HIDUPLAH DALAM DAMAI DENGAN SEMUA ORANG

Bahan renungan:

Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

Bagaimana reaksi Anda jika bertemu dengan orang yang kasar terhadap Anda? Apakah Anda merespons dalam kasih seperti yang Yesus ajarkan, atau Anda merespons sama seperti orang yang kasar itu?

(Baca juga: TEMUKAN PERAN ANDA DALAM GEREJA TUHAN)

Saya rasa, belakangan, banyak orang menjadi sensitif dan kasar karena kehidupan penuh stres yang mereka jalani. Mulai dari kesibukan dalam pekerjaan, bisnis yang tidak stabil, dan hubungan yang tidak baik dengan pasangan atau keluarga.

Namun, kita dapat bersyukur, karena kita mengetahui kebenaran, dan kita mengenal Yesus, Sang Sumber Kasih. Setiap kali ada situasi yang memungkinkan kita terjebak dalam stres, kita tahu ke mana kita harus berlari. Tetapi harus diingat, banyak orang di luar sana yang tidak memiliki Yesus. Itu artinya, mereka tidak memiliki jalan keluar ketika mereka dalam tekanan.

(Baca juga: KITA PERLU MEMUNGUT DAN MEMAKAN MANNA SETIAP HARI)

Penting bagi kita untuk merepsons orang-orang yang kasar tersebut dengan kasih. Karena, hanya dengan cara demikian kita dapat membantu mereka menemukan jalan keluar dari tekanan dan stres, yang mungkin dapat menuntun mereka kepada Kristus. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

RESPONS KITA MENUNJUKKAN IMAN KITA

Bahan renungan:

Matius 3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

Saat orang lain mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen, mereka cenderung memperhatikan hidup kita. Mereka ingin melihat standar yang kita miliki dan ingin tahu bagaimana cara kita hidup.

(Baca juga: LUANGKAN WAKTU UNTUK BERSEKUTU DENGAN TUHAN)

Orang-orang itu biasanya tidak terbuka untuk belajar mengenai iman kita sampai kita menunjukkan buah-buah yang baik dari hidup kita. Ketika kita menunjukkan buah-buah yang baik, barulah mereka mau mendengarkan apa yang kita katakan dan menerima apa yang kita sampaikan.

Kita dapat menunjukkan iman kita dengan cara memberikan respons yang baik terhadap kejadian-kejadian kecil sehari-hari. Saat seseorang menyenggol kita atau menginjak kaki kita, kita dapat merespons dengan sikap ramah. Bahkan, kita dapat tersenyum kepada orang yang tidak bermaksud menyenggol atau menginjak kaki kita itu. Orang lain dapat melihat iman kita dalam respons yang menyenangkan seperti itu.

(Baca juga: PATUTKAH KITA MENSYUKURI SAKIT PENYAKIT KITA?)

Semua orang dapat menunjukkan wajah marah, mengeluarkan desahan keberatan, dan kecewa atas kesalahan kecil. Namun, saya percaya, orang-orang percaya dipanggil untuk melampaui respons tersebut. Kita dapat mengembangkan kasih melalui perbuatan kita. Kasih yang kita lakukan dapat membuat orang lain tertarik kepada Sang Sumber Kasih yang tinggal di dalam diri kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

JERIH PAYAH KITA DI DALAM KRISTUS TIDAK PERNAH SIA-SIA

Bahan renungan:

1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.

Suatu hari seorang teman terlihat sangat murung. Saya tidak tahu apa yang terjadi terhadapnya. Sebagai orang percaya, saya berusaha mendekatinya dengan maksud menanyakan kepadanya seandainya ada sesuatu yang dapat saya bantu. Singkat cerita, kami terlibat dalam sebuah percakapan membahas diri saya. Teman saya, tidak seperti biasanya, banyak bertanya mengenai keluarga saya, kondisi finansial saya, kehidupan saya, dan terutama, bagaimana respons saya terhadap kondisi tersebut.

(Baca juga: YESUS BERANI MELAWAN ARUS)

Saya menjawab semampu yang saya bisa. Saya mengatakan kepadanya bahwa situasi yang saya hadapi sungguh berat untuk anak seumur saya pada waktu itu. Membuat saya ingin pergi dari rumah. Namun, saya percaya bahwa Yesus memiliki rencana yang indah atas hidup saya dan keluarga saya.

Percakapan tersebut berlangsung selama kurang lebih satu jam, dan kemudian kami berpisah.

Tiga hari setelah itu, teman saya menghampiri saya dan mengucapkan terima kasih. Saya merasa heran pada saat itu. Teman saya bercerita bahwa tiga hari lalu, dia ingin bunuh diri. Dia sudah merencanakan sejak seminggu sebelumnya. Namun, ketika kami bercakap-cakap, dia merasa masalah yang saya hadapi lebih berat dari dirinya, sementara saya dapat merespons masalah-masalah tersebut lebih baik. Hal tersebut membuat dia mengurungkan niat untuk bunuh diri.

Yang ingin saya sampaikan untuk kita hari ini adalah, tanpa kita sadari, respons saya terhadap masalah dalam hidup kita dapat mengubah kehidupan orang lain. Saya pribadi merasa respons saya terhadap masalah-masalah saya biasa saja, tetapi bagi teman saya, itu lebih dari cukup untuk membuatnya mengurungkan niat bunuh diri.

(Baca juga: YANG BERSAMA KITA JAUH LEBIH BESAR DARI YANG MENGHADANG KITA)

Jangan pernah merasa bahwa hal kecil yang kita lakukan atas nama kebenaran Tuhan itu kecil. Segala sesuatu yang kita lakukan, sekecil apa pun, demi nama Yesus, adalah hal yang dapat memberikan dampak besar. Firman Tuhan di atas mengatakan, jerih payah kita di dalam Kristus tidak pernah sia-sia. Kita tidak pernah tahu bahwa Tuhan dapat memakai sepenggal kisah dalam hidup kita untuk menyelamatkan banyak nyawa di luar sana. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PERUBAHAN TERJADI KETIKA KITA PERCAYA DAN MERESPONS

Bahan renungan:

Matius 13:58 Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ.

Berkali-kali ketika menyembuhkan, Yesus kerap mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Perkataan tersebut menandakan perlu ada keputusan untuk percaya dan merespons terhadap apa yang Yesus lakukan. Jika kita tidak percaya atau tidak merespons, sekalipun Yesus mendoakan kita, tidak akan terjadi apa-apa.

(Baca juga: JANGAN LATIH PIKIRAN KITA MEMIKIRKAN HAL-HAL YANG JAHAT)

Suatu kali ketika kembali ke kampung halamannya, Firman Tuhan mengatakan tidak banyak mukjizat yang Yesus lakukan di sana. Bagaimana mungkin? Apakah karena Yesus kurang berkuasa? Tentu saja Yesus sangat berkuasa. Firman Tuhan menjelaskan hal tersebut terjadi akibat ketidakpercayaan mereka.

Jadi, kita dapat duduk di sebuah gereja yang sama dengan orang lain, sementara orang lain disembuhkan, kita tidak. Kita dapat mendengar Firman Tuhan yang sama dengan orang lain, sementara orang lain dilepaskan dan diberkati, kita tidak. Kita dapat bertemu Yesus yang sama dengan orang lain, sementara orang lain mengalami mukjizat, kita tidak. Kita tidak akan mengalami perubahan apa-apa, kecuali kita memutuskan untuk percaya dan merespons.

(Baca juga: BAGAIMANA CARA MELAKUKAN TINDAKAN IMAN?)

Saya tidak suka mengatakan hal ini, tetapi inilah kebenarannya. Setiap kita mungkin sudah banyak membaca mengenai Yesus, kebenaran-Nya, dan janji-Nya, tetapi jika kita tidak memercayai dan merespons, ayat-ayat dan janji-janji tersebut tidak akan berpengaruh banyak terhadap hidup kita. Sebaliknya, sekalipun yang kita ketahui hanya sedikit, tetapi kita mau percaya dan merespons, perubahan besar pasti terjadi dalam hidup kita. (penulis: @mistermuryadi)

ALASAN YUSUF MENOLAK GODAAN ISTRI POTIFAR

Bahan renungan:

Kejadian 39:9 “Bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Setelah melewati berbagai lika-liku hidup, mulai dibuang oleh saudaranya, lalu dijual sebagai budak, Yusuf dipercayakan seluruh isi rumah Potifar, sang kepala pengawal raja. Untuk memersingkat cerita, suatu hari Yusuf digoda oleh istri Potifar. Tidak seperti kebanyakan orang yang “lari di tempat” ketika godaan datang, Yusuf memilih “melarikan diri” dari godaan tersebut.

(Baca juga: CARA MUDAH MENGENAL BAPA SORGAWI)

Saya begitu terenyuh ketika membaca alasan yang melatarbelakangi respons Yusuf, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?”

Melalui pernyataan di atas, kita dapat mengerti bahwa alasan Yusuf menolak dosa bukan karena takut ketahuan oleh Potifar, melainkan karena dia tidak ingin mengecewakan Pribadi yang begitu mengasihi dirinya.

Jika boleh, saya ingin sedikit mendramatisasi hal di atas. Alasan Yusuf menolak istri Potifar adalah karena Yusuf tahu bahwa melakukan perbuatan tersebut bukanlah identitas dirinya di dalam Tuhan. Yusuf sangat menyadari bahwa Tuhan senantiasa menyertainya bukan untuk melakukan hal itu.

Saya menemukan fakta di atas sedikit berbeda dengan kehidupan zaman ini, di mana beberapa orang enggan melakukan kejahatan karena takut ketahuan dan belum ada kesempatan. Contoh. Seseorang memilih tidak korupsi karena takut ketahuan, tidak selingkuh karena belum ada yang mau, dan lain sebagainya.

Beberapa orang lainnya tidak akan berpikir dua kali untuk meng-iya-kan godaan iblis, terutama akibat didasari pikiran bahwa tidak ada seorang pun yang tahu atau melihat. Ada satu kutipan yang menarik mengenai hal itu, “Jika Anda tidak ingin ketahuan orang lain, jangan lakukan. Saat Anda melakukan, suatu saat, cepat atau lambat, orang lain akan mengetahuinya.”

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: TUHAN TANGGUNG BAGIAN TERBERATNYA)

Yusuf adalah sosok orang yang memiliki integritas sangat tinggi. Ketika tidak ada seorang pun yang melihatnya, dia tetap memegang teguh kebenaran Firman Tuhan. Sungguh menakjubkan kekuatan yang memancar dari seseorang yang menyadari bahwa dirinya sangat dicintai oleh Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

KITA MEMILIKI PERAN BESAR UNTUK MEMBUAT DUNIA JADI LEBIH BAIK

Bahan renungan:

1 Petrus 3:9 … hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil.

Banyak orang cenderung mengharapkan orang lain yang berubah, “Seandainya orang itu melakukannya lebih baik, pasti tidak akan begini jadinya.” Sikap seperti itu tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak membuat keadaan jadi lebih baik.

(Baca juga: ORANG YANG EGOIS ADALAH ORANG YANG TIDAK BAHAGIA)

Saya percaya, kita dipanggil bukan hanya untuk mengharapkan perubahan, tetapi membuat perubahan, menjadi bagian dari sebuah perubahan.

Langkah paling mudah untuk membuat sebuah perubahan adalah memulainya dari perubahan terhadap diri sendiri. Saya menemukan, sulit sekali mengharapkan orang lain berubah terlebih dahulu. Orang yang paling mudah untuk saya ubah adalah diri saya sendiri, karena saya yang memegang kendali atas hal tersebut.

Jika ada seseorang yang selalu berbuat kasar kepada kita, tentu sulit untuk memintanya berubah. Orang itu pasti memiliki seribu alasan untuk berbuat demikian kepada kita. Namun, kita dapat berubah. Kita dapat belajar lebih sabar menghadapinya, kita dapat lebih lembut dalam meresponsnya, dan kita dapat menaruh senyum di wajah kita pada saat dia kasar.

Satu hal yang saya percaya mengenai perubahan. Ketika kita mampu mengubah diri kita, barulah kita dapat mengubah orang lain, bahkan dunia. Sebaliknya, jika kita saja kesulitan mengubah diri kita sendiri, yang kendalinya kita pegang, bagaimana mungkin kita berharap dapat mengubah orang lain yang tidak dapat kita kendalikan.

(Baca juga: ADAKAH HARAPAN BAGI HIDUP KITA YANG SUDAH TERLANJUR RUSAK?)

Apa yang saya tuliskan di atas adalah hal yang serius. Saya percaya, setiap kita memiliki peran besar untuk mengubah dunia menjadi tempat yang lebih baik, dengan cara mengubah diri kita menjadi orang yang lebih baik. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

DUA ALASAN MENGAPA KITA PERLU MERESPONS PANGGILAN TUHAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.

Di dalam Alkitab, banyak sekali kisah yang menceritakan mengenai Tuhan memanggil seseorang untuk pergi ke sebuah tempat atau keluar dari zona nyaman mereka. Misalnya, Abraham dipanggil dari tanah kelahirannya ke Tanah Perjanjian, Musa dipanggil dari padang gurun kembali ke Mesir untuk membebaskan Bangsa Israel, Petrus dari penjala ikan dipanggil menjadi penjala manusia, Saulus dari penganiaya orang percaya menjadi rasul, dan masih banyak kisah lainnya.

(Baca juga: PUJI TUHAN, TUHAN TIDAK BEKERJA SESUAI CARA KITA)

Setidaknya ada dua alasan mengapa Tuhan melakukan hal tersebut.

1. Ada bahaya yang mengancam jika kita tidak segera bergerak. Tuhan adalah gembala yang senantiasa memastikan kita selalu dalam keadaan yang terpelihara dengan baik. Jika ada sesuatu yang akan membahayakan hidup kita, tentu saja Dia tidak akan berdiam diri. Dia akan bertindak, karena Dia ingin menjaga hidup kita.

Jika Tuhan tidak memanggil Abraham pergi dari tanah kelahirannya, kemungkinan besar sepanjang hidupnya Abraham akan menyembah berhala. Jika Tuhan tidak memanggil Musa meninggalkan pekerjaannya sebagai penggembala kambing domba di padang gurun, kemungkinan besar Musa akan mati tua dalam perasaan bersalah, gagal, dan kehilangan tujuan hidupnya.

2. Tuhan menyediakan sesuatu yang jauh lebih baik. Tuhan telah menetapkan setiap kita untuk menjadi kepala, bukan ekor. Tuhan ingin kehidupan orang percaya selalu naik, bukan turun. Namun, adalah keputusan kita untuk merespons atau tidak terhadap penyediaan Tuhan tersebut.

Jika Petrus tidak meninggalkan jalanya, mungkin seumur hidup Petrus akan menjala ikan dan menjalani hidup seperti kebanyakan orang, yaitu lahir, tumbuh, berkeluarga, dan meninggal. Jika Saulus tidak merespons panggilan Tuhan, mungkin hidup Saulus akan berakhir tanpa meninggalkan sesuatu yang berguna bagi orang lain dan Kerajaan Sorga.

Saya tidak hanya berbicara mengenai hal-hal eksternal yang lebih baik, tapi juga hal-hal internal yang jauh lebih baik, yaitu karakter, pikiran, dan kehendak kita. Misalnya, saat kita merespons terhadap panggilan Tuhan untuk mendoakan orang sakit atau melayani orang yang sedang depresi. Hal tersebut mengubah sesuatu yang ada di dalam kita. Tuhan mengubah pikiran kita yang egois jadi memikirkan orang lain.

(Baca juga: APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?)

Saya percaya, setiap kita dipanggil Tuhan untuk sebuah tujuan yang luar biasa. Sebuah tujuan mulia yang jauh lebih besar dari diri kita sendiri. Kita perlu merespons panggilan tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.