SUDAH SEJAUH MANA ANDA BERJALAN DI TAHUN INI?

Bahan renungan:

2 Samuel 16:13 Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.

Tidak terasa, kita sudah berada di pertengahan tahun 2018. Mungkin banyak yang telah terjadi di dalam kehidupan Anda selama enam bulan terakhir. Mungkin juga, belum ada satu hal pun yang terjadi, selain dari rutinitas yang Anda jalani sejak tahun-tahun sebelumnya.

(Baca juga: MENJADI ORANG YANG SADAR-KRISTUS)

Hari ini, ijinkan saya untuk mengingatkan resolusi yang telah Anda rencanakan awal tahun kemarin. Sudah sejauh mana Anda menjalaninya? Saya berharap Anda belum melupakan rencana-rencana luar biasa yang ingin Anda raih tahun ini. Jika Anda lupa, setidaknya Anda dapat memulainya hari ini. Masih ada enam bulan sebelum kita beralih ke tahun yang baru.

Saya belajar bahwa tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Saya hanya ingin meneguhkan agar Anda tidak menunda lebih lama lagi. Mulailah sekarang. Entah itu keinginan untuk belajar keterampilan baru, membawa hubungan bersama pasangan ke jenjang yang lebih tinggi, melangkah keluar dari zona nyaman, melakukan lebih banyak untuk Tuhan, membuka sebuah bisnis, meminta maaf atau memaafkan seseorang, atau apa pun itu, selama Roh Kudus sudah memberikan “lampu hijau” di hati Anda, mulailah melangkah.

Bergeraklah mendekat kepada rencana-rencana yang telah Anda doakan awal tahun kemarin. Seleksi dan mulai singkirkan hal-hal yang membuat Anda semakin jauh dari tujuan hidup Anda. Bangkitlah dan kembali fokus kepada tujuan dan harapan Anda tahun ini.

(Baca juga: TIGA ALASAN MENGAPA SAYA MENOLAK UNTUK MENYERAH)

Mari, jadikan tahun 2018 menjadi tahun yang signifikan bagi perubahan hidup Anda. Jangan puas dengan kehidupan yang biasa-biasa. Jangan menyerah. Tuhan ciptakan Anda luar biasa dan Dia janjikan Anda hal-hal yang luar biasa. Lanjutkanlah lagi perjalanan Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

RENCANAKAN HARI-HARI ANDA

Bahan renungan:

Yohanes 17:4 Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya.

Saya sangat mengagumi Yesus. Ya, memang setiap orang percaya pasti mengagumi Yesus. Maksud saya, salah satu hal yang membuat saya sangat kagum kepada Yesus adalah bagaimana Dia merencanakan pelayanan-Nya di dunia ini.

(Baca juga: TUHAN MENGAWASI DAN MENJAGA KITA SEPANJANG TAHUN 2018)

Bayangkan, Yesus hanya melayani selama tiga setengah tahun, tetapi Dia menggenapi seluruh nubuatan Perjanjian Lama mengenai diri-Nya. Bahkan, di tengah tekanan dan penderitaan di kayu salib, Yesus masih sempat menggenapi ucapan “Aku haus” (Yohanes 19:28). Sungguh mengagumkan!

Yesus melakukan dan menyelesaikan begitu banyak hal ketika ada di dunia ini. Yesus selalu ada di waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan melakukan hal yang tepat. Dia menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, membangkitkan orang mati, bertamu ke rumah Zakheus, bertemu wanita Samaria, menyelamatkan wanita pelacur yang hendak dirajam batu, ke rumah Yairus, mengunjungi dan menyembuhkan ibu mertua Petrus, dan masih banyak hal lagi.

Hanya sedikit sekali ayat yang menuliskan Yesus tidur atau beristirahat, jauh lebih banyak ayat menceritakan aktivitas Yesus yang sangat padat setiap harinya. Jika sedang membaca kitab Matius, Markus, Lukas, atau Yohanes, peristiwa demi peristiwa yang saling bertalian satu sama lain, yang begitu padatnya, terkadang membuat saya lupa bahwa Yesus tidak melakukan semua hal tersebut hanya dalam satu hari.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita merencanakan hari-hari kita? Atau, ada hari-hari di mana kita tidak tahu harus melakukan apa, bahkan malas bergerak mengerjakan hal-hal yang sebenarnya perlu kita kerjakan? Jika demikian, tidak heran tidak banyak hal yang kita selesaikan di dalam kehidupan kita. Lebih banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Saya ingin kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita harapkan sangat berbanding lurus dengan apa yang kita rencanakan. Jika kita mengharapkan sesuatu, tetapi tidak membuat perencanaan, pada dasarnya kita tidak benar-benar mempercayai pengharapan kita akan terjadi. Kita sedang bermimpi.

Orang berharap dan bermimpi sama-sama menginginkan sesuatu yang besar. Yang membedakan adalah, orang yang berharap merencanakan dan bertindak, sedangkan yang bermimpi, bangun tidur dan kemudian kembali melanjutkan tidurnya.

(Baca juga: ORANG YANG BERHARGA MELAKUKAN HAL-HAL YANG BERHARGA)

Jika kita mengharapkan bisnis yang berkembang, belajar dari orang-orang yang sukses dalam bisnis dan mulai rencanakan sesuatu untuk bisnis tersebut. Buat target dan evaluasi. Jika kita mengharapkan studi kita berhasil, rencanakan jam-jam dan hari-hari Anda belajar. Bagaimana mungkin kita dapat memiliki nilai yang baik jika kita hanya belajar pada saat tidak ada teman yang mengajak jalan. Jika kita mengharapkan mendapatkan teman hidup yang setia, cinta tuhan, rajin pelayanan, pastikan kita hidup seperti itu terlebih dahulu. Jika tidak, kuatkan hati kita saat penolakan terjadi. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

HIDUP DALAM VISI TUHAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1* Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. 5a* Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya …

Teman, Abraham hidup mengikuti visi TUHAN, bukan visi TUHAN mengikuti hidup Abraham. Ada perbedaan besar di dalam kedua pernyataan tersebut. Sebelum saya membahas lebih jauh mengenai hal di atas, mari kita memperhatikan ayat renungan kita pada hari ini. TUHAN memberikan visi atau tujuan ilahi kepada Abraham, yaitu meninggalkan tanah kelahirannya menuju Tanah Perjanjian. Anda lihat di dalam ayat 5 bagaimana Abraham pergi meninggalkan tanah kelahirannya dan dia membawa serta anak, istri, dan saudaranya.

(Baca juga: DEFINISI ORANG DEWASA MENURUT FIRMAN TUHAN)

Apa yang Firman TUHAN ingin sampaikan melalui peristiwa di atas?

Banyak orang, ketika TUHAN memberikan mereka visi atau tujuan ilahi, mereka melakukan hal sebaliknya. Hanya karena pekerjaan yang lebih menarik, tawaran ke luar negeri, bisnis yang lebih menguntungkan, banyak orang yang memilih menyesuaikan visi TUHAN dengan pekerjaan, bisnis, atau jam kerja mereka. Bukan mereka ikut visi TUHAN, tapi visi TUHAN ikut mereka.

Misalnya: TUHAN memanggil Anda untuk melayani di sebuah gereja, lalu datang tawaran bekerja di luar negeri dengan gaji menggiurkan. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan dalam situasi tersebut? Jika TUHAN memang memanggil Anda untuk pergi keluar negeri, sama sekali tidak masalah. Namun yang sering terjadi, orang memilih untuk mengambil kesempatan karena berpikir kesempatan itu tidak akan datang dua kali. Pada akhirnya dia memindahkan sekolah anaknya, istrinya, dan seluruh kehidupannya ke luar negeri dan menghibur diri dengan mengatakan, “Ya, di sana kan juga bisa melayani. Di sana kan juga ada gereja.” Memang benar di sana ada gereja dan pelayanan, hanya saja di sana bukanlah visi yang TUHAN taruhkan di dalam hidup Anda.

(Baca juga: KITA YANG DIUNTUNGKAN KETIKA IKUT PERINTAH TUHAN)

Abraham memilih berjalan menuju Tanah Perjanjian mengikuti visi TUHAN. Kehidupannya, mata pencahariannya, dan keluarganya mengikuti visi tersebut. Hasilnya? Firman Tuhan dalam Kejadian 24:1 menjawabnya, “Adapun Abraham telah tua dan lanjut umurnya, serta diberkati TUHAN dalam segala hal.” Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

TINGGALKAN ORANG-ORANG YANG NEGATIF

Bahan renungan:

2 Timotius 2:17-18 Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.

Teman, jika Anda bergaul dengan orang-orang yang suka mengucapkan kata-kata negatif, pesimis, dan tidak membangun, lambat laut Anda akan tertular. Jangan heran kalau suatu hari Anda mendapati diri Anda mengucapkan kata-kata yang sama dengan mereka dan lambat laun Anda hidup seperti mereka.

Lalu, apa langkah paling tepat yang harus kita lakukan jika kita ada di dalam posisi tersebut?

Hanya ada satu cara, tinggalkan mereka. Jangan bersahabat dengan mereka. Saya tidak katakan untuk tidak berteman lagi dengan mereka, yang saya maksud adalah jangan habiskan waktu Anda bersama mereka terlalu lama dan terlalu sering. Bicarakan yang seperlunya saja.

Saya berikan ilustrasi. Anggaplah Anda ingin mahir bermain gitar. Kira-kira jika setiap hari Anda bergaul dengan para pengusaha dan menghabiskan waktu dengan mereka, apakah Anda akan mahir bermain gitar suatu hari nanti? Tentu saja tidak. Kemungkinan besar Anda akan menjadi pengusaha, mungkin pengusaha yang menjualbelikan gitar.

Teman, jangan habiskan waktu Anda dengan orang-orang yang membawa Anda jauh dari Kristus, tidak mendukung visi Anda, terutama yang negatif dan melemahkan IMAN Anda. Karena, persahabatan dengan mereka tidak akan membawa Anda semakin dekat dengan tujuan Anda, melainkan semakin jauh. Seorang motivator pernah berkata, “Tunjukan teman-teman Anda, maka saya akan menunjukkan masa depan Anda. (penulis: @mistermuryadi)

HIDUP DALAM RENCANA TUHAN

Bahan renungan:

Mazmur 26:3 Sebab mataku tertuju pada kasih setiaMu, dan aku hidup dalam kebenaranMu.

Jika Anda tidak memiliki tujuan, apa pun yang Anda lakukan, tidak peduli seberapa banyak atau sibuknya, pada dasarnya Anda sedang berjalan di tempat. Penting sekali untuk mengetahui apa tujuan Tuhan menciptakan kita di dunia ini. Saya percaya Tuhan menciptakan kita lebih dari pada sekadar untuk lahir, hidup, dewasa, bekerja, menikah, berkeluarga, dan meninggal.

Banyak orang percaya memutuskan sesuatu di dalam hidupnya bukan berdasarkan tujuan atau visi yang TUHAN berikan, melainkan berdasarkan kesempatan. Kalau datang kesempatan yang menurutnya baik, maka tanpa pikir panjang dia mengambilnya. Padahal tidak semua kesempatan yang terlihat baik membawa kita semakin dekat dengan TUHAN.

Saya sering katakan kepada jemaat yang saya layani bahwa kesempatan dari TUHAN pasti datang berkali-kali. Tidak peduli seberapa sering kita menolaknya, kesempatan itu akan datang kembali, karena TUHAN ingin kita mengambilnya. Saya justru mencurigai kesempatan yang hanya datang sekali seumur hidup bukan berasal dari TUHAN. Contohnya kesempatan untuk bertobat. Bayangkan jika kesempatan itu hanya datang sekali, mungkin tidak ada seorang pun yang mengenal YESUS.

Teman, jangan biarkan apapun dan siapa pun mengalihkan Anda dari rencana TUHAN. Tempat paling aman bagi hidup kita adalah ketika kita hidup di dalam rencanaNYA. (penulis: @mistermuryadi)

DICIPTAKAN UNTUK MEMBERKATI DUNIA

Bahan renungan:

Matius 5:13-14 “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Yohanes 14:12 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.

Sangat tidak adil jika Alkitab mengatakan sesuatu yang tidak bisa kita lakukan. Teman, Anda harus percaya bahwa jika Alkitab mengatakan sesuatu, hal tersebut YA dan AMIN bagi kita. Pasti terjadi!

Ketika Tuhan menciptakan manusia, di dalam setiap manusia terdapat benih TUHAN yang memampukan Anda melakukan perkara-perkara ajaib. Anda adalah anak rajawali, bukan anak ayam. Teman, terlalu kecil kalau Anda berpikir Anda hanya dipanggil untuk diri Anda sendiri. Terlalu kecil kalau Anda berpikir Anda dipanggil hanya untuk keluarga Anda atau bahkan hanya untuk INDONESIA.

Firman Tuhan katakan Anda adalah garam dan terang dunia. Anda dipanggil untuk memberkati dunia ini. Potensi yang TUHAN taruhkan di dalam diri Anda adalah potensi untuk menjadi berkat bagi dunia. Jangan biarkan iblis terus menerus menipu Anda dan membuat Anda berpikir bahwa Anda orang yang kecil dan gagal. BAPA kita adalah Pencipta Semesta ini, kita sebagai anak-anakNYA adalah orang-orang yang diciptakan untuk menjadi besar. (penulis: @mistermuryadi)

JIKA ANDA PERCAYA, ANDA PASTI BERTINDAK

Bahan renungan:

Kejadian 11:1 dan 4 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.

Jika hati Anda mempercayai sesuatu, tubuh Anda secara otomatis akan bertindak atau melakukan sesuatu seturut dengan yang Anda percayai. Ketika Abram mendengar suara Tuhan, Abram memutuskan untuk percaya, dan Firman Tuhan katakan, “Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan Tuhan kepadanya …”

Banyak orang yang ingin menjadi seorang manager di kantornya atau menjadi pebisnis berpenghasilan besar, tetapi tidak mempercayainya. Hal tersebut dapat dengan mudah terlihat dari cara hidupnya, responsnya, dan apa yang dia pelajari. Kalau dia percaya akan menjadi seorang manajer, dia akan bergaya seperti seorang manajer, memiliki disiplin seorang manager, dan memiliki pengetahuan layaknya seorang manajer.

Teman, tidak ada satu pun pebisnis sukses di dunia yang hidupnya bermalasan-malasan, acuh tidak acuh, dan tidak memiliki disiplin. Atau dengan kata lain, jika Anda menginginkan menjadi orang yang sukses, namun hidup dengan gaya yang berantakan, artinya Anda memang tidak mempercayai bahwa Anda akan menjadi pebisnis yang sukses. Anda sedang berfantasi!

Suatu hari saya bertanya kepada seorang anak muda di gereja, “Kira-kira lima tahun lagi kamu ingin menjadi apa?” Dia menjawab, “Saya ingin pintar bermain gitar, memiliki sebuah band rohani, dan meluncurkan album. Saya ingin ada tampil di panggung yang ditonton ribuan anak muda, supaya nama Tuhan dipermuliakan.” Sungguh butuh IMAN untuk mengatakan hal tersebut mengingat anak ini sama sekali belum bisa bermain gitar. Hati saya bergetar dan bersorak gembira mendengar rencana dan keinginannya. Saya mendukungnya.

Selang 2 tahun saya bertanya kepadanya, “Wah, sekarang sudah jago dong, nih, main gitarnya?”  Dia menjawab, “Boro-boro koh, ini mau latihan gitar di rumah saja tidak sempat-sempat. Senar gitar putus dan sudah tiga bulan belum sempat menggantinya, karena teman-teman sekolah sering mengajak saya pergi belakangan ini. ” Saya hanya tertawa kecil di dalam hati.

Bersamaan dengan itu, saya menanyakan hal serupa kepada anak muda lain. Anak muda kedua ini ingin menjadi pebisnis sukses. Selang dua tahun saya melihat dia sedang membangun bisnisnya melalui uang yang sedikit demi sedikit dia kumpulkan, dia juga menyisihkan uangnya untuk membeli buku-buku soal bisnis, men-follow sosial media para pebisnis besar, dan banyak bertanya hal-hal soal bisnis kepada teman-teman gereja yang berbisnis. Saya tersenyum bangga di dalam hati, karena dia mempercayai bahwa dirinya adalah seorang pebisnis yang sukses. (penulis: @mistermuryadi)