya ucapan kita adalah buah dari apa yang kita percayai.

Saya berikan contoh. Misalnya, suatu saat Tommy diberhentikan dari tempatnya bekerja. Saya percaya yang Tommy inginkan adalah mendapatkan pekerjaan baru, dengan gaji yang jauh lebih baik. Namun pada prakteknya, ketika diberhentikan dari pekerjaan, Tommy mengatakan hal-hal yang buruk kepada dirinya, seperti, “Mati deh gue, mau cari kerja di mana lagi,” “Aduh, kalau nggak segera dapat pekerjaan, bisa tidur di pinggir jalan, nih” atau “Wah, yang S2 saja susah cari pekerjaan, apalagi gue.”

Menurut Anda, apakah Tommy akan mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik jika mengucapkan hal-hal demikian?

Teman, kita telah belajar bahwa pengharapan kita di dalam Kristus tidak pernah sia-sia. Kristus memberikan janji masa depan yang indah dan kehidupan yang penuh kemenangan bagi kita. Apakah kita mengharapkan hal-hal yang luar biasa terjadi? Jika IYA, mulailah mengucapkan janji-janji Tuhan yang luar biasa itu, bukan hal-hal yang buruk

(Baca juga: TUHAN TIDAK MENUNTUT KITA UNTUK JADI ORANG YANG SEMPURNA)

Mari gunakan mulut kita untuk mengucapkan berkat, bukan ketakutan ataupun kekuatiran yang kita rasakan. Saya tidak memungkiri, ketika masalah datang, mungkin saja ada rasa takut dan kuatir yang muncul, tetapi untuk apa kita mendeklarasikan ketakutan dan kekuatiran? Bukankah jauh lebih baik kita mendeklarasikan IMAN kita? (penulis:@mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

UCAPAN KITA MENENTUKAN MASA DEPAN KITA

Bahan renungan:

Amsal 18:7* Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya, 21* Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Teman, ucapan kita mengenai diri kita sangat menentukan masa depan kita. Jika kita mengatakan, “Saya ini bodoh,” “Saya ini terlihat sudah tua,” “Saya sudah tidak sanggup lagi melakukan hal itu,” jangan heran jika hal-hal tersebut datang ke dalam hidup kita.

(Baca juga: SAAT SITUASI TIDAK SEPERTI YANG KITA HARAPKAN)

Perkataan kita ibarat sebuah undangan. Apa hal yang ingin kita undang masuk ke dalam hidup kita. Kita dapat mengundang hal-hal yang negatif atau kita juga dapat mengundang berkat atau mukjizat. Semua itu hanya sejauh apa yang kita ucapkan.

Saat kita mengatakan, “Tubuh saya sehat,” “Saya adalah orang yang diberkati,” “Saya kuat,” maka kesehatan, berkat, dan kekuatan yang akan datang kepada kita. Ucapkan apa yang kita harapkan terjadi di dalam hidup kita.

Percaya atau tidak, sebelum seseorang menjadi tua, keriput, dan sakit-sakitan, dia mengucapkan hal-hal seperti, “Kulit saya kusam,” “Saya sudah tidak cantik lagi,” “Wah, untuk angkat yang berat biar yang muda-muda saja,” dan lain sebagainya.

(Baca juga: IMAN ANDA ADALAH BARANG PALING MAHAL DI DUNIA)

Semua hal buruk terjadi dalam hidup kita tidak terjadi begitu saja, semua selalu didahului oleh kata-kata negatif. Begitu juga semua yang baik. Sadarilah, bahwa kata-kata kita memiliki kuasa. Lidah kita menentukan apakah kita ingin hidup dalam berkat yang Tuhan telah sediakan, atau di dalam kutuk yang kita ciptakan sendiri. (penulis: @mistermuryadi)

MILIKI HATI DAN LIDAH SEORANG MURID

Bahan renungan:

Yesaya 50:4 Tuhan Allah telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Hati seorang murid selalu mau terus belajar. Saya yakin, kita tidak pernah sampai di satu titik dapat mengetahui dan menguasai semua hal. Selama kita hidup, selalu ada hal yang baru yang dapat kita pelajari. Itu sebabnya, penting bagi kita untuk memiliki kerendahan hati, karena kerendahan hati adalah modal utama seorang murid untuk belajar.

(Baca juga: BERAKAR DAN BERDASAR DI DALAM KASIH)

Dengan kerendahan hati, kita bersedia mendengarkan pendapat orang lain dan menghargai cara pikir orang lain yang berbeda dengan kita. Dengan kerendahan hati, kita menyadari bahwa kita tidak selalu benar. Dengan kerendahan hati, barulah kita dapat mempelajari sesuatu yang baru dan berharga.

Lidah seorang murid hanya mengucapkan hal-hal yang diajarkan oleh gurunya. Jika Guru Agung kita mengajarkan kasih, pengharapan, dan pengampunan, sebagai murid-murid-Nya semestinya lidah kita memperkatakan kasih, pengharapan, dan pengampunan, sebagaimana yang diajarkan Sang Guru kepada kita.

(Baca juga: YESUS ADALAH HAL TERBAIK YANG DAPAT KITA BERIKAN BAGI KELUARGA KITA)

Lidah kita merupakan alat yang sangat luar biasa berpengaruh. Dengan lidah kita dapat membangun sebuah kerajaan, juga dengan lidah yang sama kita dapat meruntuhkan sebuah kerajaan. Kenakanlah lidah murid Kristus, sehingga melalui ucapan kita, Kerajaan Sorga dapat ditegakkan dan disiarkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Perhatikan kata “MENERIMA” yang saya besarkan pada ayat di atas. Ada perbedaan yang besar antara belum menerima sesuatu karena barangnya belum diberikan dan belum menerima sesuatu karena “salah alamat”.

(Baca juga: TERNYATA BUKAN TUHAN YANG MENUNDA JALAN KELUAR BAGI HIDUP KITA)

Misalnya saya mengirimkan sebuah buku ke rumah Anda, tetapi kurir mengirim ke alamat yang salah. Bukunya sudah saya kirim lewat pos, tetapi Anda belum menerima buku tersebut. Anda belum menerima buku itu bukan karena saya belum mengirimnya, melainkan karena si kurir salah alamat.

Melalui Firman Tuhan, kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah menahan kebaikan bagi anak-anak kesayangan-Nya (Mazmur 84:11). Lukas 11:11 juga mencatat, “Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?” Kitab Efesus 1:3 dengan jelas menyatakan bahwa Tuhan telah mengaruniakan segala berkat rohani kepada kita. Meski ayat-ayat di atas menyatakan bahwa Tuhan sudah mengirimkan berkat-Nya kepada kita, banyak di antara kita yang belum menerima berkat tersebut.

Kita belum menerima berkat-berkat itu bukan karena Tuhan belum memberikannya kepada kita. Menurut ayat renungan kita, kita belum menerima karena kita bimbang. Atau dengan kata lain, mendua hati. Mendua hati dapat diartikan bimbang atau ragu. Saat kita bimbang, otomatis kita “menutup pintu” untuk MENERIMA berkat Tuhan.

Saya berikan contoh. Anggaplah kita sedang sakit, lalu kita membaca 1 Petrus 2:24 bahwa oleh bilur-bilur darah Yesus kita TELAH disembuhkan, dan kita memercayainya. Namun, setelah beberapa saat, ketika sakit tersebut mulai terasa lagi, kita mulai mengeluh dan mengatakan, “Saya masih sakit, bagaimana mungkin Firman Tuhan katakan saya TELAH disembuhkan?”

Itulah maksud “mendua hati”. Kita mulai membandingkan kebenaran Firman Tuhan dengan fakta yang kita lihat atau rasakan. Pikiran kita dan iman kita tidak sepakat. Firman Tuhan mengatakan orang yang mendua hati tidak akan menerima dari Tuhan.

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan? Ketika kita memercayai kebenaran Firman Tuhan, jangan biarkan mulut kita mengucapkan keraguan, apalagi mempertanyakan janji Tuhan. Sebaliknya, ucapkanlah janji Tuhan dan hal-hal positif yang mendukung apa yang kita percayai, sebagai bukti bahwa kita percaya terhadap janji tersebut.

(Baca juga: “ANDA PENGANUT HYPER-GRACE? BUKAN, SAYA PENGANUT HYPER-JESUS”)

Sekali lagi, orang tersebut belum menerima bukan karena Tuhan belum memberikannya, karena faktanya Tuhan telah memberikan segala berkat kepada kita melalui Yesus. Orang tersebut tidak menerima karena tidak percaya atau mendua hati terhadap janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PASTIKAN KATA-KATA ANDA MENGGAMBARKAN HARAPAN ANDA

Bahan renungan:

Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

Ketika Tuhan berfirman, segala sesuatu di dunia ini menjadi ada. Dunia diciptakan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Tuhan, yang kita kenal dengan Firman Tuhan. Tuhan menggunakan kata-kata seperti seorang pelukis menggunakan kuasnya.

(Baca juga: DI JALAN TUHAN ADA KEPASTIAN DAN JAMINAN)

Itu adalah sebuah kebenaran yang sangat luar biasa, mengingat tidak banyak orang menganggap kata-kata yang diucapkannya penting dan berkuasa. Tidak tahu bagaimana dengan Anda, tetapi ketika saya menulis renungan ini, saya menyadari bahwa saya perlu menghentikan perkataan saya yang sia-sia dan mulai mengucapkan perkataan yang membangun dan memberkati.

Satu lagi fakta mengenai kata-kata. Yesus menenangkan badai dengan kata-kata, Yesus mengusir setan dengan kata-kata, dan Yesus membangkitkan Lazarus dari kematian dengan kata-kata. Saya percaya, kata-kata Firman Tuhan yang Anda ucapkan dapat menghasilkan kuasa yang sama dengan Yesus.

(Baca juga: UANG ADALAH TUAN YANG BURUK, TETAPI HAMBA YANG BAIK)

Hari ini ijinkan saya menantang Anda. Kehidupan seperti apa yang Anda harapkan terjadi? Mungkin ada di antara Anda yang mengharapkan kesembuhan, kesehatan, berkat, terobosan dalam bisnis atau pekerjaan, pasangan hidup, kelepasan dari suatu kecanduan, atau pemulihan keluarga. Jika demikian, mulailah selektif memilih kata-kata yang hendak Anda ucapkan. Pastikan kata-kata tersebut adalah kata-kata yang menggambarkan harapan-harapan Anda di masa mendatang. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

TIDAK ADA YANG DAPAT MENGHENTIKAN BERKAT TUHAN, KECUALI ANDA

Bahan renungan:

1 Petrus 3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.”

Tahukah Anda bahwa Tuhan telah memberkati Anda? Bapa Sorgawi telah memberikan segala sesuatu yang Anda butuhkan, seperti berkat, kelimpahan, mukjizat, kesembuhan, kesehatan, panjang umur, masa depan yang indah, dan kuasa, ketika Dia mengaruniakan Yesus 2000 tahun lalu.

(Baca juga: “SELAIN ENGKAU TIDAK ADA YANG KUINGINI DI BUMI”)

Yesus adalah bukti bahwa tidak ada satu pun hal baik yang Bapa Sorgawi tidak berikan kepada kita. Dia telah mengaruniakan segalanya. Dia berikan segala berkat tersebut bukan karena Anda baik, tetapi karena Dia sangat mengasihi Anda. Karena Dia ingin Anda menikmati segala sesuatu yang terbaik di dunia ini.

Firman Tuhan dalam Bilangan 23:19 mengatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Itu artinya, segala sesuatu yang sudah Dia berikan, tidak pernah Dia tarik kembali. Dengan kata lain, sekali Tuhan memberkati Anda, selamanya berkat itu menjadi bagian Anda. Bahkan, setan tidak dapat menghentikan hal tersebut.

Satu-satu yang dapat menghentikan berkat Tuhan adalah diri Anda sendiri.

Saat dokter mengatakan, “Anda terserang kanker,” dan kemudian Anda mengatakan, “Saya pasti mati. Dokter sudah memvonis dan mengatakan penyakit ini tidak tersembuhkan,” pada dasarnya, Anda sedang menaruh kepercayaan terhadap kanker, bukan kepada janji Tuhan. Dengan kata lain, cara berpikir dan ucapan negatif seperti itu akan menjauhkan Anda dari berkat kesembuhan yang Tuhan telah anugerahkan. Anda mengutuki diri Anda sendiri melalui ucapan dan pikiran yang negatif.

Ulangan 7 mengatakan bahwa Tuhan memberkati kita melebihi bangsa yang tidak percaya kepada-Nya dan Dia menjauhkan kita dari segala penyakit dan kecelakaan. Markus 16:18 mengatakan bahwa orang percaya telah diberikan kuasa atas sakit penyakit. Anda tidak akan menderita karena sakit jika memercayai kebenaran Firman Tuhan, karena kesembuhan dan kesehatan adalah bagian Anda di dalam Kristus.

(Baca juga: JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK HIDUP BERKELIMPAHAN)

Nikmatilah berkat Tuhan atas hidup Anda. Mulailah dengan cara mengucapkan berkat kepada diri Anda, bisnis, pekerjaan, anak-anak Anda, pasangan Anda, atau masa depan Anda. Anda akan melihat perubahan besar seiring Anda melakukannya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.