ASAH KEMAMPUAN BERKOMUNIKASI ANDA

Matius 7:28* Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaranNya, 29* sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.

Jika saya diminta untuk menyebutkan satu kemampuan terpenting yang harus dimiliki oleh para pemimpin, hal tersebut adalah komunikasi. Jika kita tidak dapat berkomunikasi, kita tidak dapat memimpin orang lain dengan efektif.

Berikut adalah hal-hal yang membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik:

  1. Membuat keputusan
    Tidak ada yang membuat anggota-anggota tim lebih bingung dibandingkan para pemimpin yang tidak dapat mengambil keputusan atau sulit mengomunikasikan dan menjelaskan keputusannya sendiri.
  2. Mendeskripsikan tugas
    Tim yang Anda pimpin akan sulit menyelesaikan sebuah tugas pelayanan jika Anda, sebagai pemimpinnya, tidak bisa mendetilkan tugas-tugas tersebut dan menyampaikan yang Anda harapkan dengan jelas.
  3. Ramah dengan orang lain
    Setiap orang layak untuk dihormati, tidak peduli kedudukan atau sejarah hubungan mereka dengan Anda. Jika Anda bersikap ramah terhadap orang lain, termasuk terhadap orang yang menyebalkan Anda, hal tersebut akan diikuti oleh seluruh anggota tim Anda. Teladan adalah bentuk komunikasi.

Komunikasi sangat penting untuk dipelajari oleh para pemimpin. Seringkali para pemimpin hanya pandai berkomunikasi satu arah, yaitu menyampaikan pesan kepada lawan bicaranya. Sedangkan, definisi komunikasi yang sesungguhnya adalah dua arah, yaitu menyampaikan pesan kepada lawan bicara dan mendengarkan pesan dari lawan bicara. Ya, sebagai pemimpin, kita perlu belajar mendengarkan, karena hanya dengan cara demikian kita dapat memimpin orang lain dengan efektif. (penulis: @mistermuryadi)

SIKAP HATI PEMIMPIN

Kisah Para Rasul 20:22-24 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.

Suka atau tidak suka, Anda memimpin orang lain. Entah itu memimpin adik atau kakak, suami atau istri, rekan-rekan pelayanan di gereja, atau setidaknya Anda memimpin diri Anda sendiri. Dan tahukah Anda bahwa sikap hati Anda selalu mendahului apa yang Anda lakukan? Karena kepemimpinan selalu dimulai dari hati yang mau melayani dan mau dibentuk.

Mari kita belajar sedikit nilai-nilai tentang kepemimpinan. Ini beberapa sikap hati yang dimiliki Paulus:

  1. Konsisten. Paulus konsisten mengerjakan visi yang TUHAN berikan. Dia tidak berubah-ubah mengikuti kondisi atau perasaannya.
  2. Rendah hati. Sikap rendah hati, yaitu mau belajar dari orang lain, mau ditegur, dan mau mengakui kekurangan/kelemahan, adalah sikap yang dapat membuat Anda menjadi semakin besar.
  3. Berani. Tidak takut mengambil risiko, sekalipun itu merugikan dirinya.
  4. Total. Paulus tidak pernah setengah-setengah memberikan dirinya kepada TUHAN. Dia menyerahkannya secara total.
  5. Rela berkorban. Tidak sedikit pun Paulus ragu untuk mengorbankan uang, waktu, tenaga, pikiran, bahwa nyawanya bagi Injil Kristus.

Teman, Firman Tuhan katakan untuk setia pada perkara yang kecil, sebelum ke perkara yang besar. Saya percaya rencana Tuhan atas hidup setiap orang adalah rencana yang besar. Mari kita mulai dari nilai-nilai yang sederhana di atas, sampai suatu hari Anda melihat perkara yang besar terjadi di dalam hidup Anda. (penulis: @mistermuryadi)

HATI SEORANG PEMIMPIN

Yohanes 13:4-5 Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu.

Jika Anda berpikir tentang pelayanan, apa yang Anda bayangkan? Pelayan bukan merupakan kedudukan atau keahlian. Pelayanan adalah sikap. Anda pasti pernah bertemu dengan orang-orang yang mempunyai kedudukan dalam pelayanan, namun memiliki sikap yang buruk. Sebaliknya, Anda juga pasti bisa dengan mudah mendeteksi seorang pemimpin yang mempunyai hati seorang pelayan. Sebenarnya, para pemimpin terbaik adalah orang-orang yang ingin melayani orang lain, bukan dirinya sendiri.

Beberapa hal yang dimiliki seorang pemimpin sejati:

  1. Mendahulukan orang lain daripada diri sendiri
  2. Mempunyai rasa percaya diri untuk melayani
  3. Memiliki hati melayani orang lain, bukan dirinya
  4. Tidak mempedulikan kedudukan
  5. Melayani karena kasih

Kepemimpinan yang melayani tidak pernah disebabkan oleh manipulasi atau kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, besarnya pengaruh Anda dalam sebuah kepemimpinan tergantung kepada kepedulian Anda terhadap orang lain. Itulah sebabnya penting bagi para pemimpin untuk memiliki hati seorang pelayan. (penulis: @mistermuryadi)

KUASA TUJUAN

Filipi 1:12-14 Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil, sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa aku dipenjarakan karena Kristus. Dan kebanyakan saudara dalam Tuhan telah beroleh kepercayaan karena pemenjaraanku untuk bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut.

Paulus mungkin telah diampuni jika ia memilih untuk beristirahat sebentar saat dipenjara, sambil menantikan pengadilannya. Tetapi ia bahkan menggunakan kesempatan tersebut untuk menginjil. Paulus adalah seorang pemimpin yang fokus dengan visi dan misinya. Ia bertekad untuk meninggalkan ‘buah’ ke mana pun ia pergi.

Bagaimana Paulus dapat menjaga tujuan hidupnya? Apakah yang telah dipelajarinya dari balik jeruji? Renungkanlah hal berikut ini:

  1. Suatu tujuan akan memotivasi ketika Anda kelelahan
  2. Suatu tujuan akan menjaga prioritas Anda tetap tersusun dengan baik
  3. Suatu tujuan akan mengembangkan potensi diri Anda
  4. Suatu tujuan akan memberikan kepada Anda kuasa untuk hidup dan memberikan buah
  5. Suatu tujuan akan mendorong Anda untuk terus maju, bukan mundur

(penulis: @mistermuryadi)

UNDANGAN UNTUK MEMIMPIN

Kejadian 1:26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

TUHAN adalah Sang Pemimpin Utama, dan DIA memanggil setiap orang percaya untuk memimpin orang-orang lain. TUHAN dapat mengatur ciptaanNYA dalam banyak cara, namun DIA memilih menciptakan manusia yang mempunyai roh serta kemampuan untuk berhubungan dengan dan mengikutiNYA, tetapi yang tidak terpaksa melakukannya.

Saat umat manusia jatuh ke dalam dosa, TUHAN bisa membuat suatu rencana penebusan yang tidak mengikutsertakan orang-orang berdosa, tetapi DIA memilih memanggil kita ikut serta dan untuk memimpin orang-orang lain, sementara kita mengikuti pimpinanNYA. TUHAN menjelaskan dari semula sejak DIA menyatakan, “berkuasalah …” (Kejadian 1:28).

Panggilan untuk memimpin adalah suatu pola yang konsisten dalam Alkitab. Saat TUHAN membangkitkan suatu bangsa bagiNYA, DIA tidak memanggil orang banyak. DIA memanggil seorang pemimpin, yaitu Abraham. Saat DIA ingin melepaskan umatNYA dari Mesir, DIA tidak memimpin mereka sebagai suatu kelompok. Ia membangkitkan seorang pemimpin, MUSA, untuk melakukannya. Saat memasuki ke Tanah Perjanjian, bangsa Israel mengikuti satu orang, yaitu Yosua.

Setiap kali TUHAN ingin melakukan suatu yang luar biasa, DIA memanggil seorang pemimpin untuk maju. Sampai hari ini DIA masih memanggil para pemimpin untuk berdiri bagi setiap pekerjaan kecil atau pun besar. Bagian kita adalah meng-iya-kan panggilanNYA. (penulis: @mistermuryadi)

PERBEDAAN DAUD DAN SAUL

1 Samuel 17:37 Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.”

Renungkanlah apa yang dipikirkan Daud saat menghadapi Goliat. Di bawah ini adalah alasan yang membuat dia sanggup mengalahkan sang raksasa, sekaligus alasan yang membuatnya berbeda dengan Raja Saul.

  1. Sudut pandangnya berbeda dengan Saul. Daud melihat tantangan sebagai sebuah kesempatan untuk naik dan menang.
  2. Metodenya berbeda dengan Saul. Daud memutuskan untuk menjadikan TUHAN “senjata”nya, yang sudah jelas-jelas terbukti berhasil.
  3. Keyakinannya berbeda dengan Saul. Daud dan Saul sama-sama mendengar ancaman Goliat, namun Daud yakin TUHAN yang ada bersamanya sanggup mengalahkan Goliat, sedangkan Saul tidak.
  4. Visinya berbeda dengan Saul. Daud ingin membuat nama TUHAN dikenal sebagai penyelamat di seluruh dunia, sedangkan Saul hanya ingin menyingkirkan Goliat apa pun caranya dan membuat namanya sendiri mahsyur.
  5. Pengalamannya berbeda dengan Saul. Daud menyadari bahwa TUHAN yang selalu menyelamatkan dia dari singa dan beruang di padang. Inilah yang membuatnya percaya kepada janji TUHAN, bukan ketakutan terhadap masalah.
  6. Sikapnya berbeda dengan Saul. Daud tidak memandang Goliat sebagai ancaman yang besar, melainkan sebagai sasaran yang terlalu besar untuk menghindar dari serangannya. (penulis: @mistermuryadi)

PERUBAHAN = PERTUMBUHAN

Roma 12:2 tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu …

Semua orang pasti ingin mengalami pertumbuhan di dalam kehidupannya, namun tidak semua orang menginginkan prosesnya. Teman, Anda perlu tahu bahwa sebuah pertumbuhan menuntut perubahan. Sebelum Anda melihat pertumbuhan di sekitar Anda, yang Anda butuhkan adalah perubahan di dalam Anda. Jika Anda adalah seorang pemimpin di kantor atau pun dalam pelayanan, sebelum Anda melihat orang-orang Anda pimpin datang tepat waktu, Anda harus terlebih dahulu berubah menjadi orang yang tepat waktu. Sebelum Anda melihat orang-orang yang Anda pimpin setia dan disiplin, Anda harus berubah terlebih dahulu menjadi orang yang setia dan disiplin. Tanpa perubahan, mustahil terjadi pertumbuhan.

Leo Tolstoy, seorang novelis, pernah mengatakan, “Banyak orang yang berpikir untuk mengubah dunia, tapi tidak banyak yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.” Perubahan diri kita tidak terjadi dengan sendirinya atau pun karena usia, melainkan karena keputusan yang kita ambil setiap hari.

Sebagai anak TUHAN, kita perlu menyadari bahwa penundaan terhadap perubahan diri kita dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan orang-orang di sekitar kita. Akibat jangka panjangnya adalah mereka akan mulai melirik orang lain yang menginspirasi dan memberikan mereka teladan yang baik yang mengubahkan mereka, dan perlahan meninggalkan Anda yang memutuskan tidak mau berubah.

Sayang sekali jika orang-orang di sekitar berpaling kepada mereka yang tidak mengenal TUHAN, menjadikan orang-orang yang tidak mengenal TUHAN teladannya, hanya karena kita menolak untuk berubah dan memberikan dampak bagi kehidupan mereka. (penulis: @mistermuryadi)