KRISTEN TERMOMETER VERSUS KRISTEN TERMOSTAT

Bahan renungan:

Kisah Para Rasul 6:14 sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.

Ada dua jenis orang Kristen dalam hal pengaruh. Tipe pertama adalah Kristen Termometer. Termometer adalah alat untuk mengukur suhu. Contohnya adalah alat yang kita jepit di ketiak untuk mengukur suhu badan. Suhu yang ditampilkan pada termometer berubah-ubah sesuai kondisi atau situasi orang bersangkutan.

(Baca juga: NERAKA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA)

Kristen Termometer adalah jenis orang Kristen yang berubah-ubah tergantung keadaan. Situasinya baik-baik, dia damai dan sukacita, tetapi ketika situasinya buruk, dia mulai marah, stres, dan depresi. Firman Tuhan menyebutnya sebagai orang yang mudah diombang-ambingkan.

Tipe kedua adalah Kristen Termostat. Termostat adalah alat untuk menentukan suhu. Contohnya adalah air conditioner. Saat cuaca sedang panas, Anda menyalakan AC dan menyetelnya di suhu 21 derajat celcius. Dalam waktu 10 menit, suhu ruangan yang panas berubah menjadi dingin.

Kristen Termostat adalah jenis orang Kristen yang mengubah keadaan. Mereka mengubah situasi yang buruk menjadi lebih baik, seperti yang Yesus lakukan saat Dia melayani di dunia. Para Kristen Termostat tidak hidup berdasarkan situasi, justru mereka mengubah situasi. Ketika ada tekanan atau masalah, dia menunjukkan teladan dan respons yang baik, sehingga orang lain diberkati dan mencontoh sikapnya.

(Baca juga: KITA ADALAH PERTOLONGAN PERTAMA BAGI DUNIA)

Teman, kita adalah garam dan terang dunia. Kita dipanggil untuk memengaruhi dunia ini dengan kebenaran, bukan justru dipengaruhi oleh dunia ini. (penulis: @mistermuryadi)

INILAH PENYEBAB UTAMA KITA DEPRESI

Bahan renungan:

Mazmur 43:5 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Dalam Mazmur 42 dan 43, ada tiga kali pemazmur mengucapkan, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku …” Itu adalah pertanyaan yang bagus. Banyak orang menanyakan hal itu, tetapi hanya sedikit yang menemukan jawabannya.

(Baca juga: APA YANG ABRAHAM PIKIRKAN SAAT MEMPERSEMBAHKAN ISHAK?)

Dunia kita saat ini mengajarkan kita untuk menyalahkan situasi jika kita mengalami depresi. Beberapa mengatakan depresi terjadi akibat sebuah reaksi kimia dalam tubuh. Namun, Alkitab tidak mengatakan demikian. Ayat di atas jelas mengungkapkan bahwa tertekan atau depresi terjadi akibat kita kehilangan harapan. Situasi hidup kita tidak membuat kita tertekan, kecuali kita membiarkan situasi mencuri harapan-harapan kita. Dan, reaksi kimia dalam tubuh kita adalah buah dari depresi, bukan penyebabnya.

Harapan dan depresi adalah dua hal yang saling bersebrangan. Di mana ada harapan, tidak ada depresi. Sebaliknya, di mana ada depresi, tidak ada harapan. Penting bagi kita untuk memiliki harapan, karena hal tersebut dapat menghasilkan emosi yang positif.

Pengalaman hidup kita seringkali membuat kita kehilangan harapan. Itu sebabnya, satu-satunya jalan supaya kita tetap memiliki harapan adalah lebih dalam mengenal Tuhan dan janji setia-Nya. Tuhan yang kita sembah adalah sumber pengharapan yang pasti (Roma 15:13).

Bagi Anda yang memiliki banyak pengalaman buruk atau pahit dalam hidup, Alkitab menyediakan banyak janji Tuhan yang dapat Anda harapkan.

(Baca juga: TUHAN SETIA MENGASIHI MANUSIA SELAMA 6000 TAHUN)

Harapan-harapan yang tidak mengecewakan hanya dapat muncul jika Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Saat Anda mulai lebih mempercayai janji Tuhan dibandingkan situasi, harapan akan terbit di hati Anda, iman Anda pun akan bangkit, dan sebagai akibatnya, depresi lenyap. (penulis: @mistermuryadi)

BUATLAH KEPUTUSAN BERDASARKAN FIRMAN TUHAN

Bahan renungan:

1 Yohanes 5:4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.

Hidup seorang jenderal besar di Mongol yang dijuluki “Sang Penghancur”, karena reputasinya yang tidak kalah dalam pertempuran. Suatu hari Sang Jenderal dan pasukannya menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih banyak. Seluruh pasukannya ketakutan dan bersiap untuk menyerah, tetapi Sang Jenderal tidak kehabisan akal. Sang Jenderal sangat yakin bahwa meski jumlah pasukannya lebih sedikit, tetapi pasukannya jauh lebih kuat dari musuh.

(Baca juga: TUHAN TIDAK PERNAH MENYERAH TERHADAP ANDA)

Sang Jenderal berkata, “Saya akan melempar sebuah koin. Kalau yang muncul adalah gambar, itu pertanda kita harus menyerang balik, mengerahkan seluruh kekuatan kita, dan kita pasti menang, tetapi jika yang muncul angka, kita menyerah saja.” Sang Jenderal melempar koin tersebut ke udara dan menangkapnya, kemudian dia mengumumkan kepada seluruh pasukan bahwa yang muncul adalah gambar.

“Dewa di pihak kita. Langit telah menuliskan kemenangan kita,” ujar salah seorang prajurit. Terdengar sorak sorai dan semangat yang membara. Dalam waktu kurang dari dua jam mereka menggempur lawan habis-habisan dan hari itu mereka mendapatkan kemenangan besar. Sesaat setelah menang, Sang Jenderal memberikan koin tadi ke salah satu prajuritnya, ternyata kedua sisi koin tersebut adalah angka.

(Baca juga: KITA YANG DIUNTUNGKAN KETIKA IKUT PERINTAH TUHAN)

Teman, cerita di atas menggambarkan bahwa saat kita mengalami situasi atau kondisi buruk, terkadang kita lupa kalau Tuhan yang tinggal di dalam kita jauh lebih besar dari dari semua masalah dan pergumulan kita. Akibatnya, mental dan pikiran kita cenderung ingin lari dan menyerah. Padahal kalau kita tenang sebentar dan kembali mengingat janji Tuhan, bahwa Tuhan senantiasa bersama-sama dengan kita, kita tidak akan tunduk terhadap situasi. Mari kita belajar untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan. Lihatlah terlebih dahulu apa yang Firman Tuhan katakan mengenai situasi kita, lalu buatlah tindakan atau keputusan berdasar yang tertulis di dalamnya. (penulis: @mistermuryadi)

JANGAN MEMERCAYAI MATA DAN TELINGA ANDA LEBIH DARI FIRMAN TUHAN

Bahan renungan:

2 Petrus 1:19a Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi.

Petrus adalah salah satu dari tiga orang yang dipilih untuk menyaksikan Yesus dimuliakan, wajah-Nya bersinar, dan pakaiannya bercahaya seperti matahari. Petrus juga menyaksikan kehadiran Musa dan Elia pada saat itu. Saya percaya Petrus sangat diberkati memiliki pengalaman supranatural seperti itu.

(Baca juga: MENJADI ORANG YANG LEMBUT TIDAK BERARTI LEMAH)

Namun Petrus mengatakan ada yang lebih spesial dibandingkan pengalaman supranatural tersebut, yaitu ketika dirinya diteguhkan oleh Firman Tuhan. Tidak semua orang mungkin mendapatkan kesempatan mengalami yang Petrus alami, tetapi semua orang memiliki Firman Tuhan.

Kebenaran Firman Tuhan adalah alat uji paling penting untuk semua penglihatan, nubuatan, dan hal-hal yang supranatural. Jika tidak sesuai kebenaran Firman Tuhan, artinya hal tersebut tidak berasal dari Tuhan, abaikan.

(Baca juga: LIMA ALASAN MENGAPA KITA PERLU FIRMAN TUHAN SETIAP HARI)

Itulah yang Petrus coba ingatkan kepada kita semua, supaya kita menjadikan Firman Tuhan pedoman hidup tertinggi kita. Situasi tidak dapat mengubah janji Firman Tuhan, tetapi janji Firman Tuhan dapat mengubah situasi. Langit dan Bumi akan lenyap, tetapi Firman-Nya tinggal tetap. (penulis: @mistermuryadi)

HATI YANG SUKACITA ADALAH OBAT PALING MUJARAB DI DUNIA

Bahan renungan:

Amsal 17:22 Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Hampir setiap hari saya melihat iklan krim perawatan awet muda. Mulai yang dipakai sehari sekali, sampai yang tiga kali sehari. Namun, berdasarkan pengamatan pribadi, obat awet muda paling manjur di dunia adalah hati yang penuh sukacita. Tidak hanya awet muda saja, hati yang sukacita membuat tubuh lebih sehat dan usia lebih panjang. Pernyataan tersebut tidak hanya ditulis Alkitab ribuan tahun lalu, Dr. Shigeo Haruyama dalam bukunya berjudul The Miracle of Endorphin pun membuktikan demikian.

(Baca juga: TIDAK PERLU BERLEBIHAN MERESPONS MASALAH ANDA)

Stres, depresi, gelisah, kecewa, kepahitan, ketakutan, atau kuatir adalah emosi-emosi negatif yang muncul ketika Anda merasa dan berpikir bahwa masalah yang Anda hadapi lebih besar dari kekuatan Anda. Saya membahas tentang hal ini kemarin, bahwa masalah yang kita hanyalah masalah yang biasa, tidak melebihi kekuatan kita. Anda dapat membacanya lagi.

Jika Anda tahu bahwa Tuhan senantiasa bersama Anda dan janji-Nya kekal untuk Anda, maka hati dan pikiran Anda tidak akan pernah ada dalam kondisi stres, depresi, takut, atau kuatir. Hati dan pikiran Anda akan senantiasa bersukacita menghadapi apa pun. Ketika dokter mengatakan Anda sakit kanker, Anda dapat berkata, “Wah, ini akan menjadi kesaksian yang hebat.” Ketika perusahaan tempat Anda bekerja gulung tikar, Anda dapat berkata, “Tuhan pasti sedang mempersiapkan pekerjaan yang jauh lebih baik untuk saya.”

Itu yang terjadi pada Yusuf ketika dia dibuang oleh kakak-kakaknya, lalu dijual sebagai budak, dan dipenjara. Yusuf tetap bersukacita menghadapi semua itu karena dia tahu bahwa Tuhan senantiasa menyertainya (Kejadian 39:2-4). Yusuf tidak stres atau depresi. Yusuf bersukacita. Begitu juga Paulus. Sementara para tahanan lain bersungut-sungut dan menangisi diri, Paulus malah bernyanyi memuji menyembah Tuhan (Kisah Para Rasul 16:24-25).

(Baca juga: ORANG BAIK MATI MUDA, APAKAH TUHAN YANG MERENCANAKANNYA?)

Hati yang sukacita membuat kita dapat melihat hal yang baik di tengah banyaknya keburukan yang terjadi. Hati yang sukacita membuat kita optimis menghadapi kehidupan ini. Sukacita semacam itu tidak dapat dibuat-buat. Sukacita itu hanya datang ketika Anda benar-benar mengenal Pribadi Tuhan yang baik dan berpegang kepada janji setia-Nya yang tidak pernah gagal. (penulis: @mistermuryadi)

FOKUS PADA MASALAH, HANYA MEMBUAT MASALAH BERTAMBAH BESAR

Bahan renungan:

1 Samuel 17:10-11 Pula kata orang Filistin itu: “Aku menantang hari ini barisan Israel; berikanlah kepadaku seorang, supaya kami berperang seorang lawan seorang.” Ketika Saul dan segenap orang Israel mendengar perkataan orang Filistin itu, maka cemaslah hati mereka dan sangat ketakutan.

Setiap orang tentu menginginkan jalan keluar setiap kali menghadapi masalah. Namun sayangnya, banyak orang berlama-lama memikirkan, mendengarkan, dan fokus kepada masalahnya, daripada kepada jalan keluarnya.

(Baca juga: JANGAN MEMBESAR-BESARKAN MASALAH)

Suatu hari seorang pengusaha ditipu ratusan juta oleh sahabatnya. Hal itu sangat menyakitkan pengusaha tersebut. Karena tidak terima terhadap perbuatan sahabatnya, sang pengusaha merencanakan membalas dendam. Selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, sang pengusaha mengurung diri, memikirkan bagaimana cara membalas dendam yang dapat menyakitkan sahabatnya, juga keluarga sahabatnya. Semakin hari sang pengusaha semakin larut dalam kepahitan dan akhirnya dia bangkrut, menderita, dan kehilangan semua orang yang dicintainya.

Banyak orang melakukan hal seperti yang dilakukan sang pengusaha di atas. Mereka fokus kepada masalahnya, sehingga mereka lupa bahwa Tuhan sanggup memulihkan hidup kita dan Tuhan sanggup memberikan masa depan yang indah.

Itu juga yang terjadi kepada Saul dan seluruh tentara Israel. Mereka begitu terpesona kepada Goliat. Sampai-sampai mereka lupa bahwa Tuhan yang menyertai mereka adalah Tuhan yang menciptakan Goliat. Daud berbeda. Daud memilih terpesona kepada Tuhan, daripada Goliat. Daud menyadari selama dia mengarahkan pandangannya kepada Tuhan, dia akan selalu menemukan jawaban dari masalah-masalahnya. Dan benar, Daud memenangkan pertandingan melawan Goliat tidak lebih dari satu menit. Masalah yang dianggap begitu rumit oleh Saul, dilewati dengan sangat mudah oleh Daud.

(Baca juga: “SAYA MENOLAK UNTUK MENYERAH KEPADA SITUASI”)

Satu hal yang saya pelajari dari peristiwa di atas. Ternyata bukan besar kecilnya masalah yang menjadi hambatan bagi hidup kita, tetapi kepada siapa kita arahkan pandangan saat kita menghadapi masalah. Masalah kecil dapat menjadi besar ketika perhatian kita fokus kepada masalah. Sebaliknya, masalah besar terasa begitu mudah dilalui ketika kita menggantungkan sepenuhnya fokus kita janji Tuhan yang kekal. (penulis: @mistermuryadi)

“SAYA MENOLAK UNTUK MENYERAH KEPADA SITUASI”

Bahan renungan:

Yudas 3 Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.

Terkadang situasi dan kondisi yang kita alami membuat kita lupa bahwa kita adalah anak Raja di atas segala raja, bahwa Bapa kita adalah Pencipta Alam Semesta. Situasi dan kondisi tidak hanya dapat membuat kita amnesia terhadap identitas kita di dalam Kristus, tetapi juga berpotensi mengendalikan hidup kita. Ya, karena rasa takut dan kuatir, akhirnya kita melakukan atau memutuskan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan.

(Baca juga: SANG SUMBER KEBERHASILAN ADA DI PIHAK ANDA)

Semua orang tahu bahwa mencuri itu salah, tetapi karena ada orang-orang yang dikuasai oleh rasa takut dan kuatir, akhirnya mereka memutuskan untuk mencuri. Teman, jangan takut atau kuatir, tetaplah tenang. Percayalah kepada janji setia-Nya.

Teman, jangan menyerah terhadap situasi. Ada Tuhan yang senantiasa bersama Anda. Percayalah tangan-Nya menggenggam erat Anda dan suara-Nya yang lembut sedang meyakinkan Anda untuk percaya kepada kebenaran-Nya.

(Baca juga: LIMA TIPS SEBELUM ANDA MEMBUAT RESOLUSI TAHUN DEPAN)

Kadang jalan yang kita tempuh terlihat berliku-liku, seolah jalan tersebut tidak memberi kepastian, tetapi selama Anda berjalan bersama Tuhan, Anda tidak perlu kuatir, karena Dia tidak akan menuntun Anda ke jalan buntu. Dia menuntun Anda ke padang berumput hijau, ke air yang tenang, dan ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Yang perlu Anda lakukan hanyalah percaya kepada tuntunan-Nya. (penulis: @mistermuryadi)