SATU-SATUNYA CARA AGAR KITA DAPAT MENERIMA JANJI TUHAN

Bahan renungan:

Yakobus 1:6-8 Hendaklah ia MEMINTANYA DALAM IMAN, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan MENERIMA sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.

Dalam renungan kemarin kita membahas alasan utama mengapa kita belum menerima janji Tuhan, yaitu karena kita tidak memercayai janji tersebut.

(Baca juga: ALASAN UTAMA MENGAPA KITA BELUM MENERIMA JANJI TUHAN)

Hari ini, saya ingin kita belajar bagaimana cara menerima dari Tuhan. Saya masih menggunakan ayat yang sama dengan kemarin, tetapi perhatikan kata-kata yang saya besarkan, yang merupakan satu-satunya cara agar kita dapat menerima dari Tuhan.

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai iman, saya ingin memberikan sebuah ilustrasi. Misalnya, suatu hari, ketika kita menonton siaran langsung Piala Dunia dari Itali, tiba-tiba televisi kita kehilangan sinyal, sehingga kita tidak lagi dapat menyaksikan pertandingan tersebut. Kita tidak dapat menonton bukan karena pertandingan di Itali dibubarkan, tetapi kemungkinan besar karena antena televisi kita rusak. Pertandingan di Itali tetap berlangsung.

Prinsip yang sama berlaku dalam hal menerima berkat Tuhan.

Tuhan sudah mencurahkan berkat, kesembuhan, pemulihan, kasih, pengampunan, kuasa, dan mukjizat-Nya bagi kita. Kita belum menerima hal tersebut bukan karena Tuhan belum memberikannya. Menurut ayat renungan di atas, hal tersebut disebabkan karena “antena iman” kita yang rusak.

Jadi, adalah sebuah kesalahpahaman ketika orang percaya bertanya kepada Tuhan, “Apakah Engkau mau menyembuhkan, memulihkan, atau memberkati saya?” Tuhan bukan hanya mau, faktanya Dia sudah memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Masalah kita bukanlah Tuhan, melainkan “antena iman” kita, sehingga kita belum menerima berkat Tuhan.

Firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah ia MEMINTANYA DALAM IMAN … supaya ia dapat menerima dari Tuhan.” Itu artinya, kita tidak dapat meminta dalam kondisi ragu, takut, atau kuatir. Bukan tidak boleh, hanya saja itu bukan cara yang alkitabiah untuk menerima janji Tuhan.

Dalam Markus 11:24 dijelaskan, Anda dapat membaca ayat lengkapnya jika Anda mau, bahwa ketika kita meminta atau berdoa, kita perlu percaya bahwa kita telah menerimanya, barulah hal tersebut akan diberikan kepada kita.

Saya berikan contoh. Misalnya kita lumpuh. Kaki kita tidak berdaya dan mungkin setiap kali kita gerakkan, kaki kita terasa sakit. Jika kita percaya mukjizat kesembuhan, kita tidak akan menghabiskan hari-hari kita hanya duduk diam di kursi roda dan pasrah terhadap keadaan. Kita perlu memerintahkan kaki kita untuk sembuh, kemudian mencoba untuk bangun, dan mulai menggerakkan kaki kita seolah kita telah menerima kesembuhan tersebut. Banyak orang ingin sembuh dari lumpuh, tetapi setiap kali merasa kakinya sakit, mereka menjadi takut untuk mencoba bangun. Takut berdiri adalah tanda bahwa orang tersebut masih berpikir bahwa dia lumpuh dan belum menerima kesembuhan.

Sama halnya dalam hal kelimpahan. Jika kita ingin hidup dalam kelimpahan, kita mesti mulai berani memberi persepuluhan atau persembahan, seperti orang yang telah mengalami kelimpahan, bukan meminta-minta seperti orang yang kekurangan. Orang sadar menyadari dirinya berkelimpahan pasti lebih sering memberi daripada meminta.

(Baca juga: TUHAN INGIN ANDA MENJADI KEPALA, BUKAN EKOR)

Singkatnya, iman adalah respons atau tindakan yang kita lakukan akibat kita memercayai janji Tuhan. Jadi, kita perlu tahu dengan pasti terlebih dahulu janji Tuhan di dalam Alkitab, lalu merespons berdasarkan Firman Tuhan tersebut. Dengan cara demikian, kita akan menerima apa yang Tuhan janjikan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

BARANGSIAPA MEMERHATIKAN FIRMAN AKAN MENDAPATKAN KEBAIKAN

Bahan renungan:

Amsal 16:20 Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

Membicarakan mengenai tinggal di dalam Firman memang tidak ada habisnya. Ada begitu banyak alasan untuk menjadikan tinggal dalam kebenaran Firman Tuhan itu penting bagi kita. Membuat kita menyadari bahwa hidup kita sebagai orang percaya tidak dapat terpisah dari membaca dan merenungkan kebenaran Firman Tuhan.

(Baca juga: MUKJIZAT DARI MENGATAKAN HAL-HAL YANG BAIK)

Salah satu lagi alasan untuk tinggal dalam Firman menurut kitab Amsal adalah, supaya kita mendapatkan kebaikan.

Saya percaya kita menerima kebaikan Tuhan bukan karena kita rajin membaca atau merenungkan Firman Tuhan. Beberapa pengajaran mengatakan jika kita tidak rajin dan tekun dalam Firman, Tuhan akan berhenti memberkati kita. Saya percaya Tuhan tidak seperti itu. Tuhan tidak pernah berhenti memberkati kita, mengejar kita dengan kasih dan kebaikan-Nya. Kitalah yang berhenti memercayai-Nya. Itu alasan utama mengapa kita berhenti menerima kebaikan Tuhan.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa satu-satunya cara agar kita dapat menerima apa yang telah Tuhan sediakan adalah melalui iman. Berkali-kali Yesus menyatakan hal ini di dalam pelayanan-Nya, “Imanmu telah menyelamatkanmu.” Atau dengan kata lain, “Imanmu yang telah membuat kamu menerima kebaikan dan kemurahan yang telah Kusediakan bagi kamu.”

Membaca dan merenungkan, atau mengutip kata dari ayat di atas, memperhatikan Firman, membuat kita percaya kepada kebenaran. Di saat kita percaya, kita akan menerima dan menikmati kebaikan Tuhan.

Sungguh, kita tidak dapat memercayai seseorang yang kita tidak tahu atau kenal orang tersebut, akibatnya kita dapat menerima kebaikan dari orang tersebut. Sama halnya dengan Tuhan. Tuhan sangatlah baik dan penuh kasih. Adalah keinginan Tuhan untuk memberkati kita. Namun, bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya, yang merupakan kunci untuk menerima kebaikan-Nya, jika kita tidak mengenal dan tidak tahu janji-janji-Nya?

Juga dikatakan oleh ayat di atas, orang-orang yang memerhatikan kebenaran, pasti akan menerima kebaikan-Nya. Dan, semua orang yang menerima kebaikan-Nya pasti akan bahagia. Itu artinya tidak ada hal yang buruk yang Tuhan berikan, hanya yang baik. Jika buruk, tentu saja orang yang menerimanya tidak akan berbahagia.

(Baca juga: JANGAN INGAT LAGI MASA LALU YANG BURUK!)

Tuhan ingin kita bahagia dan menikmati kebaikan-Nya. Jika kita menginginkan hal tersebut, kita perlu memulainya dengan memerhatikan Firman-Nya, menjadikan kebenaran-Nya sebagai tolok ukur dalam memutuskan sesuatu. Semenarik apa pun pemikiran dan perasaan kita, kita perlu menaruh Firman Tuhan di atas semua itu. (penulis: @mistermuryadi)

MENDENGARKAN FIRMAN TUHAN, MEMERCAYAINYA, LALU BERTINDAK

Bahan renungan:

Matius 7:26-27 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Teman, tahukah Anda bahwa mendengar Firman Tuhan saja tidak cukup? Anda perlu memercayainya dan bertindak berdasarkan hal tersebut. Ayat renungan hari ini menyatakan hal tersebut dengan jelas. Orang yang hanya mendengar Firman Tuhan, namun tidak melakukannya, sama seperti orang yang bodoh yang mendirikan rumah di atas pasir. Sepertinya terdengar sedikit kasar membaca Alkitab menuliskan kata “bodoh” kepada orang-orang tersebut. Tapi, itulah kenyataannya. Mereka bodoh karena berpikir ada cara alternatif yang lebih benar dari kebenaran Firman Tuhan.

(Baca juga: KITA DISUCIKAN OLEH DARAH YESUS)

Sebagai contoh, Firman Tuhan mengatakan jika kita meletakkan tangan ke atas orang sakit, orang tersebut akan sembuh. Saya percaya semua orang Kristen pernah mendengar ayat itu. Namun, banyak orang Kristen memilih berdoa dalam hati saat mendoakan orang sakit. Mereka tidak berani meletakkan tangan mereka dan mengatakan, “Di dalam nama Yesus, saya mengusir setiap sakit penyakit, dan hari ini jadilah sembuh.” Mereka berpikir berdoa dalam hati dapat menyembuhkan orang sakit, atau dengan kata lain, mereka berpikir ada cara lain agar orang sakit itu sembuh.

(Baca juga: NERAKA TIDAK DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA)

Teman, jadilah berani dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan dan setiap janji yang tertulis di dalamnya YA dan AMIN bagi hidup setiap orang percaya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KETAKUTAN BUKAN MOTIVASI TERBAIK UNTUK MELAKUKAN PERINTAH TUHAN

Bahan renungan:

1 Yohanes 4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

Sepanjang menjadi orang percaya, saya bukan hanya memelajari bahwa ada kekuatan yang sangat luar biasa ketika kita percaya, tetapi juga ketika kita ketakutan. Percaya menghasilkan kekuatan yang positif, sedangkan ketakutan negatif.

(Baca juga: MENGAPA MULUT KITA CENDERUNG MENGUCAPKAN YANG BURUK?)

Sama seperti percaya, ketakutan dapat mendorong kita untuk berdoa, memberi, menginjil, mendeklarasikan janji Tuhan, dan melakukan hal-hal lain yang Firman Tuhan perintahkan. Namun, harus saya katakan bahwa ketakutan bukanlah motivasi terbaik untuk melakukan hal-hal di atas.

Pernah seseorang berkata kepada saya, “Saya sudah melakukan seperti yang Firman Tuhan perintahkan, tapi mengapa saya belum sembuh juga?” Perlu kita mengerti bahwa yang terpenting bukan melakukannya, melainkan percayanya. Motivasi terbaik melakukan Firman Tuhan adalah karena percaya, bukan karena ketakutan.

Saya berikan contoh. Suatu hari saya melayani seseorang yang mengalami sakit sangat parah. Dokter sudah angkat tangan terhadap orang ini dan dia divonis akan meninggal dalam waktu empat sampai enam bulan. Di tengah ketakutannya akan kematian, orang tersebut mulai mendatangi ibadah-ibadah kesembuhan. Ketika hamba Tuhan di ibadah A mengatakan, “Masalah kamu adalah kurang bergaul dengan Firman Tuhan. Mulai besok, harus rajin baca Alkitab,” orang ini melakukannya. Begitu juga ketika, hamba Tuhan lain di ibadah B mengatakan, “Kamu harus minum minyak agar sembuh total,” dia pun dengan segera meminum minyak sayur mentah sebanyak dua tiga botol. Selang beberapa bulan, akhirnya dia meninggal dunia.

Apa yang sebenarnya terjadi? Perhatikan.

Pada dasarnya, ketakutan muncul ketika seseorang tidak menyadari bahwa dirinya dikasihi oleh Tuhan. Bahwa Tuhan hanya merancangkan yang baik bagi dirinya. Ketakutan dapat menipu. Di bagian luar, seolah dia melakukan yang Tuhan perintahkan, tetapi di bagian dalam, dia tidak percaya akan kasih dan kebaikan Tuhan. Ketakutan dapat membuat orang rela melakukan apa saja.

(Baca juga: MUNGKIN MASA LALU ANDA BURUK, TETAPI TIDAK MASA DEPAN ANDA)

Itu sebabnya, Firman Tuhan jelas memberitahu kita bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan, karena kasih yang sempurna, yaitu kasih Bapa kepada kita, melenyapkan ketakutan (1 Yohanes 4:18). (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

JANGAN RAGU MENGHARAPKAN SESUATU YANG TUHAN JANJIKAN

Bahan renungan:

Lukas 11:9 Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.

Sebelum Anda mengharapkan sesuatu dari Tuhan, tentu saja Anda perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang Dia janjikan. Bagaimana mungkin Anda mengharapkan janji Tuhan, sementara Anda hanya tahu janji tersebut dari kata orang? Anda perlu mencari tahu janji yang ada di dalam Firman Tuhan, lalu merenungkannya, memercayainya, barulah Anda dapat mengharapkannya.

(Baca juga: KEKUATAN SEBUAH KENANGAN INDAH)

Jika Anda sudah mengetahui janji Tuhan dan memercayainya, Anda tidak perlu lagi meragukan apakah janji Anda akan terwujud atau tidak.

Sama seperti si wanita pendarahan. Sambil mendekat kepada Yesus, dia berkata di dalam hatinya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Perhatikan, si wanita pendarahan itu tidak lagi berpikir apakah dia akan sembuh atau tidak. Dia tahu dan percaya bahwa Yesus adalah Sang Juruselamat yang sanggup memulihkan dirinya. Dia tahu pasti janji Tuhan atas hidupnya. Yang ada di dalam hatinya hanyalah, “Aku pasti sembuh.”

(Baca juga: “HAI ANAK-KU, JANGAN MENANGIS”)

Apa yang sedang Anda harapkan hari ini? Apakah Anda sedang mengharapkan pemulihan, kesembuhan, terobosan finansial, atau teman hidup? Jika iya, segera cari tahu apakah Tuhan menjanjikan hal tersebut dalam Firman-Nya. Ketika Anda menemukannya di dalam Firman Tuhan, renungkan dan pegang teguh janji tersebut. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

IMAN ADALAH SATU-SATUNYA KUNCI UNTUK MEMBUKA GUDANG PERSEDIAAN TUHAN

Bahan renungan:

Roma 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Iman Anda adalah “barang” paling mahal yang ada di dunia ini. Jika Anda percaya kepada Tuhan, iman Anda dapat membuat Anda menikmati semua yang Tuhan sudah sediakan. Sebaliknya, iman tidak percaya Anda dapat membuat Anda tidak menerima segala yang baik yang Tuhan sudah berikan.

(Baca juga: IMAN KITA MEMILIKI BENTUK YANG DAPAT DILIHAT DAN DIRASAKAN)

Ketidakpercayaan adalah satu-satunya penyebab Anda tidak menerima berkat Tuhan. Saat Anda tidak percaya kepada Tuhan dan janji-Nya itu sama artinya dengan Anda menolak Tuhan dan menolak untuk diberkati. Saat Anda memilih jalan Anda sendiri dan meninggalkan jalan Tuhan, Anda sedang menolak Tuhan dan berkat-Nya.

Jadi, bukan Tuhan yang menunda berkat-Nya. Bahkan faktanya, Tuhan sudah menganugerahkan segala sesuatu yang Anda butuhkan, seperti kesembuhan, kesehatan, berkat, kelimpahan, umur panjang, dan kuasa, ketika Dia menganugerahkan Yesus 2000 tahun lalu. Jika ada Pribadi yang paling ingin Anda menikmati semua yang baik, itu adalah Tuhan.

Di hari Tuhan memberikan janji Tanah Kanaan, di hari itu Tanah Kanaan menjadi milik Bangsa Israel. Bukan Tuhan yang menunda Bangsa Israel masuk Tanan Kanaan selama 40 tahun, melainkan Bangsa Israel yang menunda untuk percaya kepada janji Tuhan selama 40 tahun. Dalam Mazmur 106:24 ditulis bahwa Bangsa Israel menolak Tanah Perjanjian dengan cara tidak percaya kepada Firman Tuhan.

Mungkin ilustrasinya begini. Tuhan, karena kasih-Nya, sudah memberikan Anda sebuah gudang berisi segala berkat (Efesus 1:3), entah itu keselamatan, kesembuhan, berkat, kelimpahan, umur panjang, kuasa, dan lain sebagainya. Dia sudah berikan itu jauh sebelum Anda lahir dan jauh sebelum Anda membutuhkannya. Dan, satu-satunya kunci yang dapat membuka gudang persediaan tersebut adalah iman Anda.

Apa itu iman? Anda dapat menuliskan kata “iman” di kolom search di blog ini agar Anda mendapatkan gambaran lebih banyak mengenai iman. Yang pasti, satu-satunya sumber iman kita adalah Firman Kristus (Roma 10:17). Jika Anda ingin memiliki iman, Anda perlu meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan kebenaran, dan kemudian, mempercayainya.

(Baca juga: APAKAH ROH KUDUS AKAN PERGI KALAU KITA HUJAT?)

Ringkasnya, beriman kepada Tuhan artinya meninggalkan cara Anda, dan memihak kepada cara Tuhan; meninggalkan pemikiran dan pertimbangan Anda dan beralih kepada apa yang Firman Tuhan katakan; dan sepenuhnya hanya berharap kepada Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

IMAN KITA MEMILIKI BENTUK YANG DAPAT DILIHAT DAN DIRASAKAN

Bahan renungan:

Yakobus 2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Tiga empat bulan terakhir Tuhan berbicara kepada saya mengenai iman. Salah satunya adalah bahwa iman kita memiliki bentuk. Kita dapat merasakan dan melihat iman seseorang.

(Baca juga: KEHANCURAN BUKAN AKHIR SEGALANYA SELAMA KITA PERCAYA TUHAN)

Beberapa kali saya bertemu dengan orang yang mengatakan, “Saya sudah percaya, tetapi mengapa mukjizat belum terjadi?” seolah-olah Tuhan yang menunda mukjizat. Padahal Tuhan tidak pernah menunda berkat (Mazmur 82:11), malahan Dia sudah menganugerahkan semua berkat (Efesus 1:3).

Dalam Ibrani 11, kata “iman” selalu diikuti dengan tindakan atau sikap hati. Iman yang terdengar abstrak ternyata memiliki bentuk berupa tindakan atau sikap hati yang dapat dilihat dan dirasakan semua orang. Atau dengan kata lain, jika Anda ingin melihat iman seseorang, Anda dapat melihatnya melalui perbuatan atau sikap hati orang tersebut. Perbuatan yang saya maksud mencakup tutur kata, sikap hati, perilaku, dan keputusan.

Dalam Ibrani 11:3 ditulis, “Karena iman kita mengerti …” Tanda orang beriman, dia memahami dan mengerti kebenaran Firman Tuhan. Bagaimana cara kita mengerti kebenaran? Dengan cara mempelajarinya. Jadi, orang yang mengatakan “Saya percaya kepada Tuhan”  adalah orang yang senang mempelajari kebenaran Firman Tuhan. Dia menjadikan kebenaran bagian dari rutinitas hidupnya.

Ibrani 11:4 mengatakan, “Karena iman Habel telah mempersembahkan …” Perhatikan, iman dikaitkan dengan mempersembahkan sesuatu. Jika kita percaya, atau beriman bahwa Tuhan sudah memberkati kita, kita tidak akan takut untuk menabur persembahan dan persepuluhan. Tidak berhenti di sana, ayat di atas dilanjutkan, “ … korban yang lebih baik daripada korban Kain.” Iman mempersembahkan yang terbaik, bukan sisa. Memberikan uang sisa jelas bukan ciri-ciri orang yang percaya kepada Tuhan.

Ibrani 11:8 mengatakan, “Karena iman Abraham taat …” Jika kita percaya kepada Tuhan, kita akan taat kepada-Nya. Kita akan lebih memercayai apa yang Dia ucapkan dan perintahkan daripada apa yang kita lihat dan rasakan. Ayat di atas dilanjutkan, “… ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya …” Iman berarti taat kepada Tuhan ketika kita dipanggil, ketika kita mendengar kebenaran, sekalipun kita belum mengerti apa yang akan terjadi di depan, bukan taat ketika kita dalam keadaan terjepit atau tidak ada pilihan lain.

Bentuk lainnya, dalam Ibrani 11:20 dikatakan, “Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau.” Iman dikaitkan dengan melihat jauh ke depan, kepada janji Tuhan, kepada apa yang kita harapkan, bukan kepada situasi atau kondisi yang sedang kita alami.

Masih banyak lagi. Iman dikaitkan dengan mempersiapkan yang terbaik, menolak dan meninggalkan cara hidup dunia, percaya kepada kematian dan kebangkitan Kristus, menaklukkan masalah dan tantangan, melakukan kebenaran, menyambut musuh dengan kasih, dan lain sebagainya. Anda dapat membaca dan merenungkan sendiri Ibrani 11.

(Baca juga: HATI-HATI, ADA YESUS YANG LAIN)

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa semua tindakan atau perbuatan tersebut mereka lakukan karena mereka percaya kepada Tuhan, bukan karena menginginkan sesuatu dari Tuhan. Namun tidak dapat dipungkiri, akibat mereka percaya kepada Tuhan, mereka mendapatkan sesuatu dari Tuhan, tetapi dasar adalah percaya kepada apa yang Tuhan janjikan dan perintahkan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.