PEMAHAMAN MEMBERI MENURUT PERJANJIAN BARU

Bahan renungan:

2 Korintus 9:7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Hari ini saya ingin kembali menjelaskan pemahaman memberi persembahan atau persepuluhan menurut Perjanjian Baru.

(Baca juga: ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI)

Selama dibayang-bayangi hukuman dan binatang pelahap, memberi bukanlah sesuatu yang mendatangkan sukacita. Puji Tuhan, di dalam Perjanjian Baru, Tuhan tidak lagi mengutuk atau menghukum kita jika kita tidak memberikan persembahan atau persepuluhan. Karena, semua kutuk yang seharusnya kita tanggung, telah ditanggung oleh Tuhan Yesus 2000 tahun lalu.

Apakah itu artinya tidak masalah jika kita tidak memberi persepuluhan atau persembahan? Sekali lagi perlu saya katakan bahwa Tuhan akan tetap mengasihi kita sekalipun kita tidak memberi persembahan atau pun persepuluhan. Jadi, dari sisi Tuhan sama sekali tidak ada masalah jika kita tidak mau memberi, Dia tidak akan menghukum kita. Hanya saja kita akan kehilangan kesempatan untuk menerima berkat yang Tuhan sediakan jika kita memberi atau menabur.

Pada renungan kemarin saya menjelaskan mengenai arti dari kata benih menurut Bahasa Ibrani. Salah satu artinya adalah untuk menghasilkan lebih banyak benih. Ya, ada berkat pelipatgandaan yang Tuhan janjikan setiap kali kita menabur. Alkitab menjanjikan setiap benih yang kita tabur karena kita percaya dapat menghasilkan 30, 60, bahkan 100 kali lipat.

Memberi juga merupakan kesempatan bagi kita untuk percaya kepada janji pemeliharaan Tuhan. Ketika kita memutuskan untuk tidak memberi atas dasar takut, pada dasarnya kita sedang bersikap seolah kita dapat memelihara hidup kita lebih baik daripada Tuhan memelihara kita.

(Baca juga: JANGAN LEWATKAN KESEMPATAN UNTUK HIDUP BERKELIMPAHAN)

Mari, saya mengajak kita semua untuk memberi kepada Tuhan dengan pemahaman yang benar. Supaya setiap kali memberi, kita tidak lagi digerakkan oleh perasaan takut dihukum atau binatang pelahap, melainkan karena kita percaya kepada janji pelipatgandaan dan pemeliharaan Tuhan. Dengan demikian, kita dapat memberi dengan rela hati dan sukacita. (penulis: @mistermuryadi)

ARTI KATA “BENIH” MENURUT BAHASA IBRANI

Bahan renungan:

Yesaya 30:23-24 Lalu TUHAN akan memberi hujan bagi benih yang baru kamu taburkan di ladangmu, dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah. Pada waktu itu ternakmu akan makan rumput di padang rumput yang luas; sapi-sapi dan keledai-keledai yang mengerjakan tanah akan memakan makanan campuran yang sedap, yang sudah ditampi dan diayak.

Hari ini saya ingin mengupas mengenai arti kata “benih” pada ayat di atas. Benih yang saya bahas di sini berbicara mengenai persembahan dan persepuluhan Anda.

(Baca juga: ANAK TUHAN PASTI MENDENGARKAN SUARA TUHAN)

Kata “benih” berasal dari akar bahasa Ibrani ‘zara’ (baca: zaw-rah’). Kata itu dapat diartikan bibit, benih, mengandung, menabur, untuk dituai, untuk menghasilkan benih lagi, dan berserah.

Arti pertama dari benih yang ingin saya jelaskan adalah untuk dituai dan untuk menghasilkan benih lagi. Jadi, ketika Anda menabur, Anda pasti menuai. Benih yang Anda tabur karena percaya kepada janji Tuhan tidak akan gagal. Yang luar biasa, benih tersebut akan menghasilkan lebih banyak benih lagi. Perhatikan apa yang dikatakan oleh ayat di atas, “… dan dari hasil tanah itu kamu akan makan roti yang lezat dan berlimpah-limpah.”

Arti kedua mengenai benih yang ingin saya bahas adalah berserah. Apa hubungannya antara memberikan persembahan atau persepuluhan dengan berserah? Ternyata, kedua hal tersebut memiliki hubungan yang sangat erat.

Saat Anda memberi atau menabur, pada dasarnya Anda sedang memercayakan kehidupan dan masa depan Anda kepada pemeliharaan dan penjagaan Tuhan. Pada saat Anda memberi persembahan atau persepuluhan, kita bukan hanya memberikan uang, tetapi juga iman percaya Anda kepada Tuhan.

(Baca juga: YUSUF MENJADI PENGUASA ATAS ORANG NOMOR SATU DI MESIR)

Di dalam Perjanjian Baru, memberi tidak lagi dilakukan dengan tujuan menghindari binatang pelahap atau sebagai upaya agar Tuhan mencurahkan kebaikan-Nya atau mengabulkan doa, melainkan sebagai bentuk berserah dan percaya kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KITA LEBIH BERHARGA DARI BURUNG PIPIT DAN BUNGA BAKUNG

Bahan renungan:

Matius 6:25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”

Ada dua alasan utama mengapa Yesus mengatkan, “Janganlah kuatir akan hidupmu” pada ayat di atas. Alasan pertama, karena Yesus tahu manusia suka kuatir. Hari ini kita dapat yakin Tuhan menjaga dan memelihara kita, tetapi dua minggu berikutnya, ketika masalah datang, kita mulai kembali kuatir. Alasan kedua, Yesus ingin menyampaikan bahwa kita benar-benar dapat hidup tidak kuatir sedikitpun.

(Baca juga: PERKATAAN KITA DAPAT MERINGANKAN BEBAN HIDUP SESEORANG)

Sungguh tidak adil jika Alkitab mengatakan sesuatu yang tidak dapat kita lakukan. Misalnya, Firman Tuhan mengatakan ketika kita meletakkan tangan kepada orang sakit, maka orang tersebut akan sembuh. Sungguh tidak adil kalau setiap kali kita meletakkan tangan kepada orang sakit, orang tersebut meninggal.

Teman, saya sangat yakin apa yang Firman Tuhan katakan dapat kita lakukan. Saat Yesus mengatakan, “Janganlah kuatir akan hidupmu,” saya percaya kita dapat hidup tidak kuatir.

Jika kita membaca ayat di atas, tidak dapat dipungkiri bahwa di mata Tuhan, kita jauh lebih berharga dari burung pipit dan bunga bakung. Bagaimana kita dapat tahu hal tersebut? Karena Yesus memberikan nyawa-Nya dan darah-Nya yang berharga untuk kita, bukan untuk burung pipit dan bunga bakung.

(Baca juga: KEBENARAN MENYELAMATKAN ANDA DARI TIPU DAYA IBLIS)

Jadi, jika burung pipit dan bunga bakung saja dipelihara, apalagi kita, anak-anak kesayangan-Nya. Dia pasti pelihara kita jauh lebih baik dari burung pipit dan bunga bakung. Kalau kita dapat sebentar saja merenungkan apa yang Firman Tuhan katakan di atas, saya percaya kita akan kehilangan alasan untuk kuatir. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

YANG MEMELIHARA MASA DEPAN KITA BUKAN UANG, TETAPI TUHAN

Bahan renungan:

Markus 12:43-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Tuhan tidak menginginkan uang kita. Yang Dia inginkan adalah hati yang percaya kepada segala ucapan, perintah, dan janji-Nya.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN SATU MASALAH MERAMPAS SUKACITA DI HATI ANDA)

Jika kita membandingkan jumlah pemberian semua orang kaya dalam kisah di atas, tentu saja pemberian si janda miskin ini tidak ada apa-apanya. Namun, di mata Yesus justru terbalik. Yesus melihat pemberian semua orang kaya tersebut tidak sebanding dengan pemberian si janda miskin itu.

Yesus melihat ada sesuatu yang lain yang diberikan oleh si janda miskin tersebut ketika dia memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Yesus melihat si janda miskin itu bukan hanya memberikan uang, tetapi juga masa depan, hidupnya, hatinya, dan segala kekuatirannya akan hari esok.

Jika kita berada di posisi si janda miskin di atas, mungkin banyak di antara kita yang akan memilih untuk tidak memberi, karena takut dan kuatir akan hari esok. Keputusan seperti itu pada dasarnya disebabkan karena kita memercayai bahwa yang menyelamatkan hari esok kita adalah uang yang kita miliki.

(Baca juga: MAHALNYA HARGA SEBUAH KEMALASAN)

Si janda miskin di atas memiliki keyakinan yang berbeda. Terlihat dari keputusannya untuk memberikan seluruh nafkahnya. Pemberian si janda miskin itu menunjukkan bahwa dia percaya yang memelihara masa depannya bukanlah uang, melainkan Tuhan, Sang Gembala Agung. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KISAH SI JANDA MISKIN YANG TIDAK TAKUT MISKIN

Bahan renungan:

Lukas 21:2-4 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Wanita dalam kisah di atas menyandang dua status: janda dan miskin. Itu adalah dua kombinasi yang buruk. Juga, tidak diceritakan bahwa si janda miskin tersebut memiliki keluarga. Saya berasumsi dia hidup miskin dan sebatang kara.

(Baca juga: JANGAN TARUH PERASAAN ANDA DI ATAS KEBENARAN FIRMAN TUHAN)

Terdengar kasihan melihat situasi janda di atas. Namun, kisah di atas bukanlah sebuah kisah pengasihanan diri, melainkan kisah heroik. Hati saya selalu bergetar setiap kali membaca dan merenungkan kisah tersebut.

Beberapa waktu lalu, terbersit di kepala saya sebuah pertanyaan mengenai si janda ini, “Apa yang mendorong dia memberikan seluruh nafkahnya?” Normalnya, jika seseorang berada dalam posisi tersebut, mereka cenderung akan menyimpan harta dan minta dikasihani oleh orang lain. Namun, janda ini tidak demikian. Saking spesialnya, janda miskin ini menarik perhatian Yesus dan dipuji oleh Yesus. Luar biasa!

Roh Kudus mengingatkan saya ayat dari 1 Yohanes 4:18a yang berbunyi, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.” Roh Kudus berbisik lembut memberikan jawaban di hati saya, “Satu-satunya alasan si janda miskin itu tidak takut akan masa depannya, karena dia menyadari dirinya sangat dikasihi oleh Tuhan. Sang janda tahu bahwa yang memelihara dirinya jauh lebih besar dari dua peser duit, jauh lebih besar dari yang dia takutkan.”

Alkitab tidak menceritakannya, tetapi sangat mungkin bahwa sebelum si janda miskin ini memberikan seluruh uangnya, dia diteguhkan oleh kebenaran Firman Tuhan. Karena hanya orang yang percaya kepada janji Tuhan yang dapat melakukan tindakan iman seperti itu. Mungkin sang janda baru merenungkan kisah janda miskin di Sarfat yang diberkati Tuhan melalui Nabi Elia (1 Raja-raja 17:9-16), atau tulisan pemazmur di Mazmur 68:5 dan Mazmur 146:9. Jika Anda sedang dalam kondisi yang sama dengan sang janda di atas, saya sarankan Anda membaca dan merenungkan ayat-ayat tersebut, supaya hati Anda teguh.

(Baca juga: ANDA LEBIH BERHARGA DARI BURUNG PIPIT)

Satu hal yang saya tahu pasti. Hanya ketika kita menyadari kita sangat dikasihi Tuhan, bahwa Dia adalah Gembala yang baik dan kita adalah domba kesayangan-Nya, bahwa Dia memelihara hidup dan masa depan kita jauh lebih baik daripada diri kita sendiri, kita dapat melakukan tindakan iman yang melampaui segala ketakutan kita. (penulis: @mistermuryadi)

JANGAN MENJADI HAMBA UANG

Bahan renungan:

Ibrani 13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Uang adalah hal yang paling sering membuat manusia kuatir. Banyak orang berpikir jika memiliki uang banyak, hidup mereka akan baik-baik saja. Pada kenyataannya tidak seperti itu. Ada beberapa orang yang hidup berlimpah uang, namun tetap kuatir, ketakutan, dan gelisah. Bahkan beberapa di antara mereka, mati dengan cara menggenaskan, seperti overdosis obat terlarang dan bunuh diri.

Uang bukanlah jawaban bagi kekuatiran dan ketakutan Anda. Dunia ini sudah membuktikannya berulang kali. YESUSlah jawaban bagi segala kekuatiran dan ketakutan Anda.

Itu sebabnya ayat renungan kita hari ini mengatakan supaya kita jangan diperbudak oleh uang. TUHAN tahu sekali bahwa beberapa manusia bersedia menjadi budak uang karena berbagai macam alasan. Mereka adalah orang-orang yang rela meninggalkan TUHAN, ibadah, persekutuan, keluarga, dan bahkan IMAN mereka hanya demi uang.

TUHAN tahu bahwa manusia seringkali kuatir dan bertanya-tanya, “Bagaimana dengan masa depan saya?” Di tengah kekuatiran dan ketakukan Anda akan masa depan, peganglah janji TUHAN, bahwa DIA yang memelihara kita (1 Petrus 5:7) dan menjanjikan masa depan yang penuh pengharapan bagi kita (Yeremia 29:11), anak-anakNYA. Teman, saya ingin meyakinkan Anda bahwa TUHAN yang kita sembah selalu menepati janjiNYA dan DIA tidak pernah ingkar. (penulis: @mistermuryadi)