ANDA DIBERKATI DI MANA PUN ANDA BERADA

Bahan renungan:

Ulangan 28:3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.

Ayat di atas adalah janji Tuhan untuk setiap orang percaya. Anda tidak hanya diberkati ketika Anda sedang mengerjakan hal-hal yang besar, membuka toko di tempat yang strategis, atau menjual produk yang sedang tren, Anda diberkati di mana pun Anda berada dan apa pun yang Anda kerjakan.

(Baca juga: ANDA ADALAH MUKJIZAT YANG TUHAN KIRIM UNTUK KELUARGA ANDA)

Firman Tuhan mengatakan dalam Mazmur 23:6, “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku …” dan Mazmur 1:3 mengatakan, ” … apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Ya, saat Anda menjadikan Tuhan sebagai gembala agung Anda, berkatlah yang mengejar Anda. Tidak peduli Anda bekerja di kota atau pun di ladang, bekerja sebagai supir atau pun sebagai pebisnis, berkat akan mengejar Anda.

Jika Anda menyadari kebenaran di atas, hati Anda akan tenang, karena Anda tahu bahwa ketika Anda mengikut Yesus, bukan kutuk, kemiskinan, atau kesialan yang mengejar Anda, melainkan berkat, anugerah, dan kelimpahan.

(Baca juga: BERHENTILAH MENGUTUKI DIRI ANDA SENDIRI)

Mungkin saja usaha, bisnis, atau pekerjaan Anda sedang menghadapi masalah atau tantangan, tetapi Anda adalah pemenangnya. Seperti saya katakan dalam renungan beberapa minggu lalu, bahwa masalah atau tantangan bukan indikasi untuk menyerah atau mundur, melainkan untuk belajar lebih banyak, supaya Anda dapat mengatasi masalah atau tantangan tersebut, karena Tuhan janjikan Anda kemenangan, bukan kekalahan. (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?

Bahan renungan:

Mazmur 130:3 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Beberapa waktu lalu ada beberapa hamba Tuhan yang mengatakan melalui social media bahwa mengharapkan tuaian saat menabur itu salah, karena itu merupakan praktik investasi, bukan memberi.

Mari kita cek kebenarannya sebelum kita memutuskan mana yang sesuai Firman Tuhan, mana yang tidak.

(Baca juga: TUHAN INGIN “MENGENYANGKAN” KITA DENGAN KEBAIKAN-NYA (MAZMUR 91:16))

Dalam 2 Korintus 9:6 Rasul Paulus mengatakan katakan jika kita menabur banyak, kita akan menuai banyak. Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai menabur, tetapi juga menuai. Semakin banyak kita menabur, semakin besar tuaian yang dapat kita harapkan.

Jika Tuhan menjanjikan berkat bagi kita, sungguh tidak salah jika kita mengharapkan berkat Tuhan tersebut. Jika Tuhan ingin kita menikmati berkat-Nya, kenapa menolaknya?

“Oh, tetapi ayat di atas berbicara mengenai berharap kepada Tuhan, bukan kepada berkat-Nya?” Tentu saja kita tidak dapat mengharapkan berkat Tuhan kalau kita tidak percaya kepada Tuhan.

Ibrani 11:1 mengatakan iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Artinya, kita perlu menaruh pengharapan kita atas dasar iman, atau dengan kata lain, kebenaran Firman Kristus. Di mana ada iman, di sana tumbuh pengharapan.

Saya berikan contoh. Kita tidak dapat mengharapkan berkelimpahan melalui korupsi atau mencuri, karena dasar dari hal tersebut bukan iman kepada Yesus. Namun kita dapat mengharapkan tuaian saat menabur, karena dasar hal tersebut adalah kebenaran Firman Tuhan, seperti yang menjadi ayat renungan kita hari ini.

Satu contoh lagi. Anda tentu ingat kisah si wanita yang mengalami pendarahan 12 tahun. Ketika wanita percaya kepada Yesus dan mulai mendekat kepada Yesus untuk menjamah jumbai jubah-Nya, hal yang berikutnya muncul adalah pengharapan bahwa dia akan sembuh (Matius 9:21).

Apakah lantas salah jika si wanita pendarahan tersebut mengharapkan kesembuhan? Tentu saja tidak, karena dasar pengharapannya adalah percaya kepada Yesus.

(Baca juga: TUHAN MELEPASKAN KITA DARI JERAT (MAZMUR 91:3-4))

Jadi, tidak salah jika kita berharap tuaian besar saat menabur. Tuhan sendiri yang menjanjikannya untuk kita. Justru adalah kesalahan ketika kita menabur tanpa mengharapkan tuaian, karena itu sama artinya kita memberi tanpa beriman kepada janji Tuhan. Roma 14:23 mengatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. (penulis: @mistermuryadi)

YESUS MEMILIKI 1000 JALAN KELUAR UNTUK 1 MASALAH KITA

Bahan renungan:

Lukas 6:18 Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan.

Yesus adalah sumber jawaban untuk semua permasalahan kita. Di mana Yesus berada, ke sanalah kesembuhan, berkat, kesehatan, umur panjang, mukjizat, dan kuasa mengalir. Dan hari ini, bagi setiap kita yang percaya kepada Yesus, Yesus tinggal di dalam hati kita. Yang artinya, ke dalam hidup kitalah mengalir semua yang baik. Haleluya!

(Baca juga: MENEGUR DAN MENGAMPUNI ADALAH TANDA MENGASIHI)

Itu alasan saya ingin mengatakan bahwa tidak ada masalah yang pantas untuk mendapatkan air mata kita. Tidak ada persoalan di hidup ini yang pantas untuk membuat kita stres dan depresi. Karena yang tinggal di dalam kita jauh lebih besar dari segala masalah tersebut. Karena kita memiliki Yesus yang merupakan Sang Sumber Jawaban dan Sumber Jalan Keluar.

Masalahnya adalah respons kita tidak seperti kebanyakan orang sakit yang diceritakan dalam renungan di atas. Ketika dalam masalah, orang-orang dalam kisah di atas memilih untuk datang kepada Yesus dan duduk diam mendengarkan Yesus, sedangkan kebanyakan kita, sekalipun Yesus sudah tinggal di dalam hati kita, kita memilih mendengarkan pendapat orang lain, percaya kepada orang lain, dan mengikuti perintah orang lain. Akibatnya, masalah kita bertambah buruk, kita semakin stres dan depresi.

(Baca juga: SEPERTI GEMBALA YANG MEMELIHARA DOMBA-DOMBANYA)

Alkitab mencatat dengan jelas di atas bahwa setiap mereka yang datang dan duduk diam mendengarkan Yesus beroleh jawaban dan jalan keluar. Saya percaya Yesus memiliki 1000 jalan keluar untuk satu masalah kita. Ketika kita memutuskan untuk memberikan respons yang sama dengan orang-orang dalam kisah di atas, kita pasti menerima hasil yang sama. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

DARAH YESUS ADALAH MATERAI PERJANJIAN YANG BARU

Bahan renungan:

Kejadian 15:7-9 Lagi firman TUHAN kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.” Kata Abram: “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Firman TUHAN kepadanya: “Ambillah bagi-Ku seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur dan seekor anak burung merpati.”

Suatu hari Tuhan memberikan janji kepada Abram bahwa Dia akan membawa Abram ke Tanah Perjanjian. Sesaat setelah mendengar janji itu, Abram bertanya, “Bagaimanakah saya dapat mengetahui bahwa saya akan mendapatkannya?” Apakah pertanyaan ini terdengar familiar di telinga Anda?

(Baca juga: IMAN TOMAS: MENGENAL YESUS, TETAPI TIDAK MEMPERCAYAI-NYA)

Waktu Abram mengajukan pertanyaan tersebut kepada Tuhan, Tuhan menyuruhnya mengambil seekor lembu betina berumur tiga tahun, seekor kambing betina berumur tiga tahun, seekor domba jantan berumur tiga tahun, seekor burung tekukur, dan seekor anak burung merpati. Itu tanda Tuhan sungguh-sungguh ingin mengikat perjanjian dengan Abram.

Perjanjian sama seperti kontrak, dibutuhkan persetujuan dua dari pihak, hanya saja tanpa batas waktu. Perjanjian bersifat permanen. Satu-satunya cara memutuskan perjanjian adalah kematian. Contohnya pernikahan. Pernikahan adalah perjanjian sampai maut memisahkan.

Di zaman Perjanjian Lama, ketika dua pihak membuat suatu perjanjian, mereka membawa seekor domba atau kambing jantan, lalu membelah hewan tersebut menjadi dua bagian. Kemudian kedua orang tersebut berjalan dari arah yang berbeda di antara kedua potongan tersebut, saling mendekati satu sama lain, saling bertatapan. Ritual itu adalah simbol bahwa apa pun yang menjadi milik orang pertama akan menjadi milik rekannya, begitu juga sebaliknya. Dalam perjanjian itu tentu saja yang paling diuntungkan adalah pihak yang memiliki lebih sedikit.

(Baca juga: DUNIA SEDANG MENAWARKAN “BUAH TERLARANG”. HATI-HATI!)

Teman, Tuhan telah membuat perjanjian yang baru dengan kita melalui Yesus. Darah Yesus merupakan materai persetujuan Tuhan di dalam perjanjian tersebut. Kita adalah pihak yang memiliki lebih sedikit, sedangkan Tuhan pemilik semesta. Dalam perjanjian tersebut, kitalah yang paling diuntungkan, karena apa yang Dia miliki menjadi bagian kita. Melalui Yesus, kesehatan, berkat, pemulihan, kelimpahan, umur panjang, keberhasilan, dan masa depan yang indah adalah bagian Anda. (penulis: @mistermuryadi)

CARA MENGECEK KONDISI HATI MELALUI PENGELUARAN KITA

Bahan renungan:

Matius 6:21 Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.

Kadang, di depan umum, banyak orang mudah berkata, “Saya mencintai Tuhan. Saya mengasihi Yesus.” Namun, apakah benar demikian? Firman Tuhan hari ini memberitahukan kepada kita salah satu cara untuk mendeteksi apakah benar hati kita tertuju kepada Tuhan.

(Baca juga: TUHAN PERCAYA KEPADA ANDA. ITU YANG TERPENTING!)

Firman Tuhan katakan, di mana harta kita berada, di situ juga hati kita berada. Atau dengan kata lain, ke mana paling banyak kita “mengalirkan” uang kita, di sanalah sesungguhnya hati kita berada.

Saya berikan ilustasi kepada Anda. Jika Anda memiliki pendapatan sebesar 5 juta rupiah per bulan dan Anda menghabiskan 3 juta rupiah setiap bulan untuk makan, nonton, dan jalan-jalan, 1 juta rupiah untuk kebutuhan sehari-hari, 700 ribu rupiah untuk tabungan, dan 300 ribu rupiah untuk persembahan, mudah sekali untuk menebaknya bahwa bagi Anda, makan dan jalan-jalan, adalah hal terpenting dibandingkan hal lainnya.

Saya tidak katakan salah untuk menggunakan uang Anda untuk makan, jalan, belanja, atau nonton. Saya percaya Tuhan ingin Anda menikmati berkat yang Dia curahkan untuk Anda. Namun, saya percaya ada yang salah dengan hati kita kalau sampai uang makan, nonton, atau shopping kita lebih besar dari persembahan kita. Beberapa orang yang saya kenal rela mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah untuk sekali makan dan nonton di bioskop, jutaan rupiah untuk jalan-jalan, sementara memberi persembahan hanya dua puluh ribu rupiah dan hampir tidak pernah memberi persepuluhan.

(Baca juga: BAPA SORGAWI TERLANJUR TERGILA-GILA KEPADA ANDA)

Ternyata, ke mana kita paling banyak menghabiskan harta kita menunjukkan fokus hati kita. Ya, sesekali kita perlu merinci pengeluaran, supaya kita tahu di mana hati kita berada selama ini. Jika kita benar mengasihi Tuhan, semestinya harta kita paling banyak mengalir ke hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?

Lima tahun lalu saya pernah membaca sebuah buku yang pada intinya menuliskan bahwa iman kita dapat menggerakkan Tuhan. Ketika kita beriman, dicontohkan dalam buku itu, berdoa semalaman, berpuasa sangat panjang, memuji dan menyembah Tuhan sepanjang hari, hal tersebut akan menggerakkan Tuhan untuk melakukan atau mengabulkan doa dan permohonan kita.

(Baca juga: ARTI UCAPAN “SUDAH SELESAI” DI KAYU SALIB)

Yang si penulis buku tersebut lupakan adalah Tuhan sudah memberikan semua hal yang kita butuhkan, yaitu berkat, mukjizat, kelimpahan, kesembuhan, kesehatan, umur panjang, dan masa depan indah, bersamaan dengan ketika Dia memberikan Yesus di atas kayu salib.

Tidak ada lagi yang dapat Tuhan berikan kepada Anda dan saya. Semua-Nya sudah dianugerahkan kepada Anda, bahkan Anak-Nya sendiri, yang terbaik yang ada di Sorga telah dikaruniakan kepada kita. Tidak ada yang Tuhan pertahankan.

Semua berkat Abraham sudah diberikan. Efesus 1:3 menjamin hal itu, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.” Garis bawahi kata “segala”.

Anda tidak perlu lagi memohon-mohon seolah Tuhan menahan kebaikan dan kemurahan-Nya. Roma 8:32 dengan gamblang telah menuliskan, “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Bukan Tuhan yang perlu digerakkan, kitalah yang perlu percaya, kemudian bertindak. Saya suka sekali mengatakan ini, bahwa mukjizat dalam hidup Anda terjadi secepat Anda mempercayai-Nya. Tuhan tidak pernah menjadi masalah kita. Masalah kita adalah ketidakpercayaan kita terhadap apa yang Tuhan janjikan dan perintahkan.

Pemahaman paling populer mengatakan, saat kita bertindak, barulah Tuhan akan bertindak. Seolah tindakan Tuhan sangat bergantung pada tindakan kita. Beberapa istilah yang pernah saya dengar adalah mengetuk pintu Sorga, menggoncang takhta Allah, dan lain sebagainya. Jelas, hal tersebut salah dan tidak sesuai Firman Tuhan.

Saya berikan ilustrasi. Anggaplah Anda baru memiliki seorang bayi. Apakah Anda mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan bayi Anda, seperti tempat tidur, susu, pakaian, dan kaos kaki, setelah dia lahir? Atau mungkin, Anda menunggu sang bayi meminta dan memohon kepada Anda, lalu baru Anda belikan di supermarket? Saya yakin tidak demikian.

Pasti Anda sudah menyediakan segala sesuatu yang dia butuhkan jauh sebelum dia membutuhkannya. Penyediaan Anda tidak bergantung pada tindakan bayi Anda. Sehingga ketika sang bayi lapar, susu sudah tersedia baginya; ketika dia kedinginan di malam hari, Anda sudah menyiapkan selimut dan pakaian hangat terbaik untuknya. Jika semua orangtua di dunia melakukan hal demikian, terlebih lagi Bapa Sorgawi.

Perhatikan. Tuhan tidak bertindak berdasarkan iman Anda. Dia bertindak atas kehendak-Nya sendiri, karena kasih-Nya yang besar kepada Anda. Iman Anda tidak menggerakan Tuhan, iman Anda menggerakkan Anda untuk bertindak. Banyak orang mengira Tuhan “macet”, sehingga mereka berpikir mereka harus menggerakkan Tuhan supaya memberikan kebangunan rohani, melepaskan kesembuhan dan berkat, dan membuat tanda-tanda ajaib. Di antara Tuhan dan kita, bukan Tuhan yang “macet”.

Ketika kita beriman, atau percaya kepada janji Tuhan, kita pasti bertindak. Kita bertindak karena kita percaya hal tersebut sudah disediakan, sekalipun mata jasmani kita belum melihatnya. Ibrani 11:1 mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Jika demikian, ini berarti kita tidak menabur supaya Tuhan memberkati kita. Justru kita menabur, karena kita percaya Dia sudah terlebih dahulu memberkati kita. Dan, ketika kita menabur, benih kita akan berbuah 30, 60, 100 kali lipat. Itu janji Tuhan. Begitu halnya dengan berdoa. Kita tidak berdoa kesembuhan supaya Tuhan menyembuhkan kita. Kita berdoa kesembuhan karena hati kita percaya bahwa Dia sudah menyediakan kesembuhan itu untuk kita. Juga mengenai keselamatan. Kita pergi menginjil karena kita percaya bahwa Tuhan sudah menganugerahkan keselamatan bagi semua orang.

Ilustasi di atas sama seperti, seseorang memberikan kepada Anda sebuah mobil baru, tetapi Anda perlu mengambilnya di showroom. Mobilnya sudah tersedia di showroom. Secepat Anda mempercayai perkataan orang tersebut, lalu melangkah ke showroom, secepat itulah Anda menerima mobil yang dijanjikan orang tersebut.

Iman adalah bentuk respons kita terhadap segala sesuatu YANG TELAH Yesus lakukan di atas kayu salib 2000 tahun lalu. Iman adalah satu-satunya jalan supaya kita menerima sesuatu yang Tuhan sudah berikan kepada kita 2000 tahun lalu.

Saya bungkus dalam sebuah kesimpulan.

Tuhan terlebih dahulu menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan. Saya menyebut ini sebagai kasih karunia atau anugerah Tuhan. Dia telah memberikan semua berkat rohani itu di dalam Yesus. Tuhan memberikan kasih karunia-Nya yang indah itu tidak berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan kasih-Nya yang besar untuk kita, anak-anak-Nya.

Tuhan sudah memberikan kelimpahan, kesehatan, kesembuhan, kuasa, masa depan indah, berkat, dan segala sesuatu yang kita butuhkan. Namun, untuk menerima semuanya itu, kita perlu beriman, kita perlu percaya kepada-Nya. Ya, hanya itu cara-Nya. Roma 5:2a mengatakan, “Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini.” Perhatikan, bukan karena perbuatan baik kita menerima kasih karunia Tuhan, melainkan karena iman. Dan kemudian, iman kita menghasilkan perbuatan atau tindakan.

“Lalu, apakah artinya saya tidak perlu berbuat baik lagi?”

Seperti saya katakan, perbuatan baik Anda hanyalah buah dari iman Anda. Anda tidak perlu memikirkannya. Saat Anda percaya kepada Tuhan, perbuatan atau tindakan itu akan muncul dengan sendirinya.

Bayangkan Anda menanam sebuah pohon. Selama Anda benar menyiram, memberikan pupuk, dan menyinari dengan matahari yang cukup, Anda tidak perlu memikirkan apakah pohon ini akan berbuah atau tidak, dengan sendirinya pohon itu akan bertumbuh dan berbuah lebat. Begitu juga dengan anak laki-laki Anda. Anda tidak perlu repot memikirkan apakah suatu hari nanti kumisnya akan tumbuh atau tidak. Selama Anda berikan dia makan yang cukup, seiring dia bertumbuh dewasa, kumis itu akan tumbuh dengan sendirinya.

(Baca juga: AYUB (bagian 01) – APAKAH TUHAN BEKERJA SAMA DENGAN IBLIS?)

Bahkan, secara esktrim saya ingin katakan Anda tidak perlu berdoa supaya pohon tersebut berbuah, karena pohon itu akan berbuah dengan sendiri selama akarnya dirawat dan tertanam dengan benar. Begitu juga, Anda tidak perlu berdoa memohon-mohon supaya kumis anak Anda tumbuh. Ketika hati dan pikiran Anda tertanam dan berakar kuat di dalam kebenaran Kristus, ketika Anda percaya, dengan sendiri hidup Anda akan menghasilkan buah perbuatan-perbuatan dan tindakan-tindakan iman yang baik dan mulia; juga kesehatan, berkat, kesembuhan, kelimpahan, mukjizat, umur panjang, dan masa depan yang indah dengan sendirinya akan mengalir dari dalam hidup Anda. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika artikel ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TUHAN INGIN ANDA MENIKMATI YANG TERBAIK

Bahan renungan:

Yesaya 55:2 Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.

Ada sesuatu yang terdengar janggal pada ayat di atas. Dikatakan, “Dengarkanlah Aku, maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.” Apa hubungan antara mendengarkan suara Tuhan dengan makan makanan yang paling lezat?

(Baca juga: ANDA BUKAN LAGI HAMBA, TETAPI ANAK)

Teman, Tuhan senantiasa menyediakan “roti” yang terbaik bagi Anda. Dia ingin Anda menikmati sajian yang paling lezat selama Anda hidup di dunia ini. Dan, semua yang terbaik itu hanya ada di dalam Dia, di dalam rumah Bapa.

Raja Daud pernah berkata di dalam Mazmur 37:25-26, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.” Dengan kata lain, Daud sangat mengerti bahwa Tuhanlah yang memelihara dan menjaga dirinya sepanjang waktu. Daud tahu benar pada saat dia berjalan di dalam Tuhan, dia tidak pernah kekurangan.

(Baca juga: KISAH SI JANDA MISKIN YANG TIDAK TAKUT MISKIN)

Seringkali kita iri dengan apa yang dimiliki orang lain. Lalu, kita mulai berpikir untuk mendapatkan hal-hal tersebut melalui jalan pintas. Teman, buang pikiran tersebut jauh-jauh. Jalan pintas bukanlah jalan terbaik. Jalan seturut Firman Tuhanlah jalan yang terbaik bagi Anda dan saya. Saat kita tinggal di dalam kebenaran-Nya, Dia akan “mengenyangkan” hidup kita. Tidak hanya dalam urusan materi, tetapi juga damai sejahtera, sukacita, dan ketenangan. (penulis: @mistermuryadi)