JEJAK MENDERITA BERSAMA KRISTUS

Bahan renungan:

1 Petrus 2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.

Tuhan berikan setiap orang kehendak bebas untuk menentukan jalan hidupnya. Dan merupakan keputusan maisng-masing kita, jika kita ingin hidup menderita bagi Kristus. Tentu saja itu artinya kita dapat memutuskan hidup nyaman, menikmati keselamatan yang Tuhan telah berikan, dan mengabaikan orang-orang terhilang di sekeliling kita. Tuhan tidak akan menghukum kita karena hal tersebut.

(Baca juga: SABAR, SABAR, SABAR)

Namun, saya perlu mengatakan dengan jujur, bukan seperti itu teladan yang Yesus ajarkan kepada kita. Yesus mengajarkan setiap kita untuk melayani dan menyelamatkan sebanyak mungkin mereka yang terhilang. Saya percaya itulah isi hati Tuhan.

Sepanjang hidup-Nya di dunia, Yesus tidak melakukan hal selain melayani domba-domba yang terhilang. Yesus ingin sebanyak mungkin orang mengenal kasih-Nya dan Bapa Sorgawi. Tidak ada seorangpun yang memaksa Yesus untuk melakukan hal tersebut. Dia melakukannya karena kasih yang besar kepada mereka yang terhilang.

(Baca juga: PENGHARAPAN (BAG. 03): KEPADA SIAPA KITA SEHARUSNYA BERHARAP?)

Itulah jejak yang Yesus tinggalkan bagi kita, yaitu jejak untuk berbagi dan berkorban demi orang lain. Supaya kita menyadari bahwa hidup ini tidak hanya mengenai diri kita sendiri, melainkan tentang menjadi berkat dan memberi dampak kepada orang lain. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SABAR, SABAR, SABAR

Bahan renungan:

Kolose 3:16 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.

Jika kita berbuat salah, kita memiliki kecenderungan ingin dimengerti atau dimaklumi oleh orang lain. Namun, jika ada yang berbuat salah terhadap kita, kita cenderung cepat untuk marah. Kita tidak sabar ingin sesegera mungkin meluapkan emosi kita.

(Baca juga: HEI, BERHENTILAH MARAH!)

Firman Tuhan dalam Matius 7:12a mengatakan, “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”

Teman, sabarlah terhadap orang lain, jika kita menghendaki orang lain sabar terhadap kita. Itu artinya, sabar dimulai dari kita, bukan mengharapkan orang lain yang memulainya. Saya yakin jika semua orang percaya bersabar terhadap sesamanya, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih menyenangkan.

(Baca juga: MARAH HANYA MEMBAWA ANDA KEPADA KEJAHATAN)

Tidak masalah seberapa pun buruknya masalah yang kita hadapi, kita selalu memiliki pilihan untuk merespons orang lain dengan sabar. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

HEI, BERHENTILAH MARAH!

Bahan renungan:

Mazmur 37:8 Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Marah bukanlah respons yang tepat untuk mengatasi masalah Anda. Seringkali, marah malah membuat masalah menjadi lebih buruk, bahkan, berpotensi menimbulkan masalah baru.

(Baca juga: TANPA TUHAN, KITA LEMAH DAN RAPUH)

Anda masih ingat cerita mengenai Kain dan Habel? Awalnya, Kain marah karena persembahan Habel diterima Tuhan, sedangkan persembahannya tidak. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Kain mengajak Habel ke padang, memukulnya, dan kemudian membunuhnya.

Saya tidak mengerti mengapa Kain malah menyalahkan Habel dalam hal persembahan itu. Namun, itulah akibat dari marah, membuat orang menjadi bodoh dan kehilangan akal sehat.

Saya percaya Kain tidak merencanakan untuk membunuh Habel sebelumnya. Dia hanya marah kepada Tuhan. Namun, Kain membiarkan hatinya dikuasai oleh amarah tersebut, dan akibatnya, amarah itu membuahkan kejahatan.

(Baca juga: MENGUNGKAP KATA KASIH DI DALAM BAHASA IBRANI)

Dengan tegas Firman Tuhan memerintahkan kita untuk berhenti marah dan meninggalkan hati yang panas. Marah bukanlah cara yang Tuhan ajarkan kepada kita. Tuhan mengajarkan kasih. Tuhan ingin kita merespons semua masalah kita dengan kasih, karena ketika kita saling mengasihi satu sama lain, itulah yang membuat kita berbeda dengan dunia. Kasih adalah bukti bahwa Tuhan, yang adalah Sumber Kasih, tinggal di dalam hati kita. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

TANPA TUHAN, KITA LEMAH DAN RAPUH

Bahan renungan:

2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.

Tanpa Tuhan, kekuatan, kesabaran, sukacita, dan damai kita terbatas. Tanpa Tuhan, kita seperti sekam yang ditiup angin. Seperti rumput liar yang hari ini ada dan besok rusak terinjak-injak.

(Baca juga: APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA)

Tidak dapat kita pungkiri bahwa kita adalah makhluk yang sangat rapuh. Berbagai peristiwa yang menghiasi laman berita terkini membuktikan demikian. Sepasang kakak adik bunuh diri karena stres; hanya karena emosi sesaat, segerombolan orang seenaknya merenggut nyawa seseorang; seorang dokter muda ternama meninggal karena sakit, dan masih banyak lagi kisah pilu lainnya.

Saya percaya setiap kita butuh Tuhan. Kita butuh kekuatan yang lebih besar dari diri kita. Saat kita tinggal bersama Tuhan dan memegang teguh janji setia-Nya, kita dapat menang terhadap situasi-situasi mengerikan yang datang ke dalam hidup kita.

(Baca juga: HUKUM TAURAT BUKAN RENCANA TUHAN, TAPI KEINGINAN MANUSIA)

Teman, sekali lagi saya ingin mengatakan bahwa tanpa Tuhan kita lemah dan tidak berdaya. Tuhan adalah sumber kekuatan kita. Firman Tuhan, yang adalah Tuhan sendiri, memberikan kekuatan ketika kita sedang dalam tekanan, memberikan ketenangan di tengah badai pergumulan, dan memberikan jaminan pasti ketika kita berharap. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

APA PUN YANG KITA ALAMI, TUHAN SENANTIASA MEMEGANG TANGAN KITA

Bahan renungan:

Mazmur 139:7-10 Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.

Ketika Anda mengalami kelahiran kembali (Roma 10:9-10), Yesus tinggal untuk selamanya di dalam hati Anda. Ke mana pun Anda pergi, apa pun yang Anda alami, Anda perlu menyadari bahwa Dia selalu ada bersama-sama dengan Anda. Tidak peduli Anda sedang berada di atas gunung tertinggi ataupun di dasar Bumi yang terdalam, Dia ada di sana bersama Anda. Sekalipun Anda melintasi awan atau terpuruk di dalam lembah kekelaman, Dia tidak pernah meninggalkan Anda sendirian. Tidak ada dosa, kesalahan, atau pelanggaran yang dapat menjauhkan kasih-Nya dari Anda.

(Baca juga: UANG ADALAH TUAN YANG BURUK, TETAPI HAMBA YANG BAIK)

Meski begitu, bukan berarti tidak akan ada badai atau topan yang menerjang. Masalah mungkin saja datang ke dalam hidup Anda, tetapi sekalipun hal itu terjadi, Anda tidak perlu takut, Yesus bersama Anda.

Bayangkanlah kita sedang berada di sebuah pesawat dengan ketinggian 30.000 kaki di atas permukaan laut. Lalu, petir saling menyambar, awan semakin pekat, dan pesawat mulai bergoncang keras. Anda tidak akan ketakutan kalau Anda tahu yang sedang mengemudikan pesawat adalah Raja di atas segala raja, Penguasa semesta ini.

(Baca juga: KETIKA KEMBALI KE RUMAH BAPA, SI BUNGSU DIPULIHKAN)

Percayalah saat Dia bersama Anda, tidak ada satu hal pun yang sanggup menghancurkan Anda. Anda aman di bawah kepak sayap-Nya. Bersama Yesus, Anda yang akan selalu keluar sebagai pemenang. (penulis: @mistermuryadi)

UANG ADALAH TUAN YANG BURUK, TETAPI HAMBA YANG BAIK

Bahan renungan:

Ibrani 13:5a Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.

Semua orang membutuhkan uang untuk hidup di dunia ini. Memang uang sangat penting, tetapi uang bukan yang terpenting dalam hidup kita. Tuhanlah yang terpenting dalam kehidupan kita. Tanpa Tuhan, kita seperti butiran pasir yang hari ini ada, tetapi besok hilang ditiup angin.

(Baca juga: DENGAN MULUT, KITA DAPAT MENGUCAPKAN BERKAT ATAU KUTUK)

Cara kita memposisikan uang sangat menentukan kehidupan seperti apa yang akan kita jalani. Jika kita menaruh uang di posisi depan, yaitu sebagai tuan kita, tidak heran jika hidup kita terlibat dengan berbagai-bagai duka. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengingatkan bahwa oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Menjadikan uang sebagai tuan memiliki sebuah konsekuensi bagi kehidupan kita. Kita akan tersiksa oleh penderitaan-penderitaan yang tidak seharusnya kita alami.

Seorang pria yang saya kenal, pergi pagi dan pulang malam setiap hari, dengan tujuan membangun kerajaan bisnisnya. Tawaran untuk ke gereja, persekutuan, bahkan berlibur bersama istri ditolaknya, dengan harapan dalam 2-3 tahun ke depan bisnisnya akan berjalan lancar. Alih-alih sukses, selang satu tahun, sang istri meminta cerai karena merasa diabaikan dan kesepian. Sepanjang hari sang istri hanya sendirian di rumah, ketika bertemu, sang suami sudah kelelahan, terkadang membawa sisa marahnya dengan klien ke rumah, dan masih menyelesaikan beberapa urusan bisnis. Sungguh kehidupan pernikahan yang mengerikan.

Teman, tidak ada yang salah dengan memiliki uang, saya percaya Tuhan ingin kita hidup diberkati supaya dapat memberkati banyak orang. Namun, jangan sampai uang memiliki kita. Jangan sampai kita mencintai uang lebih daripada mencintai Tuhan.

(Baca juga: KITA DIBERIKAN KEHENDAK BEBAS UNTUK MENENTUKAN HIDUP)

Sekali lagi, uang itu sangat penting, tetapi bukan yang terpenting. Hubungan kita dengan Tuhan, keluarga, pasangan, dan anak-anak kita, jauh lebih penting dari uang. Ada hal-hal yang tidak dapat kita beli oleh uang, salah satunya adalah hubungan kita dengan Tuhan dan orang-orang yang kita sayangi. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

DENGAN MULUT, KITA DAPAT MENGUCAPKAN BERKAT ATAU KUTUK

Bahan renungan:

Yakobus 3:9-11 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

Saya percaya TUHAN memberikan kita mulut agar kita dapat mengucapkan berkat, pujian, dan syukur. Perlu kita sadari bahwa segala sesuatu yang keluar dari mulut kita berasal dari hati kita. Apa yang kita ucapkan berasal dari apa yang kita pikirkan.

(Baca juga: JAWABAN DOA ANDA SELALU “YA” DARI TUHAN)

Jika kita merenungkan kebenaran Firman Tuhan, kasih Tuhan, kebaikan Tuhan, yang akan keluar dari mulut kita adalah berkat dan ucapan syukur. Sebaliknya, jika yang kita pikirkan adalah hal-hal negatif, keburukan orang lain, pengasihanan diri, jangan heran jika yang keluar dari mulut kita adalah hal-hal yang buruk.

Cara termudah memperbaiki apa yang kita ucapkan adalah dengan cara memperbaiki apa yang kita masukkan ke dalam hati kita. Seperti yang dikatakan oleh ayat renungan kita di atas, periksa sumber mata airnya. Pastikan kita lebih banyak memasukkan kebenaran Firman Tuhan ketimbang “sampah” dunia ini ke dalam hati kita.

(Baca juga: JANGAN LARI DARI MASALAH, HADAPI!)

Teman, tidak cukup hanya mendengarkan Firman Tuhan di gereja atau di persekutuan seminggu sekali atau dua kali. Kita perlu merenungkannya setiap saat. Mulailah hari kita dengan Firman Tuhan dan tutuplah hari kita dengan Firman Tuhan. Percayalah, kita yang paling diuntungkan ketika kita menggunakan mulut kita untuk mengucapkan hal-hal yang baik. (penulis: @mistermuryadi)