TERHADAP TUHAN, JANGAN TERLALU BANYAK PERTIMBANGAN

Bahan renungan:

1 Korintus 15: 32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.

Adalah naluri manusia untuk mempertimbangkan segala sesuatu. Mempertimbangkan berdasarkan untung atau rugi, suka atau tidak suka, dan mau atau tidak mau. Tidak ada yang salah dengan mempertimbangkan sesuatu. Amsal 15:22 mencatat, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”

(Baca juga: KEMAMPUAN KITA UNTUK TINGGAL TENANG SANGAT KRUSIAL)

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika sikap mempertimbangkan di atas kita ukurkan kepada Tuhan. Terhadap yang satu itu, yang perlu kita tonjolkan bukan pertimbangan kita, melainkan kepercayaan kita.

Kadang, kita tidak mempertimbangkan jam kerja yang mengganggu waktu ibadah, klien bisnis yang mengajak berbuat curang, sahabat yang tidak membawa kita semakin dekat kepada Yesus, tetapi lama sekali mempertimbangkan untuk sesuatu yang jelas-jelas Firman Tuhan perintahkan.

(Baca juga: CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM)

Saya ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu mempertimbangkan jika Tuhan mengatakan kepada kita untuk meletakkan tangan kepada orang yang sakit, menceritakan kabar baik kepada mereka yang terhilang, menabur dan memberikan persepuluhan. Juga, tidak perlu mempertimbangkan jika Tuhan mengatakan untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang menyakiti kita. Terhadap Tuhan dan kebenaran-Nya, yang perlu kita lakukan adalah mengatakan “YA” tanpa ragu. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN, MEMERCAYAINYA, LALU BERTINDAK

Bahan renungan:

Matius 7:26-27 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Teman, tahukah Anda bahwa mendengar Firman Tuhan saja tidak cukup? Anda perlu memercayainya dan bertindak berdasarkan hal tersebut. Ayat renungan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas. Orang yang hanya mendengar Firman Tuhan, namun tidak melakukannya, sama seperti orang yang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir. Sepertinya terdengar sedikit kasar membaca Alkitab menuliskan kata “bodoh” kepada orang-orang tersebut. Tapi, itulah kenyataannya. Mereka bodoh karena berpikir ada cara alternatif yang lebih benar dari kebenaran Firman Tuhan.

(Baca juga: KITA DISUCIKAN OLEH DARAH YESUS)

Sebagai contoh, Firman Tuhan mengatakan jika kita meletakkan tangan ke atas orang sakit, orang tersebut akan sembuh. Saya percaya semua orang Kristen pernah mendengar ayat itu. Namun, banyak orang Kristen memilih berdoa dalam hati saat mendoakan orang sakit. Mereka tidak berani meletakkan tangan mereka dan mengatakan, “Di dalam nama Yesus, saya mengusir setiap sakit penyakit, dan hari ini jadilah sembuh.” Mereka berpikir berdoa dalam hati dapat menyembuhkan orang sakit, atau dengan kata lain, mereka berpikir ada cara lain agar orang sakit itu sembuh.

(Baca juga: NERAKA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA)

Teman, jadilah berani dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan dan setiap janji yang tertulis di dalamnya YA dan AMIN bagi hidup setiap orang percaya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KETAKUTAN BUKAN MOTIVASI TERBAIK UNTUK MELAKUKAN PERINTAH TUHAN

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Sepanjang menjadi orang percaya, saya bukan hanya memelajari bahwa ada kekuatan yang sangat luar biasa ketika kita percaya, tetapi juga ketika kita ketakutan. Percaya menghasilkan kekuatan yang positif, sedangkan ketakutan negatif.

(Baca juga: MENGAPA MULUT KITA CENDERUNG MENGUCAPKAN YANG BURUK?)

Sama seperti percaya, ketakutan dapat mendorong kita untuk berdoa, memberi, menginjil, mendeklarasikan janji Tuhan, dan melakukan hal-hal lain yang Firman Tuhan perintahkan. Namun, harus saya katakan bahwa ketakutan bukanlah motivasi terbaik untuk melakukan hal-hal di atas.

Pernah seseorang berkata kepada saya, “Saya sudah melakukan seperti yang Firman Tuhan perintahkan, tapi mengapa saya belum sembuh juga?” Perlu kita mengerti bahwa yang terpenting bukan melakukannya, melainkan percayanya. Motivasi terbaik melakukan Firman Tuhan adalah karena percaya, bukan karena ketakutan.

Saya berikan contoh. Suatu hari saya melayani seseorang yang mengalami sakit sangat parah. Dokter sudah angkat tangan terhadap orang ini dan dia divonis akan meninggal dalam waktu empat sampai enam bulan. Di tengah ketakutannya akan kematian, orang tersebut mulai mendatangi ibadah-ibadah kesembuhan. Ketika hamba Tuhan di ibadah A mengatakan, “Masalah kamu adalah kurang bergaul dengan Firman Tuhan. Mulai besok, harus rajin baca Alkitab,” orang ini melakukannya. Begitu juga ketika, hamba Tuhan lain di ibadah B mengatakan, “Kamu harus minum minyak agar sembuh total,” dia pun dengan segera meminum minyak sayur mentah sebanyak dua tiga botol. Selang beberapa bulan, akhirnya dia meninggal dunia.

Apa yang sebenarnya terjadi? Perhatikan.

Pada dasarnya, ketakutan muncul ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya dikasihi oleh Tuhan. Bahwa Tuhan hanya merancangkan yang baik bagi dirinya. Ketakutan dapat menipu. Di bagian luar, seolah dia melakukan yang Tuhan perintahkan, tetapi di bagian dalam, dia tidak percaya akan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketakutan dapat membuat orang rela melakukan apa saja.

(Baca juga: MUNGKIN MASA LALU ANDA BURUK, TETAPI TIDAK MASA DEPAN ANDA)

Itu sebabnya, Firman Tuhan jelas memberitahu kita bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan, karena kasih yang sempurna, yaitu kasih Bapa kepada kita, melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18). (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

ABRAHAM KELUAR DARI ZONA NYAMAN KE TEMPAT YANG LEBIH NYAMAN

Bahan renungan:

Kejadian 12:1-2 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.”

Tuhan memanggil Abraham ke sebuah negeri yang sama sekali belum pernah dilihat ataupun didengar olehnya. Untuk meyakinkan Abraham, Tuhan menyertai Abraham dengan janji-janji yang luar biasa, yaitu menjadikannya bangsa yang besar, memberkatinya, membuat namanya masyhur, dan menjadi berkat untuk bangsa-bangsa. Tanpa ragu sedikitpun, Abraham percaya kepada Tuhan dan menaati perintah Tuhan itu.

(Baca juga: JANGAN HIDUP MENURUT CARA MANUSIA)

Abraham adalah contoh orang yang berani keluar dari zona nyaman. Abraham tidak mempertanyakan Tuhan. Abraham memilih untuk percaya kepada perintah Tuhan dan janji setia-Nya.

Teman, perlu kita mengerti bahwa ketika Tuhan memanggil kita untuk keluar dari zona nyaman kita, seperti pergi ke sebuah tempat, melakukan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu, Dia menyertai kita dengan janji-janji yang luar biasa. Tuhan ingin membawa kita keluar dari zona nyaman ke tempat yang jauh lebih nyaman.

Zona nyaman adalah sebuah situasi di mana kita tidak lagi menghadapi tantangan, tidak lagi mengalami kegagalan, atau tidak lagi mengambil risiko. Atau dengan kata lain, zona nyaman adalah sebuah tempat di mana kita perlu tidak lagi bergantung kepada Tuhan sepenuhnya. Contohnya jika kita memberi persembahan dengan jumlah sama dari tahun ke tahun. Hal itu membuat kita tidak lagi bergantung kepada Tuhan. Sebaliknya, jika kita memberikan jumlah dua atau tiga kali lipat lebih besar, itu membuat kita kembali bergantung kepada Tuhan. Begitu juga halnya ketika kita memutuskan terlibat ke dalam sebuah pelayanan. Hidup dengan rutinitas sehari-hari selama bertahun-tahun membuat kita lupa bahwa kita memerlukan Tuhan. Namun ketika kita mulai terlibat ke dalam pelayanan di sela-sela rutinitas kita, kita kembali memerlukan Tuhan.

Abraham tahu pasti bahwa ketika dia meninggalkan tanah kelahirannya menuju tanah yang Tuhan yang janjikan akan muncul tantangan-tantangan baru, tetapi Abraham tidak gentar, karena dia tahu siapa yang memegang hidupnya dan kepada siapa dia berpegang. Abraham percaya bahwa jika Tuhan yang memerintahkannya melakukan sesuatu, hal tersebut pasti mendatangkan kebaikan bagi dirinya.

(Baca juga: TUHAN SUDAH MENENTUKAN TAKDIR DAN NASIB MANUSIA)

Teman, Tuhan yang sama memanggil kita untuk memberkati kita dan menjadikan kita berkat bagi banyak orang. Sama seperti Abraham, maukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mempercayakan hidup kita kepada tuntunan dan janji setia Tuhan? (penulis: @mistermuryadi)

CARA MENGATASI KRISIS: LIHATLAH KESELAMATAN DARI TUHAN (bagian 03)

Bahan renungan:

Keluaran 14:13 Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: “Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya.

Ini adalah hari ketiga kita membahas mengenai cara mengatasi krisis. Satu fakta yang pasti, bahwa selama kita hidup di dunia, kita tidak dapat menghindari masalah. Bukan Tuhan yang memberikan atau pun mengijinkan masalah tersebut, Yakobus 1:14 katakan, “Manusia dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.” Itu artinya, masalah muncul ketika hati kita terpikat oleh sesuatu selain Tuhan dan kebenaran-Nya.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: BERDIRILAH TETAP (bagian 02))

Jika hati Anda terarah sepenuhnya kepada Tuhan dan kebenaran-Nya, Anda akan berpijak dari satu kemenangan kepada kemenangan yang lebih besar.

Saya berikan satu buah fakta dan saya harap fakta ini tidak membuat Anda tertuduh, karena bukan itu tujuan saya. Saya hanya bermaksud mengutarakan kebenaran bagi Anda. Kondisi buruk yang terjadi di dalam hidup Anda adalah akibat salah satu dari dua hal ini: Anda tidak membuat keputusan berdasarkan Firman Tuhan atau karena Anda mengabaikan mencari kebenaran Firman Tuhan sebelum membuat keputusan. Sederhananya, jika Anda memutuskan sesuatu berdasarkan kebenaran Firman Tuhan, Anda pasti mendapatkan hasil yang dijanjikan oleh Firman Tuhan.

Itu sebabnya Tuhan berkata kepada Bangsa Israel, “LIHATLAH KESELAMATAN DARI TUHAN.” Anda bisa saja berusaha selamat dengan cara sendiri, tapi hasil akhirnya pasti tidak akan sebaik ketika Anda berusaha selamat dengan cara TUHAN.

Kata “LIHATLAH” dalam ayat di atas diambil dari bahasa Ibrani ra’a yang artinya sadarilah, pikirkanlah, renungkanlah, dan pandanglah. Jadi bukan hanya melihat sambil lalu, melainkan mem-fokus-kan seluruh perhatian dan pikiran hanya kepada Tuhan dan mendahulukan kebenaran-Nya.

Teman, setiap kita butuh Firman Tuhan setiap hari. Tidak cukup hanya sesekali membaca dan merenungkan Firman Tuhan, atau lebih parahnya baru mencari Firman Tuhan ketika sudah dalam masalah besar.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: JANGAN TAKUT (bagian 01))

Mari bangun kebiasaan untuk bergantung kepada Firman Tuhan jauh sebelum masalah datang, sehingga Anda tahu bagaimana cara mengatasi ketakutan, keraguan, dan kekuatiran Anda. Semakin sering Anda membaca dan merenungkan Firman Tuhan, semakin banyak hikmat dan jalan keluar yang Anda dapatkan untuk mengatasi masalah-masalah Anda. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN KERASKAN HATI ANDA TERHADAP KEBENARAN

Bahan renungan:

Ibrani 3: 7-8 Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun.

Teman, semakin sering kita menolak atau menghindari kebenaran Firman Tuhan, hati kita akan semakin keras atau kebal terhadap kebenaran. Misalnya, dulu, setiap kali tidak pergi ke gereja rasanya seperti ada yang kurang. Namun, saat hal tersebut dilakukan terus menerus, kita akan mulai terbiasa untuk tidak ke gereja. Bahkan, kita akan mengajak orang lain untuk tidak pergi ke gereja dan menemani kita.

(Baca juga: APAKAH ROH KUDUS AKAN PERGI KALAU KITA HUJAT?)

Sering, ketika saya melakukan konseling, pada dasarnya banyak orang sudah tahu apa yang benar yang harus dilakukan, hanya saja mereka menolak melakukannya.

Hal yang sama dilakukan oleh Bangsa Israel di padang gurun. Mereka tahu bahwa Tuhan menuntun mereka keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian, tetapi mereka selalu memiliki alasan untuk mengabaikan suara Tuhan. Mereka selalu memiliki alasan untuk tidak melakukan apa yang Tuhan katakan. Anda bisa bayangkan hanya karena tidak makan daging mereka bersungut-sungut kepada Tuhan. Padahal Tuhan memberikan kepada mereka manna, makanan yang jauh lebih baik. Akibatnya, lama kelamaan hati bangsa ini mengeras dan tidak peduli terhadap suara Tuhan.

(Baca juga: ORANG TERDEKAT ANDA MENENTUKAN MASA DEPAN ANDA)

Teman, jika hari ini ada sesuatu yang Tuhan katakan kepada Anda, jangan ditunda lagi, sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Apa yang Firman Tuhan perintahkan kepada kita, tujuannya selalu untuk kebaikan kita. Tuhan merencanakan yang terbaik bagi Anda, jangan keraskan hati Anda terhadap kebenaran-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM

Bahan renungan:

Yesaya 55:8-9 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Sewaktu kecil, ayah saya suka menasehati supaya saya jangan menjadi orang yang cepat menyerah. Mottonya adalah, “Coba dulu sebelum mengatakan tidak bisa.” Saya dilatih untuk mengerjakan segala sesuatu sendiri. Contohnya saat memperbaiki mainan yang rusak. Setelah beberapa saat saya mencoba mengutak-atik dan gagal, barulah ayah saya turun tangan, dan memberitahukan cara memperbaiki yang benar.

(Baca juga: KEMBALIKAN KATA “KRISTEN” KE AKARNYA)

Saya rasa banyak di antara kita memiliki pengalaman seperti itu. Kita dibiarkan terlebih dahulu mencoba menyelesaikan masalah, dan jika masalah tersebut memburuk, barulah orang tua kita turun tangan.

Namun, hal di atas tidaklah tepat jika kita pakai dalam kehidupan rohani Kristen. Tuhan tidak ingin kita mengutak-atik masalah kita dengan menggunakan cara kita. Tuhan ingin setiap kali kita bertemu dengan masalah, kita langsung mengandalkan cara-Nya.

Campur tangan kita sudah pasti membuat masalah semakin runyam. Cara dan pemikiran kita sangat berbeda dengan cara dan pemikiran Tuhan. Sejauh langit dari Bumi, kata Firman Tuhan. Saat kita berpikir untuk marah dan benci, Tuhan katakan ampunilah. Saat kita berpikir untuk sedih dan kecewa, Tuhan katakan bersukacitalah. Saat kita berpikir untuk takut dan kuatir, Tuhan katakan percayalah.

(Baca juga: APAKAH IMAN KITA DAPAT MENGGERAKKAN TUHAN?)

Saya percaya setiap orang memerlukan jalan keluar dari permasalahannya. Tuhan adalah sumber jalan keluar terbaik bagi kita. Teman, berhentilah turut campur tangan, berhentilah menggunakan kekuatan sendiri, dan berhentilah menggunakan pertimbangan-pertimbangan sendiri, dan mulailah percaya kepada apa yang Tuhan katakan. Semata-mata supaya masalah Anda lekas selesai dan Anda kembali menikmati hidup indah yang Tuhan anugerahkan. (penulis: @mistermuryadi)