KEPADA SIAPAKAH KITA MENGABDIKAN DIRI?

Bahan renungan:

Lukas 16:13 Seorang hamba tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Manusia diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang menyembah sesuatu. Sebenarnya, semua makhluk diciptakan untuk menyembah Tuhan. Roma 11:36 mengatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

(Baca juga: BAPA INGIN KITA HIDUP DI BUMI SEPERTI DI SORGA)

Jadi, adalah sifat alami kita untuk menyembah atau mengagungkan sesuatu. Entah itu Tuhan, si jahat, atau diri kita sendiri.

Menurut Lukas 16:13, setiap kita hanya dapat mengabdi atau menyembah kepada satu tuan saja. Dan, kepada siapa kita mengabdi, kita akan mengikutinya dan menjadi sepertinya. Pertanyaannya, kepada siapa kita mengabdi hari ini?

Jika kita mengabdikan diri kita kepada diri sendiri atau kepada si jahat, Firman Tuhan mengatakan ujungnya adalah kebinasaan. Namun, jika kita mengabdikan diri kepada Tuhan, Sang Pemberi Kehidupan, kita akan hidup di Bumi seperti di Sorga, dan hidup kekal selama-lamanya di Sorga kelak.

Teman, kenali tuan yang kita sembah. Tidak semua tuan yang kita sembah itu baik dan penuh kasih. Hanya Tuhan yang kita sembah dalam nama Yesus yang baik dan penuh kasih.

(Baca juga: TUHAN MELIHAT HATI, TETAPI MANUSIA MELIHAT HIDUP ANDA)

Jika kita memilih untuk mengabdikan diri kepada Yesus, hiduplah di dalam kebenaran-Nya, percayalah kepada janji-Nya, dan buatlah keputusan-keputusan berdasarkan apa yang Dia ucapkan. (penulis: @mistermuryadi)

JANGAN HIDUP HANYA BERDASARKAN FAKTA SEMATA

Bahan renungan:

Yohanes 8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Misalnya, suatu hari di leher kita ada benjolan. Paman menelpon mengatakan tidak perlu kuatir, karena benjolan itu adalah kelenjar yang tidak berbahaya. Dia mengatakan demikian karena salah satu temannya pernah mengalami hal serupa dan hilang dengan sendirinya. Namun, ayah di rumah mengatakan itu adalah kanker ganas. Dia mengatakan demikian karena sahabatnya memiliki gejala yang sama dan meninggal beberapa waktu lalu.

(Baca juga: SIAPAKAH RAJA DALAM HIDUP ANDA?)

Karena bingung, akhirnya kita memutuskan pergi ke dokter dan dokter mengatakan penyakit tersebut belum jelas, perlu pemeriksaan lebih lanjut. Sang dokter kemudian memberikan obat dan meminta kita kembali bulan depan.

Jika kita ada di tengah kejadian seperti itu, kira-kira pernyataan siapa yang akan kita percayai?

Mungkin faktanya kita memang sakit dan hasil diagnosa dokter pun mengatakan kita sakit, tetapi kebenaran Firman Tuhan dalam 1 Petrus 2:24 mengatakan bahwa oleh bilur-bilur darah-Nya kita telah sembuh.

Jika kita memercayai pernyataan yang salah, kita dapat terjerumus dalam situasi yang buruk. Jiwa kita tergoncang dan pikiran kita kacau. Akibatnya, kondisi kesehatan kita semakin terpuruk. Sebaliknya, jika kita memercayai pernyataan yang benar, dalam hal ini adalah kebenaran Firman Tuhan, hal buruk yang terjadi dalam hidup kita dapat menjadi sebuah kesaksian yang luar biasa bagi banyak orang.

(Baca juga: MENGAPA TUHAN TIDAK BERTINDAK SEPERTI YANG KITA HARAPKAN?)

Teman, jangan hidup berdasarkan fakta semata, hiduplah berdasarkan kebenaran. Karena seringkali apa yang fakta perlihatkan jauh berbeda dengan apa yang Firman Tuhan katakan. Di saat kita berhadapan dengan fakta yang menggoncangkan, biarkan kebenaran Firman Tuhan mengambil alih. Karena, kebenaran yang kita percayai dapat mengubah fakta yang sedang kita alami. Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERINTAH TUHAN TIDAK MASUK AKAL, TETAPI MUDAH DILAKUKAN

Bahan renungan:

Keluaran 14:15-16 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Mengapakah engkau berseru-seru demikian kepada-Ku? Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka berangkat. Dan engkau, angkatlah tongkatmu dan ulurkanlah tanganmu ke atas laut dan belahlah airnya, sehingga orang Israel akan berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering.”

Tuhan tidak pernah meminta kita melakukan sesuatu yang mustahil. Bahkan faktanya, Dia selalu meminta kita melakukan sesuatu yang mudah. Hanya saja, yang mudah itu terkadang tidak masuk akal kita, dan menuntut iman kita sepenuhnya.

(Baca juga: TEMUKAN DAMAI SEJAHTERA SEJATI DI DALAM YESUS)

Saat Musa dan dua juta Bangsa Israel keluar dari Mesir, di depan mereka terbentang Laut Merah dan di belakang mereka ada para tentara Mesir. Secara logika, Musa hanya memiliki dua pilihan: berenang bersama-sama dua juta orang Israel menantang keganasan Laut Merah atau adu jotos dengan para tentara Mesir tanpa menggunakan senjata. Dua-duanya masuk akal, tetapi sulit untuk dilakukan, karena nyawa taruhannya.

Namun, di tengah situasi tersebut, Tuhan menawarkan pilihan ketiga, yaitu agar Musa mengangkat tongkat dan mengulurkan tangannya ke atas laut. Pilihan ketiga ini mudah untuk dilakukan, tetapi tidak masuk akal.

Terkadang saya bertanya-tanya, mengapa Tuhan senang memerintahkan sesuatu yang mudah, tetapi tidak masuk akal? Untuk berkelimpahan, Dia memerintahkan untuk menabur (2 Korintus 9:6). Untuk hidup berlimpah kasih karunia dan damai sejahtera, Dia memerintahkan untuk mengenal Dia (2 Petrus 1:2). Untuk masuk Sorga, Dia memerintahkan untuk mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Yesus adalah Tuhan (Roma 10:9-10). Untuk menyembuhkan orang sakit, Dia memerintahkan untuk meletakkan tangan kita atas orang sakit tersebut (Markus 16:17-18).

Yesus, dalam Lukas 18:8, menjawabnya, “Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Ternyata, yang Tuhan inginkan adalah iman kita terhadap ucapan dan janji-Nya, bukan kerja keras atau perbuatan kita.

(Baca juga: ANDA SPESIAL DI MATA TUHAN)

Terkadang, kita berpikir lebih mudah melakukan yang masuk akal bagi kita. Sementara faktanya, yang masuk akal menurut kita, jauh lebih sulit dilakukan daripada melakukan yang Tuhan perintahkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

MELANGKAH KELUAR DARI KETAKUTAN DAN KEKUATIRAN KITA

Bahan renungan:

1 Raja-raja 17:15-16 Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.

Saya sangat terenyuh dengan kisah janda di Sarfat ini. Di tengah situasi yang begitu genting, antara hidup dan mati, dia memilih untuk percaya kepada janji Tuhan.

(Baca juga: DOA DAN NUBUAT BAGI KITA DI TAHUN 2018)

Si janda itu hanya memiliki segenggam gandum dan sedikit minyak, yang menurut hitung-hitungan manusia, akan mengakibatkan dia dan anaknya mati lebih cepat jika dia berikan kepada Nabi Elia. Ya, cepat atau lambat, si janda itu dan anaknya pasti mati jika bergantung kepada segenggam gandum dan sedikit minyak.

Nabi Elia memberikan solusi ampuh kepada janda tersebut, yaitu dengan cara memberikan yang sedikit itu kepadanya. Atau dengan kata lain, Nabi Elia ingin si janda tersebut “melangkah keluar” dari ketakutan dan kekuatirannya dengan cara menyerahkan sepenuhnya hal tersebut kepada Tuhan (1 Petrus 5:7).

Hasilnya, dalam ayat 16 tertulis, “Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.” Haleluya.

Apa pesan penting yang Tuhan ingin sampaikan melalui cerita di atas?

Setiap kita memiliki ketakutan dan kekuatiran masing-masing terhadap sesuatu. Satu-satunya cara agar terbebas dari hal itu adalah melangkah keluar dari sana. Tinggalkan ketakutan dan kekuatiran kita, tinggalkan pikiran yang salah dengan cara beralih dan berpegang pada janji Tuhan dan bertindak sesuai apa yang Firman Tuhan katakan.

Terhadap keuangan kita, Firman Tuhan katakan menaburlah, agar kita dapat menuai. Terhadap hubungan kita, Firman Tuhan katakan saling mengasihi dan mengampunilah satu sama lain. Terhadap bisnis atau pekerjaan kita, Firman Tuhan katakan jalanilah dengan cara yang benar dan jujur.

(Baca juga: TUHAN MENGUBAH HIDUP MANTAN PEDAGANG NARKOBA CILIK)

Dengan berpegang kepada janji Tuhan dan bertindak sesuai yang Firman Tuhan katakan, kita tidak perlu lagi takut atau kuatir, karena janji Tuhan YA dan AMIN. Jika kita percaya yang benar, kita akan melakukan yang benar, dan akibatnya, kita pasti mendapatkan hasil yang benar. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN RAGU MENGHARAPKAN SESUATU YANG TUHAN JANJIKAN

Bahan renungan:

Lukas 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Sebelum Anda mengharapkan sesuatu dari Tuhan, tentu saja Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang Dia janjikan. Bagaimana mungkin Anda mengharapkan janji Tuhan, sementara Anda hanya tahu janji tersebut dari kata orang? Anda perlu mencari tahu janji yang ada di dalam Firman Tuhan, lalu merenungkannya, memercayainya, barulah Anda dapat mengharapkannya.

(Baca juga: KEKUATAN SEBUAH KENANGAN INDAH)

Jika Anda sudah mengetahui janji Tuhan dan memercayainya, Anda tidak perlu lagi meragukan apakah janji Anda akan terwujud atau tidak.

Sama seperti si wanita pendarahan. Sambil mendekat kepada Yesus, dia berkata di dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Perhatikan, si wanita pendarahan itu tidak lagi berpikir apakah dia akan sembuh atau tidak. Dia tahu dan percaya bahwa Yesus adalah Sang Juruselamat yang sanggup memulihkan dirinya. Dia tahu pasti janji Tuhan atas hidupnya. Yang ada di dalam hatinya hanyalah, “Aku pasti sembuh.”

(Baca juga: “HAI ANAK-KU, JANGAN MENANGIS”)

Apa yang sedang Anda harapkan hari ini? Apakah Anda sedang mengharapkan pemulihan, kesembuhan, terobosan finansial, atau teman hidup? Jika iya, segera cari tahu apakah Tuhan menjanjikan hal tersebut dalam Firman-Nya. Ketika Anda menemukannya di dalam Firman Tuhan, renungkan dan pegang teguh janji tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

DAMAI SEJAHTERA TUHAN VERSUS DAMAI SEJAHTERA DUNIA

Bahan renungan:

Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.

Berdasarkan ayat di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa ada dua jenis damai sejahtera yang dapat kita terima. Yang pertama adalah damai sejahtera dari Tuhan, yang merupakan damai sejahtera yang asli. Yang kedua adalah damai sejahtera dari dunia, yang merupakan damai sejahtera palsu. Yesus mengatakan bahwa damai sejahtera yang berasal dari-Nya tidak sama dengan apa yang dunia berikan.

(Baca juga: JIKA TUHAN MENCIPTAKAN KITA HEBAT, APAKAH KITA MASIH PERLU BELAJAR?)

Dunia mengajarkan damai sejahtera yang bergantung pada situasi dan kondisi. Damai sejahtera tersebut hanya dapat muncul ketika hidup kita sedang tidak ada masalah, bisnis kita sedang berkembang, dan segala sesuatunya berjalan seperti yang kita harapkan. Damai sejahtera yang dunia berikan hanya bersifat sementara, dan naik turun seiring dengan situasi dan kondisi yang kita hadapi.

Contohnya adalah orang-orang yang damai sejahteranya ditentukan oleh jumlah uang di rekening. Ketika uang sedang melimpah, dapat tersenyum lebar, penuh ketenangan, dan kebahagiaan, tetapi ketika uang mulai menipis, sikapnya berubah menjadi ketakutan, kuatir, dan penuh amarah.

Damai sejahtera yang Yesus berikan tidak seperti itu. Damai sejahtera dari Yesus dapat membuat kita tersenyum dan menari sekalipun ada badai. Damai sejahtera tersebut lahir dari kebenaran yang kita percayai, bukan dari situasi dan kondisi yang kita alami. Yesaya 32:17 mengatakan, “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”

Untuk mendapatkan damai sejahtera yang benar, kita perlu meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan kebenaran, serta mempercayai janji Tuhan. Kita perlu mengenal kebenaran. Rasul Petrus menulis dalam 2 Petrus 1:2 demikian, “Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita.”

(Baca juga: SELESAIKAN PERTANDINGAN HIDUP ANDA!)

Hanya ketika kita mengetahui kebenaran janji Tuhan dan mempercayainya, kita dapat memiliki damai sejahtera yang sejati. Hal serupa dialami oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abednego ketika mereka hendak dilemparkan ke perapian (Daniel 3:12-30). Hanya orang-orang yang mengenal Tuhan dan percaya kepada janji-Nya yang berani menentang penguasa lalim dengan mengatakan, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KITA PERLU MEMPRIORITASKAN KEBENARAN

Bahan renungan:

Matius 8:24-25 Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur. Maka datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya: “Tuhan, tolonglah, kita binasa.”

Petrus adalah nelayan handal. Dia tahu jenis-jenis angin yang berbahaya. Suatu hari, saat ada angin ribut mengamuk, Petrus dan para murid lain ketakutan. Mereka tahu angin tersebut dapat menghancurkan kapal mereka. Layaknya paduan suara, mereka kompak berteriak, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Sementara, Yesus tertidur dengan lelap.

(Baca juga: RUMAH DI ATAS BATU VS. RUMAH DI ATAS PASIR)

Sangat kontras sekali respons Yesus dan para murid saat berhadapan dengan badai. Sangat kontras respons orang yang mendirikan rumah di atas batu dengan orang yang mendirikan rumah di atas pasir.

Teman, kapan terakhir kali Anda merespons badai kehidupan dalam hidup Anda dengan tenang dan dalam keadaan damai sejahtera?

2 Petrus 1:2 mengatakan kasih karunia dan damai sejahtera melimpah atas kita oleh karena pengenalan akan Kristus.

Banyak di antara kita ingin hidup melimpah dalam kasih karunia dan damai sejahtera, tetapi sangat sedikit sekali yang mau meluangkan waktu untuk mengenal Kristus.

Kita dapat tidur subuh demi menonton sepakbola, sementara paginya bekerja. Kita rela lembur sampai larut malam demi karir dan bisnis. Kita dapat menghabiskan waktu berjam-jam dari satu rapat ke rapat berikutnya tanpa mengantuk sedikit pun. Sementara, pada saat membaca Alkitab atau mendengarkan khotbah, kita berkata, “Tuhan pasti mengerti kalau saya sedang capek.”

(Baca juga: MERDEKA DARI KETAKUTAN)

Jika kita pertahankan sikap seperti di atas, jangan heran setiap kali datang hujan, banjir, dan badai, kita selalu ketakutan. Mari kita ubah sikap kita memperlakukan kebenaran. Kita perlu memprioritaskan kebenaran dalam hidup kita. Lebih penting dari semua rapat kita, lebih berharga dari semua klien kita, dan lebih utama dari semua kegiatan kita. (penulis: @mistermuryadi)