CARA MENGATASI KRISIS: TUHAN TANGGUNG BAGIAN TERBERATNYA (bagian 04)

Bahan renungan:

Keluaran 14:21 Lalu Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, dan semalam-malaman itu TUHAN menguakkan air laut dengan perantaraan angin timur yang keras, membuat laut itu menjadi tanah kering; maka terbelahlah air itu.

Apakah Anda pernah mendengar istilah “do your best and GOD will do the rest”? Menurut saya istilah ini tidak tepat. Saya lebih suka mengatakannya begini, “God always does the best, therefore we can rest in HIM.” Hanya pada saat kita menyadari bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Bapa yang baik, kita dapat tinggal tenang di dalam Dia. Itu yang membuat sekalipun ada Laut Merah yang membentang, kita tidak ketakutan, karena kita tahu yang bersama-sama dengan kita adalah Bapa yang baik yang tidak pernah merancangkan yang buruk bagi anak-anak-Nya.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: LIHATLAH KESELAMATAN DARI TUHAN (bagian 03))

Ini adalah bagian terakhir dari renungan kita yang bertema CARA MENGATASI KRISIS. Jika ini pertama kalinya Anda membaca hagahtoday.com, saya menyarankan Anda membaca dari bagian pertama.

Seperti yang kita ketahui, setelah Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, laut itu terbelah. Teman, sepertinya saya tidak perlu memberitahu Anda bahwa yang membelah laut bukan Musa, melainkan Tuhan. Anda dapat melihat bahwa dalam masalah Musa, Tuhan yang mengambil bagian terberatnya. Menurut Anda mana yang lebih mudah bagi Musa, mengulurkan tangan atau membelah lautan? Tentu saja mengulurkan tangan.

Ayat di atas jelas mengatakan Musa hanya mengulurkan tangan, tanda Dia percaya kepada Tuhan, sementara Tuhan membelah lautan.

Teman, perlu Anda sadari, Anda tidak sendirian di saat krisis datang, Tuhan senantiasa ada bersama-sama Anda. Dan, berita sukacitanya adalah DIA menanggung bagian terberat untuk Anda. Firman Tuhan katakan Dia yang berperang bagi kita dan kita hanya akan diam saja (Keluaran 14:14). Filipi 4:13 mengatakan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Saya percaya tidak ada satu pun masalah yang terlalu besar jika Anda melewatinya bersama-sama TUHAN.

Mari kita lanjutkan kisah di atas sedikit lagi.

Keluaran 14:22 berkata, “Demikianlah orang Israel berjalan dari tengah-tengah laut di tempat kering; sedang di kiri dan di kanan mereka air itu sebagai tembok bagi mereka.” Garis bawahi kata “di tempat kering.” Saat ini saya sedang membayangkan sebuah karpet merah panjang, seperti yang terdapat di ajang Oscar, yang khusus disiapkan Tuhan bagi Bangsa Israel saat mereka melintasi Laut Merah. Saya yakin ini bukan jalan keluar ala kadarnya, tetapi jalan keluar terbaik yang Tuhan persiapkan bagi anak-anak-Nya.

Untuk menggelitik imajinasi Anda, saya paparkan sedikit informasi mengenai Laut Merah. Laut Merah, atau juga disebut Laut Teberau, memisahkan benua Asia dan Afrika. Panjang laut ini 1900 km dengan jarak terlebar sejauh 300 km, dan dan titik terdalam 2500 m. Wow! Tentu saja ini bukan jarak yang dapat ditempuh dalam waktu satu hari dengan berjalan kaki. Saya membayangkan perjalanan mereka melintasi Laut Merah penuh sorak sorai, tari-tarian, nyanyian, dan sesekali mereka berhenti memandang kagum aquarium raksasa berisi ikan-ikan besar di kanan kiri mereka, dan sama sekali tidak ada genangan air di bawah kaki mereka. Oh, sungguh menakjubkan!

Jika Anda menyadari Bapa di Sorga yang baik itu selalu bersama Anda, krisis atau masalah sebesar apa pun bukanlah sesuatu yang harus Anda lalui dengan stres, depresi, ketakutan, dan penuh kekuatiran. Sebaliknya, Anda dapat melewatinya dengan tenang, damai, dan penuh sukacita. Firman Tuhan telah mengatakan bahwa bersama Yesus, Anda lebih dari pemenang.

(Baca juga: CARA MENGATASI KRISIS: JANGAN TAKUT (bagian 01))

Ijinkan saya mengutip ayat ini sekali lagi, “Janganlah takut, berdirilah tetap, dan lihatlah keselamatan dari Tuhan, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu ..” Haleluya! (penulis: @mistermuryadi)

YUSUF MENJADI PENGUASA ATAS ORANG NOMOR SATU DI MESIR

Bahan renungan:

Kejadian 45:8b … Dialah yang telah menempatkan aku sebagai bapa bagi Firaun dan tuan atas seluruh istananya dan sebagai kuasa atas seluruh tanah Mesir.

Yusuf memang bukan orang nomor satu di Mesir, tetapi Yusuf adalah orang yang menguasai orang nomor satu Mesir. Menurut Anda, mana yang lebih hebat di antara kedua jabatan tersebut?

(Baca juga: BERTUMBUHLAH DALAM KASIH KARUNIA DAN PENGENALAN AKAN YESUS)

Saya percaya tidak banyak di antara kita yang pernah mengalami seperti yang Yusuf alami. Yusuf dibuang oleh saudara-saudaranya, Yusuf menjadi budak, dan Yusuf dipenjara. Yusuf melewati semua proses tersebut bersama-sama dengan Tuhan.

Tunggu sebentar. Saya tidak ingin Anda berpikir bahwa Tuhan ingin memproses Yusuf, sehingga Tuhan membuat Yusuf menderita. Bukan, bukan Tuhan yang merencanakan hal tersebut terjadi dalam hidup Yusuf. Yusuf menderita akibat ulahnya sendiri. Akibat perkataan yang “terlalu tinggi”. Anda dapat membacanya di Kejadian 37:6-11 saat Yusuf mengatakan bahwa keluarganya akan sujud menyembah dia di waktu yang tidak tepat.

Meksi demikian, tidak sekalipun Tuhan meninggalkan Yusuf. Firman Tuhan katakan dalam Kejadian 39:21, “Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya …” Yusuf menyadari hal tersebut bahwa Tuhan adalah sumber kehidupannya, dan dia pun perlahan mulai mengubah hidupnya.

Berikut adalah perubahan yang terjadi di dalam hidup Yusuf. Pertama kali Yusuf bermimpi dan menceritakan mimpi tersebut kepada keluarganya, tidak sekalipun Yusuf menyebut nama Tuhan. Saya berasumsi Yusuf menceritakan mimpi tersebut dengan dagu terangkat sambil tersenyum sinis merendahkan keluarganya. Belasan tahun setelah itu, Yusuf menyadari kesalahannya dan mengubah karakternya.

Dalam Kejadian 40:8, ketika menerangkan mimpi juru minuman dan juru roti, Yusuf mengatakan, “Allah yang menerangkan mimpi.” Juga dalam Kejadian 41:16, ketika mengartikan mimpi Firaun, Yusuf berkata, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah …”

Teman, mungkin hari ini Anda sedang mengalami penderitaan seperti Yusuf. Penderitaan yang Anda sebabkan sendiri. Namun jangan takut, saya ingin Anda tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan Anda dan Tuhan tidak pernah menyerah terhadap Anda. Dia ingin mengangkat, memulihkan, dan memberkati Anda. Dia ingin mengubah yang buruk dalam hidup Anda menjadi indah.

(Baca juga: FIRMAN TUHAN ADALAH GPS TERBAIK)

Sama seperti Yusuf, maukah Anda menyadari kesalahan Anda, mengubah haluan hidup Anda, dan kembali kepada-Nya? Maukah Anda mulai melibatkan Tuhan dalam segala keputusan Anda? Maukah Anda mulai meninggalkan pergaulan yang buruk, berhenti mendengar informasi yang salah, dan mulai mengarahkan pandangan Anda kepada kebenaran Firman Tuhan? (penulis: @mistermuryadi)

MEMILIH PERCAYA TUHAN VS. MEMILIH JALAN SENDIRI (MAZMUR 91:15)

Bahan renungan:

Mazmur 91:15 Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya.

Perhatikan ayat di atas. Dalam ayat ini dikatakan, “Bila kita berseru …” Berseru yang ditulis dalam ayat ini diambil dari kata Ibrani “qara”, yang artinya mendeklarasikan, memanggil, atau mengundang. 

(Baca juga: TUHAN MENJAGAI ORANG YANG HATINYA MELEKAT KEPADANYA (MAZMUR 91:14))

Sebelum kita membahas lebih lanjut mengenai maksud dari ayat di atas, saya inign Anda tahu satu hal tentang Tuhan. Tuhan tidak akan pernah melakukan apa pun di dalam kehidupan Anda tanpa persetujuan Anda. Tuhan tidak pernah memaksa kita untuk menerima sesuatu dari Dia. Jika Anda memilih untuk hidup rusak, Tuhan tidak akan memaksa supaya Anda hidup baik. Benar, Tuhan akan mengajak atau menawarkan Anda kehidupan yang baik, tetapi Dia tidak akan pernah memaksa Anda.

Itu sebabnya setiap kali melakukan mukjizat Yesus sering berkata, “Imanmu telah menyelamatkan engkau.” Anda dapat melihat pernyataan Yesus mengenai hal itu di dalam Matius 9:22, Lukas 17:19, dan Lukas 18:42. Anda mengerti arti dari pernyataan Yesus itu? Artinya, mukjizat tersebut terjadi karena mereka memutuskan untuk membiarkan Yesus menolong mereka.

Yesus tidak mengatakan, “Iman-Ku telah menyelamatkan engkau.” Kalau demikian, sekalipun orang yang sakit tidak percaya kesembuhan, orang itu akan tetap sembuh. Namun, tidak seperti itu cara Yesus bekerja. Yesus bekerja di dalam hidup kita hanya ketika kita mengijinkan, mengundang, membiarkan, memanggil, atau dengan kata lain, ketika kita percaya kepada-Nya. Dia bukan Tuhan yang memaksakan kehendak.

(Baca juga: PENTING UNTUK MENYADARI BAHWA KITA DIKASIHI (MAZMUR 91:7-8))

Renungan kita hari ini mengajarkan bahwa Tuhan hanya akan menjawab, menyertai, meluputkan, dan memuliakan orang-orang yang berseru kepada Tuhan. Kita dapat mengartikan orang yang berseru itu sebagai orang yang memilih percaya kepada Tuhan. Lalu, bagaimana dengan orang yang tidak percaya? Seperti yang saya katakan di dalam renungan kemarin. Tuhan ingin menyertai dan menjaga semua orang, tetapi pada kenyataannya, tidak semua orang ingin disertai dan dijagai Tuhan. Ada orang-orang yang memilih jalannya sendiri. (penulis: @mistermuryadi)

= = = = = = = = = = = = = =

Semua materi di blog ini saya berikan cuma-cuma bagi para pembaca setia hagahtoday.com. Jika blog ini memberkati Anda, pertimbangkanlah untuk menabur. Anda bisa memberikan donasi ke:
BCA 7340 12 6160 a/n Zaldy Muryadi.

SATU-SATUNYA PENYEBAB TUHAN SEDIH TERHADAP KITA

Bahan renungan:

Yohanes 11:37-40 Tetapi beberapa orang di antaranya berkata: “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu. Kubur itu adalah sebuah gua yang ditutup dengan batu. Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?”

Martha, Maria, dan Lazarus adalah sahabat Yesus. Setiap kali melintasi Betania, Yesus selalu meluangkan waktu berkunjung kepada tiga sahabatnya itu. Suatu ketika Lazarus dikabarkan meninggal karena sakit. Seperti kebanyakan orang, Maria dan Marta menangis dengan sangat. Maria tersungkur di depan kaki Yesus dan berkata, “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati” (ayat 32).

(Baca juga: DARAH YESUS ADALAH MATERAI PERJANJIAN YANG BARU)

Ketika melihat Maria dan orang-orang di sekitar menangis, ayat 33 mengatakan, ” … maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu.” Kata masygullah artinya kesedihan yang mendalam. Anda pernah melihat orang yang sangat bersedih sampai-sampai tidak dapat meneteskan air mata? Itulah arti kata masygullah. Lalu di ayat 38 sekali lagi dikatakan, “Maka masygullah pula hati Yesus, lalu Ia pergi ke kubur itu,” setelah beberapa orang mengatakan, “Ia yang memelekkan mata orang buta, tidak sanggupkah Ia bertindak, sehingga orang ini tidak mati?” (ayat 37).

Banyak orang mengira Yesus bersedih karena sahabatnya, Lazarus, meninggal. Padahal bukan itu penyebab Yesus bersedih. Izinkan saya bertanya. Menurut Anda, apakah Yesus tahu Lazarus akan bangkit? Tentu saja. Kalau Anda membaca Yohanes 11:2, seusai mendengar berita kematian Lazarus, Yesus sengaja memperlambat kedatangan-Nya ke kubur Lazarus selama dua hari. Sangat jelas Yesus tidak bersedih karena Lazarus.

Yesus bersedih karena setelah sekian lama Dia menunjukkan tanda-tanda ajaib, masih banyak orang, bahkan orang-orang terdekatnya, seperti Maria dan Marta, yang tidak percaya kepada-Nya. Anda bisa membacanya di ayat 40-42, “Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Maka mereka mengangkat batu itu. Lalu Yesus menengadah ke atas dan berkata: “Bapa, Aku mengucap syukur kepada-Mu, karena Engkau telah mendengarkan Aku. Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, SUPAYA MEREKA PERCAYA, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”

(Baca juga: APAKAH ANDA SUDAH TAHU UNTUK APA ANDA DICIPTAKAN?)

Teman, jika ada hal yang dapat membuat Tuhan sedih, hal tersebut adalah ketidakpercayaan kita kepada-Nya. Ya, itu satu-satunya penyebab Tuhan sedih terhadap kita. (penulis: @mistermuryadi)

IMAN TOMAS: MENGENAL YESUS, TETAPI TIDAK MEMPERCAYAI-NYA

Bahan renungan:

Yohanes 20:27 Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.”

Selama tiga tahun Tomas bersama-sama dengan Yesus. Tomas mengenal Yesus, Tomas tahu segala mukjizat yang Yesus lakukan, Tomas menyaksikan nubuatan demi nubuatan tentang Yesus digenapi, Tomas juga melihat bahwa semua yang Yesus katakan itu benar adanya. Namun ketika Yesus bangkit, Tomas tidak mempercayai-Nya.

(Baca juga: FIRMAN TUHAN ITU JALAN KELUAR ATAU BEBAN?)

Banyak orang memiliki iman seperti Tomas, mereka mengenal Yesus, tetapi tidak mempercayai-Nya. Sudah mengalami banyak mukjizat dan pertolongan, tetapi tetap tidak mempercayai-Nya.

Melalui Firman Tuhan kita mengetahui bahwa Tuhan itu baik dan Dia hanya merancangkan yang baik bagi anak-anak-Nya. Juga, kita mengetahui bahwa Tuhan ingin kita sukses, diberkati, sehat, dan berumur panjang. Melalui Firman Tuhan kita mengenal Pribadi-Nya, rencana-Nya, dan kehendak-Nya bagi kita. Bagian kita saat ini adalah mempercayai-Nya.

Teman, mengenal dan percaya adalah dua hal yang berbeda.

Anda dapat mengenal seseorang, mengetahui seluk beluk orang tersebut, tetapi belum tentu Anda mempercayainya. Percaya atau tidaknya Anda terhadap seseorang atau terhadap Tuhan merupakan kehendak bebas Anda. Pengenalan Anda terhadap seseorang atau terhadap Tuhan hanya membantu Anda untuk membuat keputusan apakah Anda mau mempercayainya atau tidak.

Bagi saya, sungguh tidak sulit untuk percaya kepada Tuhan. Reputasi-Nya sebagai Tuhan yang penuh kasih dan pengampunan telah teruji dan terbukti.

Hanya saja terkadang saya bingung dengan orang-orang yang mengenal Tuhan, tetapi tidak mempercayai janji-Nya. Saya berikan ilustrasi. Anggaplah Anda ingin liburan ke Bali menggunakan pesawat. Pernahkah Anda mencari tahu seluk beluk sang pilot atau berkenalan terlebih dahulu dengannya? Saya yakin kebanyakan kita tidak melakukan hal tersebut. Namun, Anda mempercayakan hidup Anda sepenuhnya kepada sang pilot yang tidak Anda kenal, yang bahkan wajahnya tidak pernah lihat sama sekali. Anda percaya kepada sang pilot ketika dia meminta Anda untuk mengenakan atau melepas tali pengaman kursi. Anda percaya kepada sang pilot ketika dia meminta Anda duduk dan tidak ke toilet untuk sementara waktu.

(Baca juga: RENCANA TUHAN JAUH LEBIH BAIK DARI RENCANA TERBAIK KITA)

Jika demikian mengapa kepada Tuhan yang Anda kenal di dalam nama Yesus, yang telah memberikan Diri-Nya sebagai ganti Anda di kayu salib, yang menebus seluruh dosa dan pelanggaran Anda, sulit untuk Anda percayai? Tidakkah seharusnya lebih mudah untuk percaya kepada Tuhan? (penulis: @mistermuryadi)

CUKUP SATU BATU UNTUK SATU RAKSASA

Bahan renungan:

1 Smauel 17:49 Lalu Daud memasukkan tangannya dalam kantungnya, diambilnyalah sebuah batu dari dalamnya, diumbannya, maka kenalah dahi orang Filistin itu, sehingga batu itu terbenam ke dalam dahinya, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah.

Saya beberapa kali bermain berburu tikus dengan senapan angin. Bagian tikus yang paling sering saya incar adalah tubuhnya. Tubuh adalah bagian paling besar, sehingga kemungkinan saya meleset lebih kecil. Pernah saya mencoba mengincar bagian kepala, tetapi karena sering meleset, lama kelamaan saya jadi kurang percaya diri mengincar bagian tersebut.

(Baca juga: FORMULA SUKSES DALAM TUHAN)

Teman, tahukah Anda bahwa reaksi kita hanyalah refleksi dari apa yang kita percayai dan pikirkan? Contohnya seperti kasus saya di atas. Karena saya berpikir akan meleset, atau dengan kata lain, karena saya tidak percaya bahwa tembakan saya dapat mengenai kepala tikus, itu sebabnya saya mengincar bagian tubuhnya.

Mari kita bahas mengenai kisah Daud dan Goliat.

Daud adalah orang yang sangat percaya diri. Namun, percaya diri Daud berbeda dengan percaya diri kebanyakan orang. Kepercayaan diri Daud bukan pada kemampuannya memainkan umban, melainkan pada Tuhan semesta alam. Daud memiliki percaya diri yang tinggi sehingga dia berani menantang Goliat. Daud tahu sekali bahwa Tuhan yang dia sembah tidak akan meninggalkan dia. Inilah yang membuat Daud begitu tenang melenggang masuk ke medan perang dan mengincar dahi Goliat hanya bermodalkan umban dan batu. Daud tidak sedikit pun ragu batunya akan meleset, karena dia sangat yakin bahwa Tuhanlah yang berperang di depan dia.

(Baca juga: KETIKA GODAAN DATANG, APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?)

Teman, Anda dan saya adalah anak kesayangan Tuhan. Begitulah Tuhan memandang orang-orang yang percaya kepada Yesus. Tidak ada hal yang Anda lakukan yang dapat mengubah kebenaran tersebut. Kita perlu percaya diri saat menyebut diri kita anak kesayangan Tuhan. Kita perlu percaya diri mengatakan bahwa masa depan kita indah di dalam Tuhan, bisnis kita pasti berhasil, dan pekerjaan kita pasti sukses. Karena memang itulah yang Tuhan rancangkan untuk hidup Anda. (penulis: @mistermuryadi)

DALAM PERKARA UANG, ANDA DIIJINKAN UNTUK MENGUJI TUHAN

Bahan renungan:

Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Sampai hari ini saya belum menemukan ayat lain yang secara terang-terangan menganjurkan kita menguji TUHAN, selain ayat di atas. Pada beberapa ayat lain, justru kita tidak boleh mencobai atau menguji Tuhan. Namun, untuk perkara uang, entah kenapa Firman Tuhan seolah menantang kita untuk menguji-Nya.

(Baca juga: MENGENAL MEFIBOSET SI TIMPANG)

Bagi saya, ayat ini memperlihatkan betapa seriusnya Tuhan ingin membuktikan janji kelimpahan untuk setiap orang percaya. Teman, tahukah Anda bahwa Alkitab lebih banyak membahas masalah keuangan dibandingkan masalah lainnya? Ya, Tuhan tahu bahwa uang adalah persoalan besar bagi kebanyakan orang, itu sebabnya Dia memberikan banyak janji mengenal hal itu, supaya kita tidak takut atau kuatir terhadap uang.

Mempercayakan keuangan kepada Tuhan adalah keputusan masing-masing orang. Saya tidak bisa membuat Anda melakukannya. Yang dapat saya lakukan adalah menyampaikan kebenaran, berusaha menyakinkan Anda, dan berharap Anda mempercayainya. Namun, keputusan ada di tangan Anda.

Mungkin banyaknya pengajaran tentang uang membuat Anda bingung harus mempercayai yang mana. Itu alasannya, Firman Tuhan mengatakan, “Ujilah Aku …”

Saya dan istri, beberapa kali menguras tabungan, memberikannya kepada gereja Tuhan. Saya merasa tertantang untuk menguji kebenaran ini. Jumlahnya memang tidak banyak, tapi kami berikan seluruh yang kami miliki. Ya, awalnya ada rasa takut dan kuatir, tapi setelah beberapa kali melakukannya, saya dan istri mulai terbiasa. Hasilnya, sampai hari ini, kami tidak pernah kekurangan, bahkan dalam banyak hal kami menikmati kelimpahan.

(Baca juga: BIJAKLAH MENGGUNAKAN GAJI KITA)

Bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda penasaran terhadap janji yang satu ini? Bahwa Tuhan janjkan kelimpahan untuk Anda. Anda dapat membuktikannya jika Anda mau. (penulis: @mistermuryadi)