SELALU ADA ALASAN UNTUK MENGUCAP SYUKUR

Bahan renungan:

Mazmur 115: 18 … tetapi kita, kita akan memuji Tuhan, sekarang ini dan sampai selama-lamanya. Haleluya!

Setiap hari dan setiap saat adalah waktu paling tepat untuk bersyukur. Kita tidak perlu menunggu masalah besar selesai untuk bersyukur. Kita dapat bersyukur saat ini juga. Bersyukurlah untuk segala kebaikan dan kemurahan-Nya di dalam hidup kita. Bersyukurlah karena Yesus telah menyelamatkan dan menebus kita.

(Baca juga: INI SAATNYA MENINGGALKAN MASA LALU DAN MELANGKAH KE MASA DEPAN)

Teman, jika kita mau menghitungnya, ada ratusan, bahkan ribuan, mukjizat yang pernah Tuhan lakukan untuk kita yang dapat kita syukuri. Namun, terkadang, kita tidak menganggapnya terlalu berarti, sehingga kita kesulitan untuk mensyukurinya.

(Baca juga: KESEMBUHAN TERJADI SAAT KITA MEMBACA DAN MERENUNGKAN JANJI TUHAN)

Jika saja kita mau duduk diam, merenungi kehidupan dan mengingat betapa baiknya Tuhan, saya percaya hati kita akan mengucap syukur, karena Dia selalu menganugrahkan kepada kita kasih dan kebaikan lebih dari yang pantas kita dapatkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

YANG KITA UCAPKAN MENUNJUKKAN IDENTITAS KITA

Bahan renungan:

Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.

Sungguh tidak sulit mengetahui apa yang kita percayai. Salah satu cara termudah adalah melalui perkataan kita. Apa yang kita ucapkan mewakili bagaimana cara kita melihat diri kita, atau dengan kata lain, menunjukkan identitas kita yang sesungguhnya.

(Baca juga: ALASAN YUSUF MENOLAK GODAAN ISTRI POTIFAR)

Contoh. Jika kita sering berkata kotor, sebenarnya, seperti itulah kita memandang diri kita. Karena orang yang menyadari dirinya diberkati, dikasihi Tuhan, dan ciptaan baru, tidak akan mengucapkan kata-kata yang kotor yang menjatuhkan. Lukas 6:45 dengan gamblang mengatakan, apa yang diucapkan melalui mulut kita, meluap dari hati kita. Apa yang diucapkan melalui mulut kita menunjukkan hati kita.

Hal penting lain mengenai perkataan adalah, apa yang kita ucapkan merupakan sebuah “senjata” yang sangat ampuh jika kita menggunakannya dengan benar. Ya, hanya dengan mengucapkan sesuatu yang baik, seperti pujian, berkat, atau syukur, kita dapat membangun kehidupan orang lain, juga kehidupan kita.

(Baca juga: APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA)

Jika hari kita hanya mengucapkan sumpah serapah, kata-kata kotor, kutuk, gosip, dan sejenisnya, saya percaya hidup kita hanya berpindah dari satu stres ke stres lainnya, dari satu tekanan ke tekanan berikutnya. Sebaliknya, jika kita mengucapkan hanya yang baik, seperti mengucapkan janji Tuhan, kata-kata yang membangun, saya percaya sekalipun kita dalam situasi kurang baik, damai sejahtera dan sukacita selalu menyertai. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

MENGUCAP SYUKUR DAN BERSUKACITA DUA HAL YANG TIDAK TERPISAHKAN

Bahan renungan:

Kolose 1:12-13 dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan AnakNya yang kekasih.

Tidakkah luar biasa yang telah dilakukan oleh Tuhan kita? Dia memindahkan kita dari gelap kepada terang yang ajaib. Dia menghidupkan kita yang telah mati dan mengangkat kita menjadi anak kesayangan-Nya. Dia berikan kita kehidupan baru yang penuh damai dan sukacita. Dia layakkan kita sehingga kita berhak menerima janji-janji yang luar biasa untuk kita.

(Baca juga: SEMESTINYA KITA MENGUCAP SYUKUR LEBIH HEBAT DARI DAUD)

Apa yang saya tuliskan di atas lebih dari cukup untuk kita jadikan alasan mengucap syukur dan bersukacita setiap hari.

Mengucap syukur dan bersukacita adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Anda tidak akan pernah menemukan orang yang suka mengucap syukur, tetapi tidak bersukacita. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sangat dikasihi oleh Tuhan, hatinya akan dipenuhi dengan damai sejahtera, mulutnya akan mengucapkan syukur, dan wajahnya akan memancarkan sukacita.

(Baca juga: KETAKUTAN ADALAH CARA IBLIS MENGHAMBAT HIDUP ANDA)

Teman, sebagai warganegara Sorga, yang mengenal Sang Sumber Damai dan Sukacita, adalah hal normal bagi kita untuk memiliki hati yang melimpah dengan ucapan syukur dan sukacita. Sebaliknya, sungguh tidak normal jika hati kita dipenuhi dengan kepahitan, kebencian, sakit hati, ketakutan, dan kekuatiran. (penulis: @mistermuryadi)

SEMESTINYA KITA MENGUCAP SYUKUR LEBIH HEBAT DARI DAUD

Bahan renungan:

Mazmur 42:5 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Daud hidup sekitar seribu tahun sebelum Yesus lahir. Daud tidak pernah tahu bahwa Tuhan akan turun ke dunia, mengambil rupa manusia, dan memberikan Diri-Nya untuk menebus seluruh dunia. Daud tidak pernah mengalami Baptisan Roh Kudus. Meski ada banyak hal yang tidak diketahui oleh Daud, Daud dapat bersyukur kepada Tuhan dengan begitu luar biasa.

(Baca juga: LOT: ORANG BENAR YANG JIWANYA TERSIKSA)

Jika kita membaca keseluruhan kitab Mazmur dan menghitung jumlah kata “syukur” di kitab tersebut, kita akan takjub bahwa yang menulis semuanya itu adalah orang yang sama sekali tidak tahu mengenai Yesus. Bertolak belakang dengan hal tersebut, kita dapat membandingkan dengan kondisi kebanyakan orang pada hari ini, yang hidup di zaman anugerah. Hidup orang-orang yang mengenal Yesus, yang tahu bahwa Yesus mengorbankan Diri-Nya karena kasih yang besar, dipenuhi dengan keluh kesah, komplain, dan sungut-sungut.

Teman, saya ingin mengatakan bahwa seharusnya kita adalah orang-orang yang dapat bersyukur kepada Tuhan jauh lebih baik daripada Raja Daud. Kita mengenal Yesus dan tahu seperti apa yang telah Yesus lakukan demi kita. Juga, Roh Kudus tinggal selama-lamanya di dalam hati kita. Kita memiliki jauh lebih banyak dan jauh lebih berharga dari yang Raja Daud pernah dapatkan dan alami. Kita seharusnya dapat bersyukur jauh lebih baik daripada Daud.

(Baca juga: SAAT KITA SERAHKAN KEPADA YESUS, YANG BIASA MENJADI LUAR BASA)

Saya percaya jika Daud dapat memilih zaman, dia akan memilih untuk hidup di zaman kita, di mana dalam Perjanjian Baru kita telah menerima karya penebusan Kristus yang sempurna dan menyaksikan betapa besar kasih dan pengorbanan Yesus bagi dunia ini. Teman, segala sesuatu yang telah Yesus lakukan bagi kita di atas kayu salib adalah alasan yang lebih dari cukup untuk membuat kita dapat bersyukur senantiasa. (penulis: @mistermuryadi)

DENGAN MULUT, KITA DAPAT MENGUCAPKAN BERKAT ATAU KUTUK

Bahan renungan:

Yakobus 3:9-11 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

Saya percaya TUHAN memberikan kita mulut agar kita dapat mengucapkan berkat, pujian, dan syukur. Perlu kita sadari bahwa segala sesuatu yang keluar dari mulut kita berasal dari hati kita. Apa yang kita ucapkan berasal dari apa yang kita pikirkan.

(Baca juga: JAWABAN DOA ANDA SELALU “YA” DARI TUHAN)

Jika kita merenungkan kebenaran Firman Tuhan, kasih Tuhan, kebaikan Tuhan, yang akan keluar dari mulut kita adalah berkat dan ucapan syukur. Sebaliknya, jika yang kita pikirkan adalah hal-hal negatif, keburukan orang lain, pengasihanan diri, jangan heran jika yang keluar dari mulut kita adalah hal-hal yang buruk.

Cara termudah memperbaiki apa yang kita ucapkan adalah dengan cara memperbaiki apa yang kita masukkan ke dalam hati kita. Seperti yang dikatakan oleh ayat renungan kita di atas, periksa sumber mata airnya. Pastikan kita lebih banyak memasukkan kebenaran Firman Tuhan ketimbang “sampah” dunia ini ke dalam hati kita.

(Baca juga: JANGAN LARI DARI MASALAH, HADAPI!)

Teman, tidak cukup hanya mendengarkan Firman Tuhan di gereja atau di persekutuan seminggu sekali atau dua kali. Kita perlu merenungkannya setiap saat. Mulailah hari kita dengan Firman Tuhan dan tutuplah hari kita dengan Firman Tuhan. Percayalah, kita yang paling diuntungkan ketika kita menggunakan mulut kita untuk mengucapkan hal-hal yang baik. (penulis: @mistermuryadi)

MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA

Bahan renungan:

Mazmur 6:6 Lesu aku karena mengeluh; setiap malam aku menggenangi tempat tidurku, dengan air mataku aku membanjiri ranjangku.

Saya sangat percaya mengeluh bukan sifat alami manusia. Mengeluh adalah sebuah pilihan, keputusan, dan respons yang salah. Alasan saya mengatakan itu, karena di luar sana, banyak orang mengalami masalah yang kita alami, bahkan lebih berat dari yang kita alami, tetapi mereka tidak mengeluh. Malah, beberapa di antara mereka menghadapi masalahnya dengan hati penuh sukacita.

(Baca juga: TIGA HAL YANG IBLIS LAKUKAN TERHADAP HIDUP ANDA)

Mengeluh membuat jiwa kita lesu. Mengeluh mematikan semangat hidup. Hidup di dunia ini sudah berat, jika ditambah lagi dengan keluhan-keluhan yang kita ucapkan, energi kita akan terkuras. Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah Anda, justru menambah masalah.

Mengeluh membuat langkah kaki Anda tersendat. Mengeluh membuat Anda berhenti di tempat, bahkan berjalan mundur. Padahal, seharusnya Anda sudah dapat maju beberapa langkah ke depan. Mengeluh menjauhkan Anda dari jalan keluar.

(Baca juga: MUKJIZAT TUHAN TERJADI SECEPAT ANDA MEMPERCAYAINYA)

Teman, berhentilah mengeluh. Tidak ada keuntungan sama sekali dari mengeluh. Jika Anda sedang mengangkat beban yang berat, angkatlah beban tersebut tanpa disertai keluhan. Ketika hati Anda bersukacita, beban yang berat terasa ringan dan perjalanan yang panjang terasa menyenangkan. Pastikan yang mulut kita ucapkan adalah syukur dan berkat. (penulis: @mistermuryadi)

TETAPLAH BERSYUKUR SEKALIPUN KITA DIRUNDUNG PENDERITAAN

Bahan renungan:

1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.

Situasi bisa saja menjadi buruk dan tidak terkendali, tetapi tidak berarti kita berhenti mengucap syukur. Tidak berarti mulut kita mendapat “lampu hijau” untk melepaskan kutuk. Teman, Firman Tuhan katakan mengucap syukurlah dalam segala hal. Ini artinya mulut kita perlu senantiasa mengucapkan syukur sekalipun kita di dalam duka, kecewa, pahit, lembah kekelaman, atau pun bahagia, senang, atau gembira.

(Feature Article: ORANG BERMENTAL MISKIN BUKAN BUTUH UANG, MELAINKAN YESUS)

Teman, yang saya maksud bukan mengucap syukur untuk sakit penyakit atau penderitaan seperti yang dilakukan kebanyakan orang. “Tuhan, terima kasih saya diijinkan mengalami sakit ini. Saya percaya ini adalah rencana Tuhan,” atau “Puji syukur Tuhan memberikan saya penderitaan ini, Dia ingin saya belajar setia. Terima kasih Tuhan.” Bukan, bukan yang seperti itu.

Mengucap syukur di dalam kesedihan atau penderitaan artinya di tengah situasi buruk, Anda dapat menemukan hal baik yang dapat Anda syukuri. Begini, jika Anda mengarahkan pandangan Anda kepada hal-hal yang buruk, yang timbul bukanlah ucapan syukur, melainkan sungut-sungut, keluh kesah, dan ketakutan.

Maria, sebut saja begitu, adalah anak yang tegar. Usianya sepuluh tahun, rambutnya warna cokelat, tatapan matanya ramah, dan senyum tidak pernah pudar dari wajahnya. Maria memiliki buku tentang mukjizat yang dia alami. Dia mencatatnya setiap dua atau tiga hari sekali di tengah perawatan intensif atas disfungsi pankreas yang dia alami. Dari skala satu sampai sepuluh, Maria mengalami sakit di skala dua belas setiap hari, begitu kata dokter yang merawatnya.

Maria senang menunjukkan buku mukjizatnya kepada setiap orang yang datang menjenguk. Kadang Maria sedikit memaksa supaya orang lain mau membacanya. Bagi Maria mukjizat adalah:

“Tadi malam, aku dapat tidur pulas tanpa terbangun.”

“Ayah berhasil menyelundupkan anak anjing ke kamarku. Lucu sekali.”

“Ibu sedang memasang pohon Natal di kamarku, aku suka hiasannya.”

“Suster hari ini memberiku makanan yang enak. Hore.”

(Baca juga: MEMULAI DAN MENGAKHIRI HARI DENGAN HAL YANG BAIK)

Meski tubuhnya kesakitan, bahkan wajah orangtuanya selalu memancarkan kekuatiran, Maria memutuskan untuk hanya mengucapkan syukur melalui mulutnya, bukan penderitaan atau masalahnya. Maria mengucap syukur untuk mukjizat-mukjizat yang Tuhan lakukan bagi hidupnya.

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda mengucap syukur hari ini? (penulis: @mistermuryadi)