SAAT ANDA PERCAYA, MUKJIZAT DAN TANDA-TANDA AJAIB TERJADI

Bahan renungan:

Markus 5:28-29 Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya.

Dunia mengajarkan untuk percaya jika dapat dilihat dan dirasakan. Sedangkan cara Tuhan berbeda. Tuhan mengajarkan, kita akan melihat ketika kita percaya. Itulah adalah definisi dari iman, percaya terlebih dahulu di dalam hati sebelum melihat bukti dengan mata jasmani.

(Baca juga: YESUS MENEBUS DOSA DAN MENANGGUNG SAKIT PENYAKIT KITA)

Saya harap Anda dapat meluangkan waktu untuk membaca keseluruhan kisah mengenai wanita pendarahan di atas. Saat itu, ada banyak orang yang menjamah jubah Yesus, tetapi tidak ada yang terjadi terhadap mereka. Sederhananya, karena mereka tidak menjamah jubah Yesus dengan iman. Sedangkan, ketika si wanita pendarahan selama 12 tahun itu mendekati dan menjamah Yesus, saat itu juga Firman Tuhan mengatakan, ada kuasa yang keluar dari Yesus menyembuhkan si wanita tersebut. Haleluya!

Sesuatu yang wanita itu dengar tentang Yesus membangkitkan imannya dan membuatnya percaya bahwa Yesus sanggup menyembuhkan penyakitnya. Anda lihat, si wanita ini percaya terlebih dahulu kepada Yesus, sebelum melihat mukjizat terjadi pada dirinya.

Tubuhnya masih kesakitan ketika dia berkata, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh,” tetapi dengan imannya dia percaya bahwa Yesus telah memberikan kesembuhan tersebut baginya. Boom, ketika dia memegang jubah Yesus, kesembuhan terjadi.

(Baca juga: STRES ADALAH TANDA YANG ANDA PIKIRKAN BUKAN JALAN KELUAR)

Teman, Tuhan ingin Anda percaya kepada-Nya. Tuhan ingin Anda percaya kepada setiap janji dan perkataan yang telah diucapkan-Nya. Di saat Anda percaya, Anda akan melihat mukjizat dan tanda-tanda ajaib terjadi. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

DOA ORANG PERCAYA TIDAK BERTELE-TELE

Bahan renungan:

Matius 6:7 Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Hari ini saya ingin membahas mengenai cara berdoa orang percaya yang alkitabiah. Ada perbedaan yang sangat jelas antara doa orang percaya dengan doa orang yang tidak percaya. Keduanya menggunakan nama Yesus, tetapi mereka memiliki sikap hati atau motivasi yang berbeda.

(Baca juga: KAPAN WAKTU PALING TEPAT UNTUK BERDOA?)

Doa orang tidak percaya biasanya dilakukan bertele-tele. Firman Tuhan di atas mengatakan doa orang yang bertele-tele biasanya dilakukan karena mereka tidak mengenal Tuhan. Mereka berpikir semakin panjang atau lama kata-kata mereka, semakin manjur doanya.

Doa orang tidak percaya cenderung menjadi ajang menangis dan memohon-mohon seolah Tuhan menahan berkat atau mukjizat dari mereka. Isi doa mereka biasanya didominasi dengan aduan masalah-masalah kepada Tuhan, penyesalan terhadap suatu dosa atau kesalahan tertentu, dan hasilnya tentu saja akan membuat diri mereka semakin depresi. Biasanya doa mereka berisi, “Tuhan tolong …” “Ya Tuhan, kiranya Engkau berkenan …” atau “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi …”

Doa orang percaya yang Alkitab ajarkan tidak seperti itu. Doa orang percaya berisi hal-hal yang penuh dengan pernyataan IMAN, karena mereka percaya bahwa janji Tuhan itu YA dan AMIN. Orang yang percaya kepada janji Tuhan tidak ragu untuk menyatakan imannya. Doa orang percaya biasanya berisi kata-kata, “Tuhan, saya percaya …” “Sekalipun situasi seperti itu, tetapi saya percaya …” atau “Saya tidak takut, karena saya percaya kepada janji-Mu.”

Saya coba ilustrasikan kedua jenis doa ini melalui hubungan orangtua dan anak.

Adalah sesuatu yang langka melihat seorang anak memohon-mohon makanan dari orangtuanya, seolah orangtuanya menahan atau menyembunyikan makanan darinya. Seorang anak yang mengenal baik orangtuanya tidak pernah takut kekurangan makanan. Bahkan, tidak terlintas di pikirannya keraguan akan penyediaan orangtuanya. Sang anak tahu pasti jauh sebelum dia meminta, orangtuanya sudah menyediakan yang terbaik.

(Baca juga: ANDA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR SENDIRIAN)

Kembali ke masalah berdoa. Banyak orang berdoa dengan sikap hati ragu apakah Tuhan akan menjawab doanya atau tidak. Bukan itu sikap hati yang benar saat kita berdoa. Seperti yang saya katakan dalam renungan kemarin, kita berdoa justru karena kita percaya kepada janji Tuhan. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

KAPAN WAKTU PALING TEPAT UNTUK BERDOA?

Bahan renungan:

Markus 11:24 Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.

Berdasarkan ayat di atas, menurut Anda, kapan waktu paling tepat untuk berdoa kepada Tuhan? Banyak orang berdoa kepada Tuhan ketika mereka sedang ketakutan dan kuatir. Atau dengan kata lain, ketika mereka sedang dalam kondisi mendua hati. Apa benar itu waktu paling tepat untuk berdoa?

(Baca juga: ANDA LAYAK DISEMBUHKAN DAN HIDUP SEHAT)

Mari kita lihat apa kata Firman Tuhan mengenai mendua hati.

Yakobus 1:6-8 menjelaskan, “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”

Melalui ayat di atas kita dapat memahami bahwa ada situasi di mana kita tidak dapat menerima dari Tuhan, yaitu ketika hati kita sedang bimbang atau mendua hati. Kita belum menerima bukan karena Tuhan belum memberi, karena Tuhan sudah memberikan segala berkat-Nya 2000 tahun lalu (Efesus 1:3). Kita belum menerima karena hati kita ragu.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan saat kita dalam kondisi takut dan kuatir?”

Satu hal mengenai takut dan kuatir yang mungkin belum pernah Anda dengar. Takut dan kuatir muncul ketika tidak ada iman, ketika kita lupa bahwa janji Tuhan itu Ya dan Amin. Kita tidak dapat mengusir rasa takut dan kuatir kita dengan berdoa. Kita hanya dapat mengusirnya dengan cara menyadari bahwa Tuhan sangat mengasihi kita (1 Yohanes 4:18) dan kembali mengisi pikiran kita dengan janji setia Tuhan (Yesaya 43:1).

Hal yang dapat kita lakukan ketika sedang takut dan kuatir adalah duduk diam merenungkan kebenaran Firman Tuhan. Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Mendengarkan kembali rekaman khotbah, membaca kembali catatan khotbah, merenungkan kembali janji Tuhan, dan mengingat kembali mukjizat-mukjizat yang Tuhan pernah lakukan dapat membangkitkan iman kita.

(Baca juga: DOSA KITA YANG AKAN DATANG SUDAH DIAMPUNI)

Yakobus 5:16 mengatakan, “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Garis bawahi kalimat, “bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya”. Jadi, waktu paling tepat untuk berdoa adalah saat hati kita percaya kepada janji Tuhan, bukan pada saat hati kita dalam ketakutan dan kekuatiran. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

PILIH MANA: PERCAYA JANJI TUHAN ATAU KENYATAAN YANG BURUK?

Bahan renungan:

2 Raja-raja 6:17 Lalu berdoalah Elisa: “Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.” Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Pernahkah Anda berada di dalam sebuah situasi di mana Anda harus memilih antara mempercayai janji Tuhan yang belum kelihatan dan kenyataan pahit yang terlihat jelas dengan mata jasmani Anda?

(Baca juga: ANDA DIBERKATI DI MANA PUN ANDA BERADA)

Situasi di atas pernah dialami oleh bujang Elisa. Matanya melihat bahwa dia dan Elisa dikepung oleh tentara Aram. Menyelisik reaksinya pada ayat 15, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” dapat saya pastikan bahwa sang bujang lebih mempercayai apa yang mata jasmaninya dia lihat daripada janji Tuhan di dalam hatinya.

Di sisi lain, Elisa juga di situ bersama sang bujang. Nyawa Elisa pun terancam seperti halnya sang bujang. Namun Elisa lebih mempercayai janji Tuhan yang ada di dalam hatinya, yang belum kelihatan, dibanding mempercayai mata jasmaninya. Ayat 16 menuliskan pernyataan iman Elisa “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Hebat!

Teman, bagaimana dengan Anda? Mana yang lebih Anda percayai, janji Tuhan yang belum terlihat atau kenyataan yang terlihat?

Kalau Anda perhatikan cerita di atas, Elisa dan bujangnya ada di dalam satu kondisi yang sama, tetapi mereka mempercayai dua hal yang berbeda, sehingga menghasilkan dua respons yang berbeda. Sang bujang mempercayai kenyataan buruk yang dilihat matanya dan hasilnya adalah ketakutan dan kekuatiran, sedangkan sang nabi mempercayai janji Tuhan dan mengabaikan kenyataan buruk yang dilihatnya. Hasilnya adalah iman dan mukjizat.

Saya mengerti bahwa situasi yang terjadi di dalam hidup kita tidak selalu indah. Saya pun mengalami hal tersebut. Namun Anda perlu ingat bahwa Anda memiliki Tuhan yang besar yang memberikan janji kekal bagi Anda. Jika Anda percaya kepada janji Tuhan, justru di tengah hujan badai, Anda dapat melihat pelangi yang indah; di tengah kesesakan, Anda dapat melihat mukjizat dinyatakan.

(Baca juga: HIDUP KARENA PERCAYA, BUKAN KARENA MELIHAT)

Seperti nasihat Elisa kepada bujangnya, “Jangan takut …” Saya pun ingin mengatakan kepada Anda supaya jangan takut, karena yang menyertai Anda jauh lebih besar dari masalah yang Anda hadapi. Peganglah janji Tuhan, dan mulai ucapkan harapan Anda, bukan ketakutan Anda. (penulis: @mistermuryadi)

APAKAH SALAH JIKA KITA MENGHARAPKAN BERKAT DARI TUHAN?

Bahan renungan:

Mazmur 130:3 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!

Beberapa waktu lalu ada beberapa hamba Tuhan yang mengatakan melalui social media bahwa mengharapkan tuaian saat menabur itu salah, karena itu merupakan praktik investasi, bukan memberi.

Mari kita cek kebenarannya sebelum kita memutuskan mana yang sesuai Firman Tuhan, mana yang tidak.

(Baca juga: TUHAN INGIN “MENGENYANGKAN” KITA DENGAN KEBAIKAN-NYA (MAZMUR 91:16))

Dalam 2 Korintus 9:6 Rasul Paulus mengatakan katakan jika kita menabur banyak, kita akan menuai banyak. Ayat ini tidak hanya berbicara mengenai menabur, tetapi juga menuai. Semakin banyak kita menabur, semakin besar tuaian yang dapat kita harapkan.

Jika Tuhan menjanjikan berkat bagi kita, sungguh tidak salah jika kita mengharapkan berkat Tuhan tersebut. Jika Tuhan ingin kita menikmati berkat-Nya, kenapa menolaknya?

“Oh, tetapi ayat di atas berbicara mengenai berharap kepada Tuhan, bukan kepada berkat-Nya?” Tentu saja kita tidak dapat mengharapkan berkat Tuhan kalau kita tidak percaya kepada Tuhan.

Ibrani 11:1 mengatakan iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan. Artinya, kita perlu menaruh pengharapan kita atas dasar iman, atau dengan kata lain, kebenaran Firman Kristus. Di mana ada iman, di sana tumbuh pengharapan.

Saya berikan contoh. Kita tidak dapat mengharapkan berkelimpahan melalui korupsi atau mencuri, karena dasar dari hal tersebut bukan iman kepada Yesus. Namun kita dapat mengharapkan tuaian saat menabur, karena dasar hal tersebut adalah kebenaran Firman Tuhan, seperti yang menjadi ayat renungan kita hari ini.

Satu contoh lagi. Anda tentu ingat kisah si wanita yang mengalami pendarahan 12 tahun. Ketika wanita percaya kepada Yesus dan mulai mendekat kepada Yesus untuk menjamah jumbai jubah-Nya, hal yang berikutnya muncul adalah pengharapan bahwa dia akan sembuh (Matius 9:21).

Apakah lantas salah jika si wanita pendarahan tersebut mengharapkan kesembuhan? Tentu saja tidak, karena dasar pengharapannya adalah percaya kepada Yesus.

(Baca juga: TUHAN MELEPASKAN KITA DARI JERAT (MAZMUR 91:3-4))

Jadi, tidak salah jika kita berharap tuaian besar saat menabur. Tuhan sendiri yang menjanjikannya untuk kita. Justru adalah kesalahan ketika kita menabur tanpa mengharapkan tuaian, karena itu sama artinya kita memberi tanpa beriman kepada janji Tuhan. Roma 14:23 mengatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman adalah dosa. (penulis: @mistermuryadi)

MEMILIH PERCAYA TUHAN VS. MEMILIH JALAN SENDIRI (MAZMUR 91:15)

Bahan renungan:

Mazmur 91:15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.

Perhatikan ayat di atas. Dalam ayat ini dikatakan, “Bila kita berseru …” Berseru yang ditulis dalam ayat ini diambil dari kata Ibrani “qara”, yang artinya mendeklarasikan, memanggil, atau mengundang. 

(Baca juga: TUHAN MENJAGAI ORANG YANG HATINYA MELEKAT KEPADANYA (MAZMUR 91:14))

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai maksud dari ayat di atas, saya inign Anda tahu satu hal tentang Tuhan. Tuhan tidak akan pernah melakukan apa pun di dalam kehidupan Anda tanpa persetujuan Anda. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menerima sesuatu dari Dia. Jika Anda memilih untuk hidup rusak, Tuhan tidak akan memaksa supaya Anda hidup baik. Benar, Tuhan akan mengajak atau menawarkan Anda kehidupan yang baik, tetapi Dia tidak akan pernah memaksa Anda.

Itu sebabnya setiap kali melakukan mukjizat Yesus sering berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Anda dapat melihat pernyataan Yesus mengenai hal itu di dalam Matius 9:22, Lukas 17:19, dan Lukas 18:42. Anda mengerti arti dari pernyataan Yesus itu? Artinya, mukjizat tersebut terjadi karena mereka memutuskan untuk membiarkan Yesus menolong mereka.

Yesus tidak mengatakan, “Iman-Ku telah menyelamatkan engkau.” Kalau demikian, sekalipun orang yang sakit tidak percaya kesembuhan, orang itu akan tetap sembuh. Namun, tidak seperti itu cara Yesus bekerja. Yesus bekerja di dalam hidup kita hanya ketika kita mengijinkan, mengundang, membiarkan, memanggil, atau dengan kata lain, ketika kita percaya kepada-Nya. Dia bukan Tuhan yang memaksakan kehendak.

(Baca juga: PENTING UNTUK MENYADARI BAHWA KITA DIKASIHI (MAZMUR 91:7-8))

Renungan kita hari ini mengajarkan bahwa Tuhan hanya akan menjawab, menyertai, meluputkan, dan memuliakan orang-orang yang berseru kepada Tuhan. Kita dapat mengartikan orang yang berseru itu sebagai orang yang memilih percaya kepada Tuhan. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak percaya? Seperti yang saya katakan di dalam renungan kemarin. Tuhan ingin menyertai dan menjaga semua orang, tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang ingin disertai dan dijagai Tuhan. Ada orang-orang yang memilih jalannya sendiri. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SATU-SATUNYA PENYEBAB TUHAN SEDIH TERHADAP KITA

Bahan renungan:

Yohanes 11:37-40 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Martha, Maria, dan Lazarus adalah sahabat Yesus. Setiap kali melintasi Betania, Yesus selalu meluangkan waktu berkunjung kepada tiga sahabatnya itu. Suatu ketika Lazarus dikabarkan meninggal karena sakit. Seperti kebanyakan orang, Maria dan Marta menangis dengan sangat. Maria tersungkur di depan kaki Yesus dan berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 32).

(Baca juga: DARAH YESUS ADALAH MATERAI PERJANJIAN YANG BARU)

Ketika melihat Maria dan orang-orang di sekitar menangis, ayat 33 mengatakan, ” … maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu.” Kata masygullah artinya kesedihan yang mendalam. Anda pernah melihat orang yang sangat bersedih sampai-sampai tidak dapat meneteskan air mata? Itulah arti kata masygullah. Lalu di ayat 38 sekali lagi dikatakan, “Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu,” setelah beberapa orang mengatakan, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” (ayat 37).

Banyak orang mengira Yesus bersedih karena sahabatnya, Lazarus, meninggal. Padahal bukan itu penyebab Yesus bersedih. Izinkan saya bertanya. Menurut Anda, apakah Yesus tahu Lazarus akan bangkit? Tentu saja. Kalau Anda membaca Yohanes 11:2, seusai mendengar berita kematian Lazarus, Yesus sengaja memperlambat kedatangan-Nya ke kubur Lazarus selama dua hari. Sangat jelas Yesus tidak bersedih karena Lazarus.

Yesus bersedih karena setelah sekian lama Dia menunjukkan tanda-tanda ajaib, masih banyak orang, bahkan orang-orang terdekatnya, seperti Maria dan Marta, yang tidak percaya kepada-Nya. Anda bisa membacanya di ayat 40-42, “Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, SUPAYA MEREKA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

(Baca juga: APAKAH ANDA SUDAH TAHU UNTUK APA ANDA DICIPTAKAN?)

Teman, jika ada hal yang dapat membuat Tuhan sedih, hal tersebut adalah ketidakpercayaan kita kepada-Nya. Ya, itu satu-satunya penyebab Tuhan sedih terhadap kita. (penulis: @mistermuryadi)