ADA SAATNYA HANYA TUHAN YANG DAPAT MENOLONG KITA

Bahan renungan:

Daniel 6:16 Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: “Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!”

Tidak diragukan lagi kalau Daniel adalah seorang pelayan Tuhan yang luar biasa dengan kepintaran di atas rata-rata, bermoral baik, dan berintegritas tinggi. Kita perlu mencontoh hidup Daniel. Namun, ada saatnya hal-hal yang saya sebutkan di atas tidak dapat menolong kita.

(Baca juga: DALAM TAKUT AKAN TUHAN ADA KETENTRAMAN YANG BESAR)

Seperti Daniel. Dia berkelakuan baik, memiliki segudang pengalaman dalam pemerintahan, pintar dalam memecahkan masalah, tetapi ada satu waktu dia dijebak oleh musuh-musuhnya dan dijebloskan ke dalam gua singa akibat menyembah Tuhan, bukan kepada raja. Di dalam gua singa yang kelaparan, kebaikan, integritas, dan moral tidak dapat menyelamatkannya.

Sama halnya dengan kita. Ada saatnya kemampuan, orang terdekat, uang, gelar, atau pengalaman kita tidak dapat menyelamatkan kita. Ada waktunya hanya Tuhan yang dapat menyelamatkan kita.

Itu sebabnya penting bagi kita memiliki hubungan dengan Tuhan. Yang saya maksud, kita mengenal Tuhan yang kita sembah. Daniel mengandalkan Tuhan melebihi kepintaran, moral, dan integritasnya. Daniel tahu sumber kehidupannya bukanlah hal-hal material, melainkan Tuhan semesta alam.

(Baca juga: JANGAN DIAM KETIKA SESEORANG MELONTARKAN KATA-KATA NEGATIF)

Daniel lolos dari gua singa. Tidak ada satu pun singa yang menyentuh Daniel. Saya percaya, hal ajaib tersebut terjadi di luar kemampuan Daniel. Itu karya supranatural dari Tuhan bagi hidup Daniel, yang terjadi karena Daniel memercayai Tuhan lebih dari segalanya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau CommBank (AUS): BSB 062239, Account Number 1030 2575 atas nama Zaldy Muryadi.

PUJI TUHAN, TUHAN TIDAK BEKERJA SESUAI CARA KITA

Bahan renungan:

Yesaya 55:8-9 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah Firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Saya percaya seorang ayah dan ibu yang baik tidak akan membiarkan anaknya terus menerus main dan makan permen. Ayah dan ibu yang baik tentu saja akan merencanakan hal-hal yang baik bagi anaknya, yang terkadang tidak sejalan dengan keinginan atau harapan sang anak.

(Baca juga: TANTANG DIRI ANDA UNTUK LEBIH DALAM BERSAMA TUHAN)

Tuhan sangat mengasihi kita, itu sebabnya Dia tidak bekerja sesuai cara dan pemikiran kita yang seringkali merugikan diri kita sendiri. Dia bukan Tuhan yang berdiam diri membiarkan kita terus menerus melakukan sesuatu yang menyebabkan penderitaan terhadap diri kita sendiri. Dia hidup, Dia akan mencari kita dengan kasih-Nya, menuntun kita kembali ke jalan yang benar, dan memulihkan kita.

Tuhan melihat segala sesuatu di depan yang belum kita lihat. Bagian kita adalah percaya kepada-Nya. Selama kita berjalan bersama Tuhan dan tinggal di dalam kebenaran-Nya, kita tidak perlu pusing terhadap apa yang ada di depan kita, percayakan kepada Tuhan. Dia jauh lebih tahu dan Dia telah persiapkan yang terbaik bagi kita.

(Baca juga: JANGAN LARI DARI MASALAH, HADAPI!)

Yang perlu kita pusingkan adalah apakah hari ini kita mengenal dan percaya kepada-Nya, apakah kita mengandalkan Dia dalam setiap keputusan kita, apakah kita tertanam di dalam kebenaran-Nya. Jika iya, tinggal tenanglah di dalam janji-Nya, biarkan Dia bekerja dengan cara-Nya, sementara bagian kita adalah percaya dan ikut ke mana pun Dia menuntun kita, dan hidupi kebenaran-Nya. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

“WAKTU AKU TAKUT, AKU PERCAYA KEPADAMU”

Bahan renungan:

Mazmur 56:3-4 Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Takut terjadi akibat kita terlalu fokus kepada masalah yang sedang kita hadapi. Takut terjadi karena kita berpikir bahwa masalah lebih kuat daripada Tuhan yang tinggal di dalam hati kita. Takut terjadi pada saat kita menganggap bahwa masalah lebih nyata daripada janji Tuhan bagi hidup kita.

(Baca juga: SAAT DALAM KESESAKAN, JANGAN MENGANDALKAN DIRI SENDIRI)

Adalah hal yang wajar jika kita pernah mengalami takut di dalam hidup kita. Namun, jangan terlena dengan situasi tersebut. Tinggal di dalam ketakutan bukanlah tempat kita sebagai orang percaya. Kita perlu keluar dari sana dengan cara belajar percaya kepada Tuhan, karena hidup dalam iman adalah habibat orang percaya.

Langkah pertama untuk percaya kepada Tuhan adalah mengenal-Nya. Seperti yang sering saya tulis di blog hagahtoday.com bahwa kita baru dapat percaya seseorang jika kita mengenalnya. Begitu juga dengan Tuhan. Kita akan sangat kesulitan untuk memercayai Tuhan jika kita tidak mengenal-Nya. Cara mengenal Tuhan adalah dengan membaca dan merenungkan Firman Tuhan. Karena, Yohanes 1:1 mengatakan bahwa Firman Tuhan adalah Tuhan sendiri. Kita dapat mengenal pribadi, kehendak, dan janji Tuhan melalui Firman-Nya.

Langkah kedua adalah melakukan tindakan berdasarkan apa yang kita percaya. Setelah kita membaca dan merenungkan kebenaran, saya percaya iman kita pasti akan bangkit. Karena, Roma 10:17 mengatakan bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Jadi, bertindaklah berdasarkan apa yang kita percayai dari kebenaran Firman Tuhan. Misalnya kita takut untuk memberi persembahan atau persepuluhan. Setelah kita membaca dan merenungkan bahwa Tuhan memberkati pemberian kita berlipat ganda dan Dia memelihara hidup kita, mulailah bertindak berdasarkan hal tersebut.

(Baca juga: MENGELUH MERUGIKAN HIDUP ANDA)

Jika kita konsisten melakukan kedua langkah tersebut, suatu hari kita akan dengan mudah keluar dari rasa takut. Karena, pada saat rasa takut datang, kita tahu ke mana kita harus berlari dan bersandar, kita tahu bahwa janji Tuhan jauh lebih nyata dari rasa takut kita. (penulis: @mistermuryadi)

TERHADAP TUHAN, JANGAN TERLALU BANYAK PERTIMBANGAN

Bahan renungan:

1 Korintus 15: 32 Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus, apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati”.

Adalah naluri manusia untuk mempertimbangkan segala sesuatu. Mempertimbangkan berdasarkan untung atau rugi, suka atau tidak suka, dan mau atau tidak mau. Tidak ada yang salah dengan mempertimbangkan sesuatu. Amsal 15:22 mencatat, “Rancangan gagal kalau tidak ada pertimbangan, tetapi terlaksana kalau penasihat banyak.”

(Baca juga: KEMAMPUAN KITA UNTUK TINGGAL TENANG SANGAT KRUSIAL)

Namun, yang menjadi masalah adalah ketika sikap mempertimbangkan di atas kita ukurkan kepada Tuhan. Terhadap yang satu itu, yang perlu kita tonjolkan bukan pertimbangan kita, melainkan kepercayaan kita.

Kadang, kita tidak mempertimbangkan jam kerja yang mengganggu waktu ibadah, klien bisnis yang mengajak berbuat curang, sahabat yang tidak membawa kita semakin dekat kepada Yesus, tetapi lama sekali mempertimbangkan untuk sesuatu yang jelas-jelas Firman Tuhan perintahkan.

(Baca juga: CAMPUR TANGAN KITA MEMBUAT MASALAH MAKIN RUNYAM)

Saya ingin mengatakan bahwa kita tidak perlu mempertimbangkan jika Tuhan mengatakan kepada kita untuk meletakkan tangan kepada orang yang sakit, menceritakan kabar baik kepada mereka yang terhilang, menabur dan memberikan persepuluhan. Juga, tidak perlu mempertimbangkan jika Tuhan mengatakan untuk mengampuni dan memberkati orang-orang yang menyakiti kita. Terhadap Tuhan dan kebenaran-Nya, yang perlu kita lakukan adalah mengatakan “YA” tanpa ragu. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi via BCA 7340 12 6160 atau Commonwealth Bank (AUS): BSB 062239, Account Number 10 302 575 atas nama Zaldy Muryadi.

BARANGSIAPA MEMERHATIKAN FIRMAN AKAN MENDAPATKAN KEBAIKAN

Bahan renungan:

Amsal 16:20 Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.

Membicarakan mengenai tinggal di dalam Firman memang tidak ada habisnya. Ada begitu banyak alasan untuk menjadikan tinggal dalam kebenaran Firman Tuhan itu penting bagi kita. Membuat kita menyadari bahwa hidup kita sebagai orang percaya tidak dapat terpisah dari membaca dan merenungkan kebenaran Firman Tuhan.

(Baca juga: MUKJIZAT DARI MENGATAKAN HAL-HAL YANG BAIK)

Salah satu lagi alasan untuk tinggal dalam Firman menurut kitab Amsal adalah, supaya kita mendapatkan kebaikan.

Saya percaya kita menerima kebaikan Tuhan bukan karena kita rajin membaca atau merenungkan Firman Tuhan. Beberapa pengajaran mengatakan jika kita tidak rajin dan tekun dalam Firman, Tuhan akan berhenti memberkati kita. Saya percaya Tuhan tidak seperti itu. Tuhan tidak pernah berhenti memberkati kita, mengejar kita dengan kasih dan kebaikan-Nya. Kitalah yang berhenti memercayai-Nya. Itu alasan utama mengapa kita berhenti menerima kebaikan Tuhan.

Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa satu-satunya cara agar kita dapat menerima apa yang telah Tuhan sediakan adalah melalui iman. Berkali-kali Yesus menyatakan hal ini di dalam pelayanan-Nya, “Imanmu telah menyelamatkanmu.” Atau dengan kata lain, “Imanmu yang telah membuat kamu menerima kebaikan dan kemurahan yang telah Kusediakan bagi kamu.”

Membaca dan merenungkan, atau mengutip kata dari ayat di atas, memperhatikan Firman, membuat kita percaya kepada kebenaran. Di saat kita percaya, kita akan menerima dan menikmati kebaikan Tuhan.

Sungguh, kita tidak dapat memercayai seseorang yang kita tidak tahu atau kenal orang tersebut, akibatnya kita dapat menerima kebaikan dari orang tersebut. Sama halnya dengan Tuhan. Tuhan sangatlah baik dan penuh kasih. Adalah keinginan Tuhan untuk memberkati kita. Namun, bagaimana kita dapat percaya kepada-Nya, yang merupakan kunci untuk menerima kebaikan-Nya, jika kita tidak mengenal dan tidak tahu janji-janji-Nya?

Juga dikatakan oleh ayat di atas, orang-orang yang memerhatikan kebenaran, pasti akan menerima kebaikan-Nya. Dan, semua orang yang menerima kebaikan-Nya pasti akan bahagia. Itu artinya tidak ada hal yang buruk yang Tuhan berikan, hanya yang baik. Jika buruk, tentu saja orang yang menerimanya tidak akan berbahagia.

(Baca juga: JANGAN INGAT LAGI MASA LALU YANG BURUK!)

Tuhan ingin kita bahagia dan menikmati kebaikan-Nya. Jika kita menginginkan hal tersebut, kita perlu memulainya dengan memerhatikan Firman-Nya, menjadikan kebenaran-Nya sebagai tolok ukur dalam memutuskan sesuatu. Semenarik apa pun pemikiran dan perasaan kita, kita perlu menaruh Firman Tuhan di atas semua itu. (penulis: @mistermuryadi)

TUHAN TIDAK MENUNTUT KITA UNTUK JADI ORANG YANG SEMPURNA

Bahan renungan:

Yohanes 14:1 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa, manusia dirundung berbagai kelemahan dan kekurangan. Dosa telah membuat kita tidak sempurna. Meski demikian, Tuhan tetap mengasihi kita. Tuhan mengasihi kita bukan karena kita hebat atau berprestasi, melainkan semata-mata karena kita adalah anak-anak-Nya. Itu saja, tidak ada alasan lain.

(Baca juga: ANAK TUHAN HIDUP SESUAI CARA TUHAN)

Itu sebabnya Tuhan tidak pernah menuntut kita untuk hidup sempurna, tanpa cacat dan cela. Bapa tidak sedang memegang sebuah catatan kecil untuk memperhitungkan setiap kali perilaku atau keputusan kita yang buruk. Tuhan tahu kita memiliki banyak kelemahan dan kekurangan dalam hidup kita yang memerlukan proses dan waktu untuk memperbaikinya. Dan lagi-lagi, meski demikian, Tuhan tetap mengasihi kita.

Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, Dia mencari orang yang mau percaya kepada-Nya. Jika Tuhan mencari orang yang sempurna atau mendekati sempurna, tentu Yesus tidak akan mendekatkan diri kepada para pendosa, pelacur, dan pemungut cukai.

Ada benang merah di antara para pendosa, pelacur, dan pemungut cukai yang Yesus hampiri, yaitu mereka bukanlah orang-orang yang sempurna, tetapi mereka memilih percaya kepada Yesus.

Teman, jika Anda merasa telah banyak berbuat kesalahan, dosa, atau kebodohan, jangan menjauh dari Tuhan. Mungkin Anda berpikir, “Saya bukanlah orang yang sempurna, Tuhan pasti tidak menerima saya.” Anda keliru. Tuhan tidak melihat kepada seberapa sempurnanya Anda, Dia melihat kepada seberapa percayanya Anda kepada-Nya.

(Baca juga: JANGAN BIARKAN IBLIS MERAMPAS DAMAI DAN SUKACITA ANDA)

Dalam 2 Tawarikh 16:9 dikatakan, “Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.” Kata “bersungguh hati” di situ bukanlah hidup tidak bercacat cela, tanpa dosa, dan sempurna. Dalam versi King James Inggris dicatat, ” … whose heart is perfect toward Him,” atau dengan lain, yang hati atau imannya sungguh-sungguh mengarah kepada-Nya. Pada saat kita mempersembahkan hati kita kepada Tuhan, jiwa dan tubuh kita dengan sendiri akan meninggalkan dari dosa, perlahan tapi pasti. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

RESPONS RAJA YOSAFAT DI TENGAH TEKANAN

Bahan renungan:

2 Tawarikh 20:3 Yosafat menjadi takut, lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.

Apa yang terjadi dengan Yosafat mungkin mewakili sebagian besar dari kita. Kita mengalami masalah dan tekanan yang membuat kita takut dan kuatir. Ya, hampir semua kita pernah mengalami hal tersebut. Namun, yang terpenting adalah apa respons kita?

(Baca juga: TUHAN MAMPU DAN MAU MENYEMBUHKAN KITA)

Banyak orang mengambil respons marah, putus asa, kecewa, sakit hati, mundur dari Tuhan, menyendiri, dan lain sebagainya, tetapi Yosafat berbeda. Di tengah masalah yang taruhannya adalah nyawa banyak orang, dia mengambil sebuah keputusan yang sangat tepat, yaitu mencari Tuhan. Wow!

Dalam kisah di atas, Yosafat sedang diserang oleh bani Moab dan Amon. Bukannya memikirkan strategi perang atau cara menyelamatkan diri, Yosafat malah menyerukan kepada seluruh Yehuda untuk berpuasa.

Mungkin jika saya berada di posisi Yosafat, berpuasa bukanlah pilihan bagi saya. Tetapi, Tuhan berkata lain, dan Yosafat memilih untuk percaya kepada Tuhan. Sekali lagi, sungguh keputusan yang sangat tepat. Jika kita membaca keseluruhan cerita perang di atas, Yehuda keluar sebagai pemenangnya tanpa sedikit pun bersusah payah.

Apa yang dapat kita pelajari dari kisah di atas?

Bagi saya, sepenggal kisah tentang Yosafat di atas berbicara mengenai betapa pentingnya kita mengandalkan Tuhan di dalam setiap keadaan. Terkadang, mungkin menurut pemikiran kita, cara Tuhan terkesan aneh atau tidak masuk akal, tetapi percayalah, jika Tuhan yang mengatakannya, itu pasti cara terbaik, teraman, dan tercepat bagi kita.

(Baca juga: YESUS TELAH MENGHANCURKAN KUTUK KETURUNAN)

Seperti Yosafat, tidak sedikit pun dia meragukan Tuhan. Sementara musuh-musuhnya bernapsu menghancurkan Yehuda, Yosafat dan seluruh suku Yehuda malah berpuasa, mengikuti apa yang Tuhan katakan. Luar biasa! (penulis: @mistermuryadi)

= = = = =

Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda dapat memberikan donasi ke: BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.